Header Ads

Ruang Anonim Bersuara Nyaring di UPN Jogja

Ilustrasi di balik layar ponsel, terdapat suara - suara anonim mahasiswa UPN Veteran Yogyakarta mengalir tanpa nama. (Sumber: Magnific)

Yogyakarta, Sikap
- Di tengah derasnya arus informasi digital, akun-akun anonim kampus perlahan menjadi salah satu sumber informasi yang akrab bagi mahasiswa. Di lingkungan Kampus UPN "Veteran" Yogyakarta (UPNVYK), akun-akun ini kerap menjadi saluran alternatif untuk membahas isu internal kampus, mulai dari urusan akademik, kebijakan, hingga topik yang sedang ramai dibicarakan. Meski berada di ranah yang sama, motivasi para pengelolanya cukup beragam. Hal ini tergambar dari latar belakang dua akun yang cukup dikenal di lingkungan kampus.


Minkir nama samaran yang dipilih dari si pengelola akun Instagram @upnvy.parkir, mengaku akunnya lahir dari ketidaksengajaan. “Awalnya saya cuma gabut dan tidak sengaja membuat akun ini setelah mengalami masalah personal. Tapi ketika pengikutnya semakin banyak, saya sadar akun ini bisa menjadi jembatan untuk menyampaikan isu-isu kampus dengan cara yang lebih ringan dan mudah dipahami mahasiswa," ujarnya. Ia memilih mengemas isu kampus melalui meme agar lebih menarik bagi mahasiswa yang biasanya kurang peduli.


Berbeda dengan gaya hiburan UPN Parkir, pengelola akun Instagram @birokritik.upnyk sejak awal memposisikan akunnya sebagai sarana untuk menyoroti kebijakan kampus. “Akun ini hadir karena keresahan-keresahan mahasiswa terutama yang berkaitan dengan isu di lingkungan kampus yang belum sepenuhnya tertampung oleh organisasi-organisasi formal yang ada dan bisa menjadi pemantik bagi mahasiswa untuk mendorong budaya mengawal isu secara konsisten,” jelas jangkrik 2 nama samaran dari salah satu pengelola akun birokritik.


Kedua akun memiliki pendekatan yang berbeda, namun sama-sama memandang anonimitas sebagai cara menjaga independensi dari pengaruh pihak luar. Bagi Birokritik, anonimitas adalah harga mati untuk menjaga independensi dari intervensi pihak luar. “Kami memilih untuk tetap anonim karena mempertimbangkan risiko yang mungkin muncul dan kami merasa akan jauh lebih aman serta minim risiko jika identitas kami tidak diketahui oleh pihak manapun,” ujar jangkrik 1 pengelola lainnya dari akun @birokritik.upnyk. 


Mereka juga menegaskan anonimitas bukan sekedar soal keamanan, tetapi juga soal  kebebasan berekspresi. "Memang perlu anonim. Biar tidak ada titipan, biar tidak ada tekanan dan yang paling penting tidak ada batasan mengenai ekspresi diri,” jelas jangkrik 3 pengelola ketiga yang kami wawancara bersama dengan Jangkrik 1 dan 2. Mereka menekankan setiap kritik yang dilontarkan lahir dari kepedulian agar institusi terus berbenah.


Sementara itu, UPN Parkir memilih tetap anonim dengan alasan ingin mengubah cara pandang mahasiswa terhadap sebuah informasi. “Aku pengen di UPN ini ada budaya di mana orang melihat apa yang diomongkan, bukan siapa yang ngomong,” ujarnya.


Menurutnya, identitas kerap kali menjadi penghalang dalam diskusi publik. Ketika seseorang dikenal memiliki afiliasi tertentu, pendapatnya seringkali dinilai berdasarkan identitasnya, bukan isi argumennya. “Ketika anonim, aku merasa benar-benar bebas untuk mengeluarkan semua isi kepala dan pemikiran aku tanpa ada batasan. Jika identitas asliku terungkap, aku khawatir orang tidak akan percaya lagi karena perawakanku yang mungkin dianggap kurang kredibel," ungkap Minkir


Terkait mekanisme pengelolaan informasi, Minkir menjelaskan akunnya bertindak sebagai wadah penampung suara mahasiswa yang masuk setiap hari. Meskipun prosesnya terlihat ringkas, ia kini memberikan perhatian lebih pada validitas informasi tersebut. "Alur penerimaan informasinya sebenarnya sangat sederhana, mahasiswa mengirimkan pesan melalui DM, lalu aku terima dan proses. Alurnya memang sesimpel itu saja,” ujarnya.


Ia menambahkan juga kini ia lebih selektif sebelum menindaklanjuti laporan, terutama untuk informasi yang sulit diverifikasi atau terlalu bersifat personal, ia memilih untuk tidak meresponnya. “Kalau memang informasi itu harus ada dokumen, aku tanyakan dulu ke orang-orang yang ngerti,” katanya. 


Berkaitan dengan kualitas informasi, Birokritik pun menerapkan standar verifikasi yang cukup ketat juga untuk isu-isu yang dianggap krusial. Sebelum sebuah informasi dipercaya atau dipublikasikan, mereka melakukan proses literasi mendalam dengan membandingkan berbagai sumber serta melakukan pemeriksaan latar belakang (background check) terhadap pengirim informasi. “Verifikasinya ya pasti baca, pasti ada komparasinya juga, dan mungkin ada beberapa kesempatan kita background checking untuk menguji seberapa kredibel sumbernya. Kalau enggak kredibel, enggak bakal kita naikin,” jelas jangkrik 3. 


Bagi sebagian mahasiswa, akun anonim mampu menghadirkan informasi yang tidak selalu tersedia melalui saluran resmi kampus. Mahasiswa baru seperti Willy, memandang akun-akun ini memberikan akses informasi yang eksklusif. "Aku tertarik mengikuti akun-akun ini karena menurut aku ada informasi-informasi unik yang terkadang memang tidak bisa didapatkan selain melalui akun yang identitas pengelolanya tidak dikenal seperti itu," ungkap Willy.


Ia menilai akun-akun tersebut benar-benar mampu mewakili aspirasi mahasiswa, sehingga keresahan atau unek-unek yang selama ini hanya terpendam di dalam pikiran para mahasiswa menjadi terasa lebih terwakili dan dapat tersalurkan dengan baik melalui platform tersebut. Meski demikian, ia tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian, dalam mengonsumsi setiap konten yang di unggah. "Tingkat kepercayaan aku ke informasi yang dikasih sama akun-akun itu sebenarnya nggak bisa 100%, karena bagaimanapun setiap berita yang aku dapatkan tetap harus divalidasi dan melalui proses cross-check lebih lanjut untuk memastikan kebenaranya," jelasnya. Willy berpendapat akun anonim akan tetap dibutuhkan bagi mahasiswa selama kanal komunikasi resmi milik institusi belum memadai.


Senada dengan Willy. Izul, mahasiswa lainnya, melihat akun anonim sebagai pemantik diskusi. "Akun anonim ini bisa jadi pemantik juga…selain akun dari BEM atau HIMA, sebenarnya akun anonim ini juga cukup mengajak kepada mahasiswa yang lain," ungkap Izul. Terkait kredibilitas informasi, ia memilih untuk tetap waspada, "Kalau informasi...kadang 50 persen lah percaya...nanti sisanya tanya temen lah yang lebih ahli," tambahnya.


Kurnia Arofah, dosen Ilmu Komunikasi UPNVYK, menilai fenomena ini sebagai hal yang wajar dalam sosiologi komunikasi. "Akun anonim ya memang salah satu gejala komunikasi…menunjukkan ada kelompok-kelompok yang merasa tidak nyaman atau merasa takut atau tidak aman ketika dia menyampaikan pendapat secara langsung," analisisnya.


Ia menyoroti adanya ketimpangan posisi antara institusi dan mahasiswa. "Relasi antara dosen dan mahasiswa itu kan memang cenderung tidak setara…mahasiswa itu kan cenderung akan mikir lebih panjang gitu ya kalau menyampaikan kritik secara terbuka," ujar Kurnia.


Namun, Kurnia memberikan peringatan keras mengenai validitas informasi ketika menanggapi penyebaran informasi yang sifatnya masih anonim. “Kita jangan terlalu memuja anonimitas itu…yang harus dijaga justru kredibilitas dari informasi itu sendiri,” tegasnya.


Ia berharap institusi kampus bisa lebih responsif sehingga kebutuhan mahasiswa terhadap akun anonim bisa berkurang. Oleh karena itu, ia menekankan tantangan utama bagi kampus untuk menghadapi fenomena akun anonim ini adalah memperbaiki mekanisme internalnya. "Tantangannya menurut saya bagi kampus…bagaimana kita bisa menyediakan ruang aman untuk mendengar, terus kemudian merespon kritik," tutupnya.

Keberadaan akun anonim di lingkungan UPNVYK pada akhirnya menunjukkan mahasiswa masih membutuhkan ruang untuk menyampaikan aspirasi, kritik, dan keresahan mereka. Di satu sisi, akun-akun tersebut menjadi alternatif komunikasi yang dianggap lebih dekat dan mudah diakses. 

Di sisi lain, tantangan mengenai akurasi informasi dan akuntabilitas tetap menjadi perhatian. Oleh karena itu, selain mendorong literasi informasi di kalangan mahasiswa, kampus juga dituntut untuk membangun ruang dialog yang lebih terbuka, aman, dan responsif agar suara mahasiswa dapat tersampaikan tanpa harus selalu berlindung di balik anonimitas. (Maharani Mantika Nailah , Nayla Enzethiana Wiandaputri Santoso)

Editor: Romadhon


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.