Header Ads

LSS Lakukan Diskusi Kupas Akar Kekerasan Seksual

 

Suasana diskusi Akar Kekerasan Seksual. (Sumber: Erlysta Mafa Azhary)

Yogyakarta, Sikap – Diskusi “Akar Kekerasan Seksual” yang diadakan forum Lingkar Studi Sosialis (LSS) dihadiri oleh mahasiswa dari beberapa universitas di Yogyakarta. Acara ini digelar di selasar Grha Sabha Pramana  (GSP) Universitas Gadjah Mada (UGM), Senin (27/2/2024). 

Diskusi ini bertujuan untuk  memberikan kesadaran dan gambaran bahwa persoalan kekerasan seksual bukan hanya dilihat dari persoalan nafsu dan pakaian semata. Namun, terdapat persoalan konstruksi sosial yang dihadirkan oleh masyarakat per kelas. 

Banyak narasi yang beredar bahwa kekerasan seksual dilakukan oleh laki-laki terhadap perempuan. Akan tetapi, berdasarkan hasil forum “Akar Kekerasan Seksual” disebutkan bahwa kasus kekerasan seksual tidak memandang gender, sebab dapat menimpa perempuan maupun laki-laki. 

Esty Pratiwi Lubarman, Mahasiswi Magister Ilmu Sastra UGM menanggapi diskusi ini. Ia menjelaskan bahwa pembahasan kekerasan seksual tidak dibongkar secara lebih progresif. "Banyak yang mengatakan munculnya kekerasan seksual dipengaruhi ideologi patriarki, saya pikir letaknya bukan di sana tapi kaitannya ada pada bagaimana sistem kapitalisme yang masih membelenggu kita hingga hari ini,” ungkap Esty.

“Adanya diskusi mengenai akar kekerasan seksual ini sangatlah menarik, karena masifnya kekerasan seksual tidak pernah diselesaikan oleh pemerintah dan adanya diskusi ini sebagai langkah konkrit agar kesadaran dibangun bahwa kekerasan seksual dapat terjadi kepada siapapun,” sambungnya.

Penanggung jawab Diskusi “Akar Kekerasan Seksual” Nurlaili berharap bahwa setelah diadakannya diskusi ini terjadi peningkatan kesadaran terkait kekerasan seksual. "Tentu saja yang pertama mungkin pada kemajuan kesadaran teman-teman terkait persoalan tersebut dan bisa lebih aware lagi terhadap isu kesetaraan gender serta kekerasan seksual,"ujarnya.

Ia berharap mahasiswa punya kesadaran dan keberanian untuk menyuarakan aspirasi terkait kekerasan seksual, karena punya privilege lebih dalam hal pendidikan. (Nur Khasanah)

 

Editor: Ikhsan Fatkhurrohman Dahlan


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.