Header Ads

Integritas Luber Jurdil Pemilu 2024 di Media Sosial

 Screenshot_2024_0221_215601.png

Animasi Proses Pemilihan Umum 2024. (Sumber: Freepik.com)

Pemilihan Umum (Pemilu) adalah tonggak pelaksanaan demokrasi negara Indonesia. Setiap warga negara memiliki hak untuk memberikan suara dengan bebas tanpa adanya campur tangan dan tekanan dari pihak manapun. Tantangan terbesar yang dihadapi dalam penyelenggaraan pemilu salah satunya adalah mempertahankan integritas pemilu ketika menghadapi situasi politik yang kian memanas. Menjaga harga diri asas Pemilu Luber Jurdil (Langsung, Umum, Bebas, Rahasia, Jujur, dan Adil) menjadi suatu kunci dalam membangun pemerintahan yang sah, adil, serta bersih.

Dilaksanakan pada tanggal 14 Februari 2024, pemilu tahun ini memperoleh perhatian dari banyak masyarakat, sebelum hingga setelah berlangsungnya kegiatan. Di tengah dinamika politik yang semakin kompleks, kondusifitas proses pemilihan merupakan prioritas utama. Menurut Khuswatun Khasanah, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta pemilu 2024 tidak bisa hanya dilihat dari hasil semata, melainkan juga dari prosesnya.

“Jika melihat pemilu saat ini terdapat banyak dimensi, pertama dimensi yang melibatkan anak muda dilihat dari segi elektoral kepartaian, dinamikanya sangat tinggi dan sangat sulit ditebak. Kedua adalah soal etika politik itu sendiri, isunya santer muncul di pemilu 2024 saat ini,"jelas Khuswatun. Menurutnya pemilu 2024 tidak bisa hanya dilihat dari hasil saja, tetapi juga dari prosesnya

Peningkatan penggunaan teknologi serta media sosial seolah memberikan ancaman yang semakin nyata bagi integritas dan keamanan pemilu. Serangan cyber, disinformasi, dan kampanye hitam menuntut adanya sebuah tindakan proaktif dari pihak pelaksana pemilu.

Khuswatun menjelaskan media sosial merupakan tools yang memudahkan banyak orang untuk berkampanye. "Pada pemilu 2014, media yang baru muncul masih lebih sederhana. Tahun 2019 dan 2024 pemanfaatan media sosial seperti alat tempur yang paling murah, dan penyebarannya lebih masif untuk saling mengkampanyekan diri,"ujarnya. Ia menambahkan kehadiran buzzer, yang bersembunyi di balik akun anonimitas membuat situasi jelang pemilu 2024 makin memanas. Aktivitas digital anak muda di X, instagram, dan tiktok perlahan menjadi bagian penting dari pemilu.

Dalam pemilu 2024, muncul sebuah pertanyaan besar: mampukah kita mewujudkan integritas luber jurdil bangsa Indonesia? Keraguan ini bukan tanpa alasan. Adanya hinaan, cacian, hoaks, dan provokasi di sosial media yang saling menyerang pihak satu dengan pihak lainnya, dikhawatirkan dapat mencederai proses demokrasi yang sehat serta memicu polarisasi dalam masyarakat. 

Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga Mahasiswa (BEM KM) Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, Anas Robbani turut angkat bicara. Menurutnya pemilu 2024 cukup berbeda dari sebelum-sebelumnya. Secara transparansi, mayoritas orang sudah mulai peduli dengan proses pemilihan umum tahun ini. Bahkan ikut mengawal prosesnya dari sebelum, saat pemilihan, hingga setelah pemilu berlangsung. 

“Proses pemilu bukanlah proses yang sederhana. Proses pemilu memang punya jangka waktu yang pendek, waktu pemilihannya saja hanya satu hari. Prosesnya memang pendek tapi dampak yang dihasilkan amat besar,” jelas Anas.

Pemilu bukan hanya menentukan siapa yang akan memimpin, tetapi juga tentang bagaimana kita sebagai bangsa dapat mempertahankan integritas demokrasi."Saya berharap bahwa pemenang sejati adalah rakyat,"tutup Anas. (Meisya Shalena Rezmawati)

Editor : Ibrahim Febriyanto


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.