Kisah Ibu Kimpul: Berawal dari Keterbatasan Pangan, Hingga Keinginan Untuk Menyuarakan Pangan Lokal
![]() |
| Potret Ibu Suratini yang sekarang lebih dikenal dengan Ibu Kimpul (Sumber: Romadhon) |
Yogyakarta, Sikap - Suratini, yang sering disapa Ibu Kimpul ialah seseorang dibalik akun TikTok dan Instagram Black Sheep. Konten kreator yang tinggal di Bantul, Yogyakarta ini mulai dikenal oleh masyarakat karena konten mengolah kimpul menjadi makanan modern.
Ia juga mempunyai slogan tersendiri yang berbunyi, “Karena tidak ada, jadi saya ganti dengan kimpul”. Pembawaannya yang luwes dan tidak kaku membuat Suratini semakin terkenal.
Perempuan asal Kulonprogo namun tinggal di Bantul ini dulunya tumbuh di tanah yang tandus, jauh dari hamparan sawah. Orangtuanya tidak memiliki sawah, dan letak kampung halamannya pelosok. Kondisi tersebut membuat beras sulit dijangkau. Untuk itu, Suratini dan keluarga mengonsumsi umbi-umbian seperti kimpul untuk bertahan hidup. Hal itulah yang mendorong Suratini bertekad untuk membuat pangan lokal yang sudah mulai ditinggalkan kembali muncul ke permukaan. Suratini juga menyadari untuk menuai hasil tersebut ia harus menggunakan media sosial karena sekarang semua hal sudah serba digital.
Sebelum menjadi konten kreator, Ia adalah seorang ibu rumah tangga yang mempunyai usaha konveksi. Perjalanannya menjadi konten kreator dimulai pada awal tahun 2026. Dia meminta dukungan dari keluarganya untuk memulai kesibukan baru. “Tak belajar ngonten ya, siapa tau semoga setahun kedepan bisa jadi manfaat, saya izinnya sama keluarga hanya seperti itu”, ujar Suratini.
Awalnya konten yang dibuat tidak berfokus pada pangan lokal, melainkan konten random namun tetap dekat dengan kehidupan Suratini. Mulai dari kehidupan pasar tradisional, makanan tradisional, hingga konten berbagi resep masakan. Sayangnya, audiens konten-konten tersebut masih terbatas pada seusianya. Belum cukup kuat untuk menjangkau masyarakat luas terutama generasi muda. Hanya sebatas romantisme masa lalu tanpa keberlanjutan.
Kemudian, ia menerka-nerka sembari mengingat apa hal yang paling bisa ia jelaskan. Apa yang bisa memberi manfaat kepada masyarakat luas seperti tujuan awalnya. Hingga akhirnya mengarah kepada kreasi pangan lokal. Sesuatu yang ia rasa familiar, juga didukung dengan kegemarannya dalam memasak. Salah satunya adalah kreasi olahan populer berbahan dasar kimpul. “Pangan lokal itu ada banyak yang bisa jadi alternatif, nggak harus mengganti nasi, tapi sebagai keragaman pangan,” jelasnya.
Suratini mengatakan dia tidak hanya berfokus pada kimpul, dan justru cukup kaget mengapa bisa yang lebih terkenal adalah olahan kimpul. Namun kimpul sendiri memang lebih mudah untuk didapatkan. Ketersediaannya ada sepanjang tahun, tidak seperti sorgum atau koro yang musiman.
Ketenaran yang menimpa Suratini memberi banyak perubahan. Terutama pertemuan dengan orang-orang yang dulu tidak bisa dijangkau dan tidak bisa diakses olehnya. Suratini juga mengatakan dia belajar banyak hal setelah ia viral. Belajar pangan lokal yang dibudidaya di daerah lain, sehingga ia merasa kagum dengan kekayaan alam. “Jadi saya bisa belajar, lebih mengenal pangan lokal selain di daerah yang saya tinggali, semakin kagum dengan kekayaan alam yang kita miliki dan mulai dilupakan”, kata Suratini.
Ia juga mendapat banyak tawaran kerjasama setelah popularitasnya meningkat. Namun, tawaran yang diterima terbatas. Suratini tetap melakukan kurasi apakah tawaran tersebut benar-benar selaras dengan apa yang ingin ia suarakan atau hanya sebatas komersil saja. Menurutnya, ini sekaligus menjadi ujian bagi dirinya untuk tidak tamak. Keluarga menjadi support utama sekaligus pengingat dirinya untuk semampunya saja.
Dalam membuat konten, tidak ada plan khusus yang kaku terkait berapa jumlah konten dalam sehari. Hal itu akibat dari kesibukan dunia nyata Suratini yang tidak hanya seorang konten kreator namun masih harus bekerja di konveksi juga. “Kalo ada acara keluar kadang tidak bisa ditentukan, bisa jadi take 2 video namun belum tentu jika masih banyak acara di luar”, imbuhnya.
Ia berprinsip semua yang ia lakukan berawal dari belajar dan ngalir aja. Tidak menunggu siap untuk memulai sesuatu. “Kalo nunggu siap nanti nggak siap-siap, jalan dulu nanti lama-lama akan ketemu alurnya”, ujar Suratini menyemangati. Menurutnya, banyak sekali orang di luar sana yang bertindak seperti itu. Apalagi orang dengan keterbatasan modal dan pengetahuan, mereka dituntut untuk selalu seperti itu.
Ia berharap nantinya masyarakat kelas menengah kebawah mempunyai semangat yang sama seperti dirinya. Khususnya ibu rumah tangga dan generasi muda. Mereka diharapkan untuk lebih kreatif lagi dalam mengembangkan keberagaman gizi seimbang dan menyuarakan pangan lokal. (Rahma Aulia, Yaffa Cantika Putri)
Editor: Nayla Enzethiana Wiandaputri Santoso

Tulis Komentarmu