Alma Seperti Ayam
Ilustrasi ayam. (Sumber: www.istockphoto.com)
Matahari sedang terik-teriknya, tetapi Alma masih berdiri di depan toko itu. Tangannya mengepal tanda gugup. Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu memandang ke arah toko itu lagi. Alma ingin masuk, tetapi ragu.
Bangunan toko itu tampak sudah tua. Di atapnya terpanjang papan bertuliskan “Rumah Ubah. Mari ciptakan kesempurnaanmu”. Alma membaca tulisan di papan itu dalam hati. Kalimat di papan itulah yang membuat Alma tertarik dengan toko tua itu. Ia ingin menciptakan kesempurnaannya.
Mengapa Alma ingin menciptakan kesempurnaan? Baiklah, kita akan mundur sedikit untuk mengenal gadis ini. Alma adalah seorang remaja Sekolah Menengah Pertama. Ia tidak jauh berbeda dengan remaja perempuan biasanya. Hanya saja Alma punya satu kekurangan yang menurutnya malah menciptakan banyak kekurangan lain, yaitu kurang percaya diri. Alma sering canggung apabila bertemu dengan orang baru atau berada di situasi yang tidak pernah ia duga sebelumnya. Yup, Alma mudah gugup dan akhirnya lebih sering memilih menutup diri.
Apabila ada anak lain yang ingin berteman atau mengajak bermain, seketika tubuh Alma akan bergetar dan mulutnya mengucap tak karuan. Alma bahkan tidak berani bertatap mata dan tangannya akan mengepal setiap merasa gugup. Biasanya setelah itu, anak-anak lain yang mendekati Alma akan pergi. Lalu Alma akan menyesal betapa anehnya ia di depan teman-temannya.
Namun, masalah Alma ternyata tidak sampai di situ. Suatu hari, salah satu teman sekelas Alma bernama Pablo menciptakan julukan aneh untuk Alma.
“Hei Alma, pelajaran olahraga nanti akan bermain voli. Kelompokku kurang personil. Kau mau masuk?" Seru Pablo sambil melangkah menuju kursi Alma.
Alma terkejut. Pertama, karena suara Pablo yang besar. Kedua, karena Alma berpikir tidak akan ada yang mengajaknya bicara lagi. Ajakan Pablo begitu tiba-tiba bagi Alma. Kegugupannya muncul dua kali lebih besar.
“A-aku.. P-Pab-Pablo a-pa.. a-ku..” Alma begitu terbata-bata. Kedua tangannya mengepal, kepalanya menunduk.
Seluruh kelas menjadi diam. Alma semakin gugup, tidak sanggup mengatakan apa-apa lagi.
Tiba-tiba Pablo tertawa, “Hahaha hei kau ini bicara apa? A-ku.. P-Pablo.. hahaha Alma seperti Ayam!”
Seluruh kelas ikut tertawa. Lebih tepatnya menertawakan Alma. Alma Ayam, itulah julukan yang Pablo ciptakan di kelas untuk Alma. Mendengar julukan itu, kepala Alma semakin menunduk. Sayangnya jam belajar belum dimulai sehingga tidak ada guru di dalam kelas. Kalau saja ada guru disini, Pablo pasti dimarahi, pikir Alma.
Julukan itu sangat memalukan bagi Alma. Untuk pertama kalinya, Alma merasa tidak tahan dengan kekurangannya ini. Ia ingin menghilangkannya dan menjadi sempurna. Semenjak saat itu, Alma berusaha mencari cara agar tidak gugup lagi seperti ayam. Dengan begitu, semuanya akan menjadi sempurna, pikir Alma.
Kembali lagi dengan Alma di depan toko tua, ia masih dengan tujuan menjadi lebih sempurna. Mengenai toko ini, Alma hanya tidak sengaja menemukannya saat berjalan kaki pulang dari sekolah. Alma sebenarnya tidak ingat sejak kapan toko tua ini berdiri, meskipun Alma selalu melewati rute yang sama saat. Dengan nama “Rumah Ubah. Mari ciptakan kesempurnaanmu” tentunya cocok sekali dengan apa yang Alma cari.
Kesempurnaan. Alma berpikir Rumah Ubah ini bisa merubah dirinya. Alma masih berdiri, tidak tahu harus masuk atau pulang saja. Tiba-tiba seorang nenek tua muncul dari balik pintu toko itu dan tersenyum pada Alma.
“Selamat datang di Rumah Ubah. Anak manis, kamu mencari kesempurnaan?” Sapa nenek itu dengan hangat.
Kegugupan Alma muncul kembali.
“Eh, sa-saya.. iya.. cari itu.. apa.. sempurna, Nek” Alma menepuk jidatnya. Benar-benar memalukan sekali, pikirnya.
Nenek itu terkekeh, “Jangan gugup sayang, mari silahkan masuk.”
Memasuki area dalam toko, Alma takjub melihat banyak barang antik yang tersusun rapi. Terdapat juga rak-rak memanjang ke atas berisi beragam buku. Suasana di toko itu sederhana, tetapi nyaman sekali. Kemudian nenek itu mempersilahkan Alma duduk.
“Saya Danti, kamu bisa panggil saya Nenek Danti. Siapa namamu, Nak?”
“Alma” jawab Alma singkat. Ia tidak ingin banyak bicara agar tidak terbata-bata lagi.
“Baiklah, Alma sayang, kesempurnaan apa yang kamu inginkan?” tanya Nenek Danti.
Alma ingin menjawab, tetapi ia bingung harus cerita darimana. Lagipula, Alma tidak ingin banyak bicara agar tidak terbata-bata. Alma tidak bisa merespon apa-apa selain menggaruk kepalanya, mengangguk, dan menunduk.
“Alma sayang, boleh kutebak, kau ingin menghilangkan kebiasaan terbata-batamu?” ucap Nenek Danti sambil tersenyum tipis.
Alma yang menunduk langsung mendongak. Tebakan Nenek Danti tepat sekali. “Ya!” seru Alma dengan mengangguk semangat.
Nenek Danti terkekeh, “Lalu, apa yang kau inginkan agar kebiasaan itu hilang?”
Alma berpikir sejenak. Tiba-tiba, muncul usulan unik di pikirannya. “N-nenek, benar-benar bisa.. apa itu namanya.. oh ya, menciptakan ee.. kesempurnaan kan?” tanya Alma sengaja menghindari tatapan mata dengan lawan bicara agar tidak semakin gugup.
Nenek Danti menatap Alma sejenak. Senyumnya semakin mengembang dan hangat. “Tentu, Alma Sayang” jawab Nenek Danti.
Senyum Alma merekah. “Ah kalau begitu, saya.. ini, Nek, saya.. mau.. bisa.. memutar waktu. Ya, saya mau itu, Nek” Alma berbicara perlahan-lahan agar tidak terbata-bata.
“Memutar waktu? Untuk apa, Sayang?” tanya Nenek Danti.
“Dengan begitu, saya bisa.. bisa lebih siap, maksudnya lebih tahu harus apa. Eh, maksudnya eum.. aduh..” Alma kembali berputar dengan kata-katanya sendiri.
Nenek Danti terkekeh lagi. Ia mengusap tangan Alma, “Tenang, Alma sayang. Maksudmu, dengan memutar waktu, kamu bisa punya kesempatan untuk memperbaiki kegugupan mu, benar begitu?” tanya Nenek Danti.
“Ya, ya, Nek” Jawab Alma mengangguk semangat. Ia senang Nenek Danti bisa memahami dirinya.
“Baiklah Alma sayang. Kuasa memutar waktu ada bersamamu.” Ucap Nenek Danti.
Nenek Danti menutup mata sembari mengusap-usap tangan Alma. Mata Alma berbinar. Ia menunggu sebuah percikan cahaya atau apapun muncul seperti di buku dongeng yang pernah ia baca. Alma percaya kekuatan Nenek Danti benar-benar nyata dan ia akan menjadi sempurna setelah ini.
Perlahan, mata Nenek Danti terbuka kembali. Namun, tidak terjadi apa-apa. Entah itu hanya sedikit percikan cahaya atau apapun. Alma bingung. Kepercayaannya merosot drastis. Bodohnya aku berpikir nenek ini benar-benar semacam penyihir, Pikir Alma.
Nenek Danti tersenyum, “Sekarang pulanglah, Alma sayang”
Alma mengangguk lemah, melangkah keluar toko dan pulang. Langkahnya lemas. Rasa kecewa dan ragu menghinggapi hatinya.
“Apa ini akan berhasil? Mengapa aku berharap.” Tanya Alma pada dirinya sendiri.
~~
Keesokan paginya, Alma berangkat ke sekolah seperti biasa. Hanya saja kali ini ia lebih tidak semangat lagi. Alma tidak siap jika Pablo lagi-lagi meledeknya dengan sebutan memalukan itu.
Pelajaran kelas dimulai. Pelajaran pertama adalah matematika. Bu guru memberikan tugas di papan tulis. Semua anak sibuk mengerjakan. Meskipun kurang percaya diri, Alma adalah anak yang pintar. Soal matematika bukan masalah baginya.
“Alma, apa aku boleh pinjam penghapus mu?” tiba-tiba suara Tita mengagetkan Alma. Seperti yang diduga, seketika Alma gugup.
“A-apa? maaf T-Tita kamu..” Alma terbata-bata.
“Eh, sudah tidak apa, Alma. Aku pinjam penghapus Dira saja.” Tita melangkah pergi.
Alma menepuk jidatnya. Lagi-lagi menyesal dengan reaksinya yang konyol. Alma menunduk pasrah.
“Andai saja aku benar-benar bisa memutar waktu” ucapnya pelan.
“Alma, apa aku boleh pinjam penghapus mu?” tiba-tiba suara Tita mengagetkan Alma lagi.
“Apa? Tita bertanya lagi? Tunggu, hei.. apakah waktu baru saja benar-benar berputar mundur?” Ucap Alma dalam hati.
Alma terpaku menatap Tita. Tita mengerutkan alis, mulai memalingkan pandangannya dan bersiap melangkah pergi. Namun kali ini Alma tidak akan menyia-nyiakan kesempatan.
“Penghapus? I-ini, Tita. Kau boleh pinjam punyaku.” jawab Alma sambil menyodorkan penghapusnya.
Tita terkejut, “Wah, ini kan penghapus wangi yang mahal itu. Apa aku benar-benar boleh meminjamnya?” Tita takjub melihat penghapus Alma.
“Tentu saja, hehe,” jawab Alma dengan senyum selebar mungkin.
“Wah, Alma, kau baik sekali. Terima kasih!” Tita tersenyum dan melangkah ke kursinya.
Untuk pertama kalinya di kelas itu, Alma melakukan percakapan dengan lancar seperti yang ia inginkan. Alma senang bukan main. Kekuatan Nenek Danti benar-benar nyata, pikirnya.
Jam istirahat dimulai. Tita berjalan menuju kursi Alma, diikuti dengan beberapa anak lainnya, “Alma ini penghapusmu, terima kasih, ya. Tadi Dira dan Feri penasaran juga dengan penghapus ini." Kata Tita sembari mengembalikan penghapus Alma.
“Ya, Alma, penghapusmu bagus dan wangi sekali. Kamu beli dimana?” Tanya Dira.
“Eh, ayahku yang membelikannya.” jawab Alma sesingkat mungkin agar tidak terbata-bata. Ia takut di sebut seperti ayam lagi.
“Wah, enak, ya. Ayahmu baik sekali,” ucap Dira.
“Iya, aku ingin membelikannya untuk hadiah ulang tahun adikku. Dia sangat ingin penghapus wangi,” timpal Feri.
Alma terdiam sejenak. Ini kesempatan baik pikirnya, “Ee.. ayahku membelikan lebih dari satu. Kalau mau, aku bisa memberikannya untuk kalian,” Kata Alma. Ia mulai menikmati percakapannya dengan teman-temannya.
“Wah, benarkah? Ya ampun, Alma kamu baik sekali,” ucap Dira sambil melompat-lompat kegirangan.
Tita dan Feri juga tak kalah senang dengan tawaran Alma memberikan penghapus. Alma senang sekali. Akhirnya ada yang ingin berbicara dengannya.
Beberapa hari berlalu dengan kekuatan Alma yang bisa memutar waktu. Akhirnya Alma punya teman dan tidak ada lagi yang meledeknya, termasuk Pablo. Julukan Alma seperti Ayam tidak pernah terdengar lagi. Sekali saja Alma tidak puas dengan percakapan yang baru saja ia lakukan, Alma akan berkata: “Andai aku bisa memutar waktu” dan waktu akan benar-benar berputar mundur persis sebelum percakapan tersebut terjadi. Alhasil, Alma bisa melakukan percakapan dengan lebih siap. Alma merasa sudah dekat dengan titik sempurnanya.
Namun, tanpa Alma sadari, perlahan Alma mulai tidak puas dengan semua percakapan yang ada.
“Ah, aku tadi masih terbata-bata”
“Ah, nada bicaraku tadi kurang ramah”
“Ah, tadi aku terlalu lambat menjawab” dan banyak hal kecil lain yang menjadi pertimbangan Alma untuk mengulang percakapan itu.
Semakin hari, alasan Alma memutar waktu semakin tidak masuk akal. Hari ini, entah sudah hari ke berapa semenjak Alma punya kekuatan dari Nenek Danti. Alma bersiap ke sekolah seperti biasa.
“Sepertinya hari ini aku harus memakai pita rambut dan gelang pink ini kesekolah. Dengan begitu teman-teman pasti akan memujiku,” pikir Alma.
Sampai di sekolah, Alma merasa penampilannya kurang cantik. Ia akhirnya memutar waktu jauh-jauh, sampai malam sebelum hari ini agar bisa memiliki waktu lebih banyak untuk memilih pita serta aksesoris lainnya. Hal ini bukan sekali dua kali Alma lakukan. Jika besok Alma tidak puas lagi dengan penampilannya, ia tinggal memutar waktu lagi sesuka hatinya. Alma tidak peduli seberapa banyak ia telah memutar waktu agar egonya merasa terpenuhi: kesempurnaan.
Suatu hari, saking sibuknya dengan memutar-mutar waktu, Alma sampai lupa dengan hari tes matematika. Akhirnya, Alma tidak belajar dan gagal menjawab soal di papan tulis.
“Alma, apa kamu tidak belajar? Biasanya kamu mahir menjawab soal-soal yang Ibu berikan. Apa kamu lupa hari ini ada tes?” tegur bu guru di depan kelas.
Alma malu sekali. Citra sempurnanya tergores. Tanpa berpikir lagi, Alma mengucapkan pelan “Andai aku bisa memutar waktu mundur ke malam kemarin.”
Dan ya, seketika waktu mundur dan Alma sedang berada di kamarnya. Alma menghela nafas lega. Ia benar-benar panik karena tidak bisa menjawab soal sama sekali. Untungnya kekuatan dari Nenek Danti menyelamatkannya.
Namun, Alma akhirnya menyadari, memutar-mutar waktu seperti ini membuatnya sulit mengingat waktu yang nyata berjalan. Alma mengusap alisnya. Ia juga harus tetap belajar untuk tes matematika besok karena ia sudah memutar waktu. Uh, Alma tidak tahu harus berpikir bagaimana lagi.
Esok paginya, tes matematika dimulai sekali lagi. Pada akhirnya Alma tetap tidak bisa belajar serius karena pikirannya sudah tak karuan. Lagi-lagi ia tidak mampu menjawab soal di papan tulis.
“Alma, apa kamu tidak belajar? Biasanya kamu mahir menjawab soal-soal yang Ibu berikan. Apa kamu lupa hari ini ada tes?” tegur ibu guru di depan kelas, seperti yang sudah pernah terjadi.
Semua anak menatap Alma yang berdiri di samping papan tulis. Lagi-lagi Alma berada di posisi ini, padahal ia sudah memutar waktu untuk mendapatkan kesempatan belajar. Tak mau citra sempurnanya rusak, Alma kembali ingin memutar waktu. Kali ini ia ingin memutar lebih jauh lagi.
“Andai aku bisa memutar waktu mundur ke siang hari, di jam pulang sekolah kemarin,” ucapnya pelan.
Puf! Alma tiba-tiba berada di tempat duduknya. Bel sekolah berbunyi. Waktunya pulang sekolah. Alma menghela nafas lelah. Ia benar-benar pusing sekarang.
Alma melangkah gontai sepanjang perjalanan pulang. Siang itu panas sekali. Kepala Alma semakin pusing. Tidak tahan, Alma akhirnya memilih duduk sebentar di sekitaran taman yang ia lewati. Di bawah pohon rindang yang menyejukkan, ia merasa lebih tenang.
Alma mulai merasa lega. Namun, tiba-tiba ia teringat bahwa besok akan ada tes matematika yang sudah dua kali gagal. Jika gagal lagi, citra buruknya akan terjadi dan ia tidak punya pilihan selain memutar waktu lagi. Alma tidak mau citra sempurnanya hancur begitu saja. Alma mengusap kepalanya yang kembali pusing.
Pablo, anak yang pernah mengejek Alma sedang berjalan pulang melewati taman yang sama. Ia melihat Alma sedang duduk sendirian di taman.
“Hei Alma, kau sedang apa?” tanya Pablo yang seketika mengejutkan Alma.
Dalam keadaan yang sangat tak karuan, Alma kembali terbata-bata, “Eh.. a-apa?” Alma perlahan mendongak menatap Pablo.
Pablo tertawa, “Wah kau ternyata masih sedikit seperti ayam.”
Dalam keadaan seperti ini, terbata-bata, bahkan di depan Pablo yang pernah meledeknya, Alma biasanya akan memilih untuk memutar waktu. Namun, sungguh Alma sudah tidak punya tenaga lagi. Akhirnya ia membiarkan percakapan itu berjalan dengan semestinya.
“Terserah kau saja Pablo. Aku memang seperti Ayam!” ucap Alma ketus, berharap Pablo segera pergi.
Pablo terdiam. Tak disangka, Pablo justru melangkah ke kursi di samping Alma, “Kau tersinggung, ya? Maaf ya, Alma.”
Alma memalingkan wajahnya, tidak peduli.
“Dulu aku juga bicara seperti ayam,” kata Pablo.
Alma menoleh ke arah Pablo, tetapi tidak berkata apa-apa. Pablo melanjutkan omongannya, “Kalau kuingat lagi, kurasa aku lebih ayam daripada kau waktu itu, hahaha,” Pablo tertawa.
Melihat Pablo menertawakan dirinya sendiri, Alma perlahan tersenyum dan terkekeh, “Maksudmu, kau dulu lebih terbata-bata?” tanya Alma sambil mengarahkan tubuhnya menghadap Pablo.
“Ya. Kakak ku mengatakan aku Pablo si ayam karena cara bicaraku. Awalnya aku juga kesal, tapi kalau dipikir-pikir ayam kan lucu jadi aku tidak masalah, hahaha,” Pablo tertawa lagi.
Alma mengerutkan dahinya, “Jadi kau terima di sebut ayam oleh kakakmu?”
“Ya, tidak juga. Aku belajar berani bicara setelah itu. Tidak mudah, tidak langsung lancar, aku malah berpikir untuk menyerah saja. Tetapi akhirnya aku bisa karena aku memilih untuk melatihnya daripada hanya kesal saja. Lebih bagus begitu kan?” jelas Pablo.
Alma terdiam. Suatu pertanyaan terbesit di kepalanya, “Tetapi akan lebih mudah jika kau punya kekuatan memutar waktu dan memperbaiki setiap kesalahanmu kan?” Alma bertanya balik.
Kali ini Pablo yang mengerutkan dahi, “Kalaupun kekuatan seperti itu ada, tetap saja lebih baik benar-benar berlatih percaya diri. Jadi kita bisa mampu dengan sendirinya.”
“Tetapi kau thau 'kan bagaimana rasanya menyesal karena tidak sempurna? Aku mau sempurna dan tidak terbata-bata lagi. Aku tidak mau disebut seperti ayam!” jawab Alma.
Pablo terdiam sejenak, lalu menggaruk kepalanya, “Kau ini bicara tentang sempurna terus. Memangnya menurutmu, sempurna itu yang seperti apa?”
“Sempurna itu ya seperti..” Alma bersiap menjawab Pablo. Namun seketika lidah Alma tercekat. Bingung menjawab pertanyan Pablo.
Alma terdiam. Ia menyadari bahwa dirinya sendiri pun bingung dengan nilai kesempurnaan. Alma baru sadar bahwa selama ini ia terus memutar waktu karena selalu merasa kurang sempurna. Pada akhirnya, setelah semua ini, Alma belum juga merasa sempurna.
Tawa Pablo seketika membuyarkan lamunan Alma, “Hahaha, kau bicara tentang kesempurnaan, tapi kau bahkan tak tau yang sempurna itu seperti apa. Kau ini lucu sekali!” Pablo tak henti-hentinya tertawa.
Alma tidak bisa berkata apa-apa lagi. Pablo benar. Alma ingin sempurna, tetapi tidak tahu yang sempurna itu seperti apa. Jika dipikirkan lagi, Alma akhirnya menyadari bahwa yang sempurna itu tidak ada. Kita hanya perlu belajar memperbaiki kekurangan kita tanpa harus benar-benar menjadi sempurna, seperti yang Pablo lakukan.
“A-aku harus pergi,” kata Alma sambil berlari meninggalkan Pablo yang kebingungan.
Alma berlari menuju satu tempat, tentu saja, toko nenek Danti. Alma berlari secepat mungkin. Ia ingin menarik kekuatan ini dan mengatasi kekurangannya dengan cara yang benar.
Alma berhenti tepat di mana toko itu seharusnya berdiri. Betapa terkejutnya Alma bahwa bangunan itu justru sudah berubah menjadi lahan kosong. Anehnya, tidak ada bekas bangunan yang baru saja dirobohkan. Seakan-akan toko itu seperti tidak pernah berdiri. Tubuh Alma membeku, tidak percaya dengan apa yang di depannya. Matahari sedang terik-teriknya, tetapi Alma masih berdiri di depan lahan kosong itu. (Septia Virginia Marpaung)
Editor: Gisella Putri Hapsari

Tulis Komentarmu