Diskusi Publik Soroti Peran Militer pada Ruang Sipil di Pentagon FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta

Pembicara dalam Diskusi Publik dengan Tema Membongkar Tabir Militerisme: Pukul Balik ke Barak! (Sumber: Bintang Adinda Saputri)
Yogyakarta, Sikap – Diskusi publik bertajuk “Membongkar Tabir Militerisme: Pukul Balik ke Barak!” digelar di Pentagon Kampus 2 UPN “Veteran” Yogyakarta pada 13 Mei 2026. Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah mahasiswa, aktivis, dan masyarakat sipil. Dalam Forum diskusi ini menyoroti dominasi militer dalam ruang sipil dan menegaskan tuntutan agar militer kembali ke fungsi utama sebagai penjaga pertahanan dan keamanan negara.
Dalam forum diskusi ini diisi oleh tiga pembicara, yakni Timur dari Balairung UGM, Risyad selaku BEM KM UPN “Veteran” Yogyakarta, dan Yahya selaku aktivis KontraS. Ketiga pembicara menyampaikan pandangannya masing-masing mengenai isu dominasi militer saat ini.
Timur selaku aktivis dari Balairung UGM menyampaikan bahwa kasus yang terjadi kemarin bukan sebuah fenomena biasa. “Bagaimana kita harus mendesak supaya tentara tidak mengintervensi masyarakat sipil dan dengan ini mungkin kita langsung sadar bahwa apa yang terjadi pada negeri Indonesia kemarin itu tidak bisa dianggap sebagai fenomena biasa yang dilakukan oleh para militer kepada masyarakat sipil,” jelas Timur.
Timur juga menambahkan bahwa saat ini militer bergerak dalam satu komando dan kasus terbaru yaitu kasus penyiraman gas air mata kepada aktivis Andrie Yunus bukanlah pergerakan individual. “Hal ini tidak bergerak atas dasar inisiatif pribadi,” ujarnya dalam salah satu sesi materi diskusi.
Lebih lanjut diskusi ini menyoroti bagaimana militer juga masuk dalam ranah pendidikan. Risyad selaku BEM KM UPN “Veteran” Yogyakarta menyoroti hal ini dengan contoh kasus yang terjadi di UPN itu sendiri dan menjadi awal mula semangat melawan militerisasi di Kampus. “UPN ini sempat menjadi sorotan bagaimana ruang kebebasan akademis di kampus tetapi diisi oleh birokrasi yang dari tentara atau militer,” terang Risyad.
Risyad menyuarakan bahwa di UPN “Veteran” Yogyakarta para mahasiswa merasakan adanya dominasi militer di dalamnya. “Pada dasarnya tidak (dominasi militer), tetapi pengamalan nilai-nilainya memang ada di lingkungan kami seperti misalnya saat orientasi mahasiswa baru ada inbound dan outbound yang di dalamnya ada pemahaman tentang bela negara,” kata Risyad dalam penyampaian diskusi.
Kemudian Yahya selaku aktivis kontras juga menyampaikan bahwa saat ini kita sedang berada di fase kembalinya dwifungsi ABRI. “Berbicara mengenai militerisme, jadi memang boleh dibilang saat ini kita sedang berada di fase kembalinya dwifungsi ABRI yang masuk ke ranah sipil,” tutur Yahya saat penyampaian materi di forum diskusi ini.
Yahya juga menyampaikan bahwa perlunya tentara yang profesional. Di mana tentara harusnya disiapkan untuk berperang, menjaga kedaulatan negara, dan bertugas untuk mengamankan negara. “Kita menginginkan adanya tentara yang profesional, yang memang dididik untuk persiapan mereka berperang, menjaga kedaulatan negara, dan bertugas untuk mengamankan politik,” jelas Yahya
Dalam diskusi ini Yahya juga menyampaikan pesan bahwa seperti slogan aksi kamisan, jangan diam tetapi lawan. “Kalau di aksi kamisan selalu bilang jangan diam, jangan diam, melawan,” tutup Yahya. (Bintang Adinda Saputri)
Tulis Komentarmu