Header Ads

Pasar Lawas Mataram Kembali Hadir, Ramaikan Kotagede Selama Tiga Hari

Ramainya Suasana Pasar Lawas di Pagi Hari dan Para Pedagang sedang Menjajakan Jajanannya. (Sumber: Yaumiedka Vitra Naviry/LPM Sikap)

Yogyakarta, Sikap - Pasar Lawas Mataram memasuki hari kedua penyelenggaraan pada Sabtu (26/9/2026), setelah resmi dibuka pada Jumat (25/9/2026). Event ini diselenggarakan selama tiga hari hingga hari Minggu (27/9/2026). Festival budaya dan kuliner bertema nostalgia ini yang awalnya digagas oleh mantan Lurah Desa Jagalan sebagai wadah pemberdayaan pelaku UMKM dan seni lokal. 

Wakil Ketua Panitia Pasar Lawas Mataram, Vidyand Eggy, mengatakan acara ini digelar untuk mengangkat potensi UMKM dan pelaku seni di Desa Jagalan.

"Event ini adalah event memberdayakan masyarakat sekitar, khususnya di Desa Jagalan. Beliau ingin mengangkat semua potensi dan memberikan wadah untuk seluruh pelaku UMKM serta pelaku seni yang ada di Desa Jagalan," ujar Vidyand.

Berawal dari hanya beberapa tenant, lalu berkembang hingga memenuhi pelataran Masjid Mataram Kotagede yang menjadi tempat diadakannya Pasar Lawas tersebut.

“Dulu di tahun 2017 pertama kali. Terus mulai ada 15 tenant kemudian 17 tenant kemudian sekarang sudah mencapai 51 tenant,” ujar Vidyand.

Pertumbuhan tenant tersebut turut memicu peningkatan pengunjung sejak hari pertama dibuka. Vidyand menambahkan, tingginya animo masyarakat tidak lepas dari peran media sosial dalam menyebarkan informasi acara secara luas, ditambah promosi dari mulut ke mulut warga sekitar. 

“Wah respon masyarakat itu sangat antusias sekali karena dari sosial media kan kita ada di zaman sekarang itu sosial media sudah kuat banget ya dari sosial media engagement dari sosial media kita aja udah sangat tinggi kemudian getok tular (mulut ke mulut) dari masyarakat sekitar juga sangat powerfull untuk membuat pengunjung-pengunjung itu datang ke sini,” Ujar Vidyand.

Para pedagang yang berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini juga merasakan adanya kemajuan Pasar Lawas Mataram dari tahun ketahun. Mereka juga sangat antusias dalam berjualan di festival lawas ini. 

Sejumlah pedagang yang telah lama berpartisipasi mengaku terus mengalami peningkatan jumlah pembeli dari tahun ke tahun. Triningsih, salah satu pedagang yang telah berjualan di Pasar Lawas Mataram sejak 2018, mengatakan event ini semakin ramai dibanding tahun-tahun sebelumnya. 

Pedagang lain, Naning, menyebut ada persiapan khusus yang harus dilakukan sebelum berjualan di Pasar Lawas Mataram mengingat tingginya jumlah pengunjung, terutama pada sore hingga malam hari.

"Persiapan khusus pastinya ada. Nanti kalau sore sampai malam, saking ramainya, sampai tidak sempat duduk. Jadi semua harus sudah dipersiapkan dari awal," tutur Naning.

Naning menambahkan, panitia menerapkan sistem pembagian jenis dagangan antar-tenant untuk menjaga variasi kuliner sekaligus pemerataan penjualan.

"Saya jualan yang sama tiap tahunnya. Sebagai contoh, jika satu tenant sudah berjualan kupat, tenant lain tidak boleh menjual yang sama, kecuali makanan pendamping yang jumlahnya dibatasi satu atau dua tenant saja, supaya semua bisa laku," ucap Naning.

Sementara itu, pengunjung yang datang juga sangat antusias dan merasa bernostalgia dengan banyaknya jajanan tradisional yang saat ini sudah jarang ditemukan, Bukan hanya orangtua dan orang dewasa saja, remaja dan anak-anak pun juga turut hadir meramaikan Pasar Lawas ini.  

Tyas dan Dwina yang merupakan sepasang anak dan ibu, merasa jadi bernostalgia ketika mengunjungi Pasar Lawas Mataram ini. 

“Di pasar lawas ini kan banyak jajanan tradisional, jadi saya jajan sambil bernostalgia,” ujar Tyas.

Tidak hanya sekadar mencari jajanan lawas, Tyas mengungkapkan bahwa acara seperti ini memang sangat penting untuk diselenggarakan lebih sering agar konsep lawas ini tetap dilestarikan oleh anak muda dan dikenang oleh orang tua. 

“Lebih sering lebih bagus sih supaya anak muda sekarang bisa mengenal makanan tradisional, makanannya juga biar nggak punah ya, kalau nggak dilestarikan bisa punah. Selain itu, untuk orang tua, orang senior seperti saya bisa bernostalgia,” ujar Tyas. 

Dwina sang anaknya pun menambahkan bahwa ia tertarik kesini untuk mencari geblek dan es limun, karena geblek udah jarang ditemukan di tempat lain. 

Di balik kemeriahan, Tyas dan Dwina juga menyoroti tata letak pedagang yang dinilai kurang rapi dan lorong yang sempit di dalam Napak Tilas Mataram. Tyas dan Dwina menyarankan agar area jualan diperluas ke depan, sementara pusat acara tetap berada di dalam.  

“Bisa lebih dikembangkan tata letak para pedagangnya karena terlihat masih berantakan, tetapi melihat juga di dalam Napak Tilas Mataram ini yang memang terlalu sempit, saya juga merasakan seperti pengunjung lain yang kurang leluasa dan kadang bertabrakan ketika berjalan didalam sini, saran saya untuk bisa diperluas dagangannya dari depan tetapi tetap pusat acaranya di dalam Napak Tilas Mataram ini,” ujar mereka. 

Masukan ini menjadi catatan penting bagi panitia untuk meningkatkan kenyamanan dan keamanan pengunjung pada edisi mendatang, sekaligus menjaga keberlanjutan ruang nostalgia yang ditawarkan Pasar Lawas Mataram. (Anisa Nuraini Nastiti, Yaumiedka Vitra Naviry)

Editor: Nayla Enzethiana Wiandaputri Santoso 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.