Lebih dari Sekadar Relawan, Bagaimana Proyek AIESEC Membentuk Generasi Muda yang Siap Mendunia
![]() |
| Sesi Potret Bersama Seluruh Panitia dan Volunteer IGV On The Map 2026 (Sumber: AISEC in UPNVY) |
Yogyakarta, Sikap - Menjadi relawan seringkali dipandang sebagai bentuk kontribusi kepada masyarakat. Namun, banyak anak muda menganggap pengalaman tersebut juga menjadi ruang untuk bertumbuh, mengenal dunia dari sudut pandang yang lebih luas, sekaligus menemukan potensi yang belum pernah mereka sadari. Hal inilah yang dirasakan oleh para Local Volunteer dalam Incoming Global Volunteer (iGV) On The Map Summer Peak 2026 yang diselenggarakan oleh AIESEC in UPN "Veteran" Yogyakarta pada 7 Agustus 2026
Mengusung Sustainable Development Goal (SDG) 8.9 tentang pariwisata berkelanjutan, proyek On The Map mengajak pemuda lokal untuk berkolaborasi bersama Exchange Participants dari berbagai negara dalam memperkenalkan potensi wisata, budaya, dan UMKM lokal kepada masyarakat yang lebih luas. Di balik berbagai kegiatan yang dijalankan, proyek ini tidak hanya memberikan dampak bagi komunitas sasaran, tetapi juga menghadirkan perjalanan pembelajaran yang membentuk karakter para relawannya.
Berdasarkan pengalaman yang dibagikan para Local Volunteer, salah satu perubahan paling nyata setelah mengikuti proyek ini adalah meningkatnya rasa percaya diri, terutama dalam berkomunikasi menggunakan bahasa Inggris. Banyak peserta mengaku awalnya bergabung dengan tujuan sederhana, seperti ingin melatih kemampuan bahasa Inggris atau mengisi waktu selama liburan semester. Namun, proses belajar yang mereka alami ternyata jauh melampaui ekspektasi.
Berinteraksi setiap hari dengan peserta internasional membuat para relawan lebih terbiasa untuk berdialog menggunakan bahasa inggris. Kegiatan bersama ini secara tidak langsung juga mendorong para relawan untuk lebih berani memulai komunikasi beserta diskusi tanpa harus merasa takut melakukan kesalahan.
Selain kemampuan berkomunikasi, proyek ini juga menjadi wadah bagi para peserta untuk mengembangkan berbagai keterampilan lain yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja saat ini. Bekerja bersama individu dari latar belakang budaya yang berbeda menuntut kemampuan beradaptasi, menyelesaikan masalah, mengatur waktu, serta bekerja sama dalam tim yang beragam.
Tidak sedikit peserta yang harus membagi waktu antara kegiatan proyek dengan perkuliahan, persiapan magang, maupun aktivitas pribadi lainnya. Kondisi tersebut justru menjadi latihan nyata untuk meningkatkan kemampuan mengelola prioritas dan bertanggung jawab terhadap setiap peran yang dijalankan.
Lebih jauh lagi, pengalaman terlibat langsung dalam proyek ini turut mengubah cara pandang para relawan terhadap pariwisata berkelanjutan. Sebelumnya, pariwisata sering dipahami sebatas destinasi yang menarik untuk dikunjungi. Namun, setelah mendampingi berbagai aktivitas bersama UMKM dan komunitas lokal, para peserta mulai menyadari bahwa pariwisata juga berkaitan erat dengan pelestarian budaya, penguatan ekonomi masyarakat, serta upaya memperkenalkan potensi lokal kepada dunia.
Melalui kolaborasi dengan pelaku UMKM dan pengelola destinasi wisata, para relawan melihat secara langsung bahwa masih banyak potensi daerah yang memiliki nilai tinggi, tetapi belum mendapatkan eksposur yang memadai. Kehadiran pemuda lokal yang bekerja sama dengan relawan internasional menjadi salah satu langkah untuk memperluas jangkauan promosi sekaligus membangun kesadaran akan pentingnya mendukung produk dan budaya lokal.
Pengalaman lintas budaya menjadi aspek lain yang paling membekas bagi para peserta. Bekerja bersama Exchange Participants dari berbagai negara membuka ruang untuk saling bertukar perspektif, memahami perbedaan kebiasaan, serta belajar menghargai keberagaman.
Interaksi tersebut tidak hanya terjadi saat menjalankan agenda proyek, tetapi juga melalui berbagai momen sederhana, seperti menjelajahi sudut-sudut Kota Yogyakarta, mengenalkan budaya lokal, mengunjungi destinasi wisata, hingga berbincang santai di luar kegiatan resmi. Dari pengalaman-pengalaman tersebut, para peserta menyadari bahwa persahabatan lintas negara dapat terjalin melalui rasa ingin belajar, saling menghargai, dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Di sisi lain, budaya apresiasi yang dibangun selama proyek juga menjadi nilai yang banyak dirasakan oleh para Local Volunteer. Lingkungan yang mendorong setiap individu untuk berani menyampaikan pendapat, saling mendukung, dan menghargai kontribusi satu sama lain membuat proses pengembangan diri terasa lebih bermakna. Para peserta tidak hanya belajar untuk memberikan dampak kepada masyarakat, tetapi juga tumbuh bersama sebagai individu yang lebih percaya diri, terbuka, dan siap menghadapi tantangan baru.
Rangkaian pengalaman tersebut menunjukkan bahwa menjadi relawan bukan sekadar tentang menyelesaikan program kerja atau menambah portofolio. Lebih dari itu, kegiatan sukarelawan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan anak muda dengan berbagai pengalaman nyata yang sulit diperoleh melalui proses pembelajaran formal.
Melalui Incoming Global Volunteer On The Map Summer Peak 2026, AIESEC in UPN "Veteran" Yogyakarta menunjukkan bahwa kolaborasi antara pemuda lokal dan relawan internasional mampu menciptakan dampak yang saling menguatkan. Masyarakat memperoleh manfaat melalui promosi budaya, pariwisata, dan UMKM, sementara para relawan mendapatkan bekal berupa keterampilan, perspektif global, serta keberanian untuk terus berkembang. (Adine talitha putri hermawan)

Tulis Komentarmu