Header Ads

Nasi Darurat Jogja, Berawal dari Tidak Makan Nasi Tiga Hari Menjadi Gerakan Berbagi

 

Bungkusan Nasi lengkap dengan Lauk Ayam Goreng yang Siap Diantarkan Kepada Penerima Bantuan Nasi Darurat Jogja. (Sumber: Sahaya Kinantan/SIKAP)

Yogyakarta, Sikap - Tiga hari tanpa makan nasi, hanya buah sukun yang jatuh dari pohon dan direbus seadanya jadi teman satu-satunya bagi perut kosong, begitu cara Evan bertahan di penghujung tahun 2022. Sukun rebus itu Ia makan begitu saja. Namun, di hari ketiga, salah satu teman Evan datang menjemput untuk mengajaknya makan. Berawal dari momen sesederhana itu, muncul gerakan untuk membantu orang-orang yang memerlukan makanan saat kondisi darurat, yakni Nasi Darurat Jogja

Berangkat pengalaman pahit itulah Evan, pria asal Wonosari yang kini menetap di Yogyakarta memutuskan untuk tidak membiarkan orang lain mengalami hal serupa. Berawal dari bantuan kecil untuk teman-teman yang berkuliah di sekitar Yogyakarta, langkahnya perlahan terus berkembang pesat hingga resmi hadir di media sosial pada 14 Januari 2023. Kini, menjelang usia empat tahun, Nasi Darurat Jogja tumbuh menjadi jaring pengaman bagi siapa pun yang kelaparan di Yogyakarta.

Pertemuan dengan  seorang teman di pagi hari itu tidak hanya mengisi perut Evan yang kosong, ia juga meninggalkan bekas yang menuntun langkahnya di kemudian hari. Bukan uang yang diberikan, melainkan kehadiran. Bantuan seperti itulah yang kemudian ingin ia teruskan kepada orang lain.

"Nggak. Dia tuh datangin aku... Jemput aku buat makan," kenang Evan tentang temannya yang menyelamatkannya kala itu.

Niat sederhana itu tumbuh dari kejadian tersebut. Ia hanya ingin membalas kebaikan yang pernah ia terima, dimulai dari lingkup terdekat, seperti teman-teman kuliah di sekitar kampus Yogyakarta yang tengah kesulitan makan. Barulah pada 14 Januari 2023, jejak digital pertama gerakan ini terekam di media sosial.

Nasi Darurat Jogja juga sempat membuka program bantuan sepeda gratis bagi yang membutuhkan. Sepeda-sepeda itu didapat dari donatur, lalu diambil langsung oleh Evan dan dibawa ke tempat servis agar layak pakai, baru kemudian diantarkan ke tangan penerima. Namun, program ini akhirnya harus dihentikan sementara karena biaya dan tenaga yang dikeluarkan ternyata cukup besar untuk sebuah proses yang harus dijalani satu per satu.

"Anggaran buat sepeda kan juga lumayan. Terus tenaga buat ngambil sepeda dari yang mau donasi, terus tak ambil, tak bawa ke tempat servis, dari tempat servis baru ke penerimanya. Effortnya luar biasa," jelas Evan.

Jangkauan wilayah bantuan pun kini dibatasi hanya dalam area ringroad Jogja. Keputusan tersebut diambil dari kesadaran akan batas kemampuannya dalam mendistribusikan bantuannya.

Pada awalnya, makanan yang disalurkan masih dibeli langsung dari warung-warung terdekat karena menjadi cara paling sederhana yang bisa ia lakukan ketika kapasitasnya masih kecil. Barulah sejak Mei 2025, dapur Nasi Darurat Jogja mulai mengepulkan asapnya sendiri, meski keputusan itu bukan tanpa pertimbangan.

"Sebenernya bukan buat ngirit anggaran... antara masak sama beli di warung terdekat. Soalnya kan kita juga menghasilkan sampah, kan. Listrik juga. Tenaga masak. Bahan bakunya juga pasti. Food waste juga pasti akan ada, walaupun sedikit, tapi ya ini biar lebih banyak aja sih kapasitas yang disalurkan " jelas Evan

Meski begitu, menu yang disalurkan tidak dipilih secara asal-asalan hanya karena yang penting murah, seperti nasi kucing atau nasi berlauk kepala ayam yang bisa didapat dengan harga paling miring, melainkan makanan yang disesuaikan agar tetap layak disantap.

Struktur di balik layar Nasi Darurat Jogja terbilang ramping, hanya dua admin sejak awal berdiri dan ditambah para driver yang menjadi ujung tombak yang langsung bersentuhan dengan penerima bantuan. Berbeda dari kebanyakan gerakan sosial yang mengandalkan sukarelawan, Evan justru enggan membuka sistem volunteer terbuka.

"Aku di sini ya, mereka yang mau berkomitmen, mereka yang mau mencemplungkan diri sekalian ke sini. Kalau volunteer-an kan, hari ini bisa, besoknya, 'Pak, aku minta tolong bisa nggak?' 'Waduh, aku lagi ada keperluan....'" ujarnya, menirukan alasan-alasan yang biasa muncul dari sistem sukarelawan yang tak bisa diandalkan setiap hari.

Ia lebih memilih bekerja sama dengan orang-orang yang mau berkomitmen penuh dan bisa hadir kapan pun ketika dibutuhkan. Orang-orang tersebut dapat berinteraksi langsung dengan penerima secara berulang, para driver bahkan hafal wajah-wajah yang meminta bantuan lebih dari sekali dan nomor kontak serta riwayat penerima disimpan rapi untuk memastikan bantuan tersalur ke tangan yang tepat.

Sistem tersebut juga menjadi bagian dari proses pemesanan bantuan. Layanan utama Nasi Darurat Jogja dilakukan melalui delivery, dengan penerima menghubungi Nasi Darurat Jogja melalui WhatsApp untuk mengajukan bantuan. Setelah itu, penerima wajib mengirim share location kepada admin Nasi Darurat Jogja dan menunggu bantuan tersebut datang. 

“Yang penting bisa shareloc, sih. Yang penting bisa shareloc, mau nunggu. Yang utama itu mau shareloc, mau nunggu. Kalau orangnya ‘aduh kendala ga bisa shareloc segala macem, aku gak bisa bantu. Peraturannya gitu.” Ujar Evan.

Untuk bantuan makanan, penerima tidak diwajibkan menyertakan KTP atau identitas tertentu. Namun, terdapat pengecualian untuk beberapa program bantuan tertentu. Pada program bantuan sepeda, Evan mewajibkan penerimanya untuk menunjukkan KTP sebagai bentuk formalitas.

Dan program bantuan anak-anak Flores juga diwajibkan menyertakan KTP dan Kartu Tanda Mahasiswa (KTM) karena bantuan tersebut memang ditujukan khusus bagi mahasiswa di wilayah tersebut.  

Saat ini, jangkauan layanan pun tidak lagi seluas ketika Nasi Darurat Jogja baru berjalan. Saat ini, bantuan difokuskan di wilayah Yogyakarta. Pembatasan tersebut bukan karena tidak ingin membantu, melainkan karena kapasitas tenaga dan waktu yang dimiliki terbatas. Evan menyadari, apabila layanan dibuka untuk seluruh Indonesia, permintaan dapat berkembang jauh lebih besar daripada kemampuan yang tersedia.

Batas tersebut rupanya tidak selalu mudah diterima oleh penerima bantuan. Ada penerima yang sebelumnya telah beberapa kali mendapatkan bantuan, tetapi kemudian merasa keberatan ketika layanannya dihentikan. Situasi itu bahkan sempat membuat Evan memilih untuk menjelaskan klarifikasi terlebih dahulu melalui media sosial.

“Aku takutnya kalau dia nanti mencak-mencak di sosmed pakai POV dia, tanpa aku kasih POV juga. Makanya lebih duluan, mending tak kasih POV aku saja,” kata Evan. 

Lalu bagi Evan, kondisi penerima tidak selalu bisa dilihat hanya dari apa yang tampak di permukaan. Ia menceritakan bagaimana seorang penerima pernah dinilai tidak layak dibantu karena terlihat menggunakan handphone dengan brand yang dinilai mahal. Menurutnya, penilaian semacam itu tidak cukup untuk menentukan apakah seseorang sedang membutuhkan bantuan atau tidak. 

Cara pandang itu ia gambarkan melalui analogi sederhana tentang kucing. Ketika seseorang melihat kucing kelaparan, orang tersebut cenderung langsung memberikan makanan tanpa mempertanyakan apakah kucing itu memiliki uang atau mengapa ia tidak mencari makan sendiri.

“Yang berbagi makanan buat kucing, kasih makanan mereka. Mereka sampai mengeluarkan uang donatur buat kasih makanan kucing. Mereka nggak ada pikiran, nanti kucingnya gimana-gimana,” ujar Evan.

Menurutnya, manusia pun semestinya tidak langsung dinilai hanya dari penampilannya. Seseorang yang terlihat mampu secara ekonomi tetap mungkin berada dalam kondisi tertentu yang membuatnya membutuhkan bantuan, meski hanya untuk satu atau dua kali makan. Karena itu, Nasi Darurat Jogja masih memberi ruang bagi penerima yang baru membutuhkan bantuan dalam kondisi tertentu.

Di sisi lain, Nasi Darurat Jogja tetap berusaha menjaga agar bantuan tidak dimanfaatkan secara terus-menerus. Nomor penerima disimpan dan riwayat bantuan diperiksa. Driver juga menjadi pihak yang membantu mengenali penerima secara langsung karena mereka dapat bertemu dengan orang yang sama lebih dari sekali.

Selain mengandalkan donasi, Evan memilih untuk tidak membangun Nasi Darurat Jogja sebagai yayasan dengan skema penggalangan dana besar-besaran. Donasi tetap dibuka bagi masyarakat yang ingin membantu, tetapi ia tidak ingin dana yang masuk jauh melebihi kemampuan penyaluran.

“Dengan dana yang masuk semakin banyak, kan tanggung jawab pasti semakin banyak. Ini kan duitnya orang, bukan duitku,” kata Evan.

Prinsip yang sama terlihat dari keputusannya untuk tidak membuka cabang Nasi Darurat Jogja di kota lain. Beberapa gerakan dengan nama serupa memang muncul di daerah lain, tetapi menurut Evan, gerakan tersebut merupakan inisiatif masing-masing dan bukan cabang yang dibuka oleh Nasi Darurat Jogja.

“Gak ngapain buka cabang. Kecuali kalau rumah makan menghasilkan uang, tak buka cabang. Lah ini kan mengeluarkan uang,” ujarnya.

Baginya, memperluas wilayah bantuan tidak boleh membuat kemampuan untuk membantu di Yogyakarta justru berkurang. Ia memilih memastikan layanan yang sudah berjalan tetap mampu ditangani sebelum berpikir untuk memperluasnya ke tempat lain.

Hampir empat tahun berjalan, Evan pun tidak lagi melihat Nasi Darurat Jogja sekadar sebagai gerakan yang bergantung pada dirinya. Ia justru berharap suatu saat gerakan ini dapat berdiri lebih mandiri, bahkan ketika dirinya tidak lagi terlibat secara langsung.

“Aku sendiri pengennya Nasi Darurat Jogja ini lebih independen dan mandiri. Kalau aku sendiri nggak berkontribusi di sini, masih sudah berjalan,” kata Evan.

Pada akhirnya, harapan Evan tidak berhenti pada Nasi Darurat Jogja. Ia ingin persoalan kelaparan tidak terus-menerus ditangani sebagai keadaan darurat oleh masyarakat. Ia juga berharap pemerintah lebih serius memastikan tidak ada masyarakat yang sampai mengalami kelaparan. Baginya, persoalan tersebut seharusnya dapat dicegah sehingga masyarakat tidak perlu berada dalam kondisi darurat hingga membutuhkan bantuan. 

“Pemerintah tuh jangan sampai ada orang yang kelaparan. Itu gimana caranya. Bukan pemerintah tuh tugasnya menolong orang kelaparan, tapi pemerintah tugasnya jangan sampai ada orang yang kelaparan,” ujar Evan.

Dari mengiyakan ajakan teman untuk makan bersama, Nasi Darurat Jogja pada akhirnya membawa harapan yang lebih besar. Agar bantuan tidak selamanya menjadi satu-satunya jalan bagi seseorang untuk makan, dan agar tidak ada lagi orang yang harus menunggu datangnya seorang teman hanya untuk bisa mengisi perutnya. (Anisa Nuraini Nastiti, Sahaya Kinantan)

Editor: Faiz Hasyfi Fahimsyah


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.