Header Ads

Stigma Warna Pink di Laki-laki Ketika Dikaitkan dengan Maskulinitas

Ilustrasi Seorang Laki - Laki yang menggunakan pakaian berwarna pink. (Sumber: Magnific.com)

Yogyakarta, Sikap - Warna pink bagi sebagian orang hanyalah sekedar pilihan warna saja. Tetapi, ketika warna tersebut digunakan oleh Laki - laki, dianggap memengaruhi maskulinitas seseorang bahkan kerap kali dikaitkan dengan feminitas. Stigma tersebut menunjukkan bahwa warna tidak sekedar menjadi persoalan selera, tetapi juga menjadi simbol yang membentuk cara seseorang memandang berdasarkan gender. 


Anggapan bahwa warna tertentu yang identik dengan gender tidak langsung begitu saja, ada proses sosial dan budaya yang berlangsung dalam waktu panjang sehingga makna tersebut melekat. Warna pink misalnya, dimana ia memiliki sejarah dalam penggunaannya yang justru berbeda dari anggapan masyarakat saat ini.


Meike Lusye Karolus, salah satu dosen Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta, mengatakan maskulinitas tidak dapat dapat langsung saja dipahami sebagai sesuatu yang hanya memiliki satu bentuk. Begitu pula dengan warna yang memang pada dasarnya bersifat netral dan tidak melekat pada gender tertentu. Menurutnya, masyarakatlah yang kemudian membentuk sistem dan struktur sosial yang memberikan label gender pada warna.


“..warna itu neutral, kita lah sebagai manusia yang kemudian membuat sistem membuat struktur yang menentukan ini buat perempuan, ini buat laki-laki..” ujarnya.


Meike juga melihat adanya mahasiswa yang masih memegang standar maskulinitas yang cukup kuat, tetapi ada juga yang lebih terbuka dalam mengekspresikan dirinya. Ia melihat mahasiswa di bidang Ilmu Sosial dan Humaniora cenderung memiliki ruang ekspresi yang lebih leluasa karena mendapat pengetahuan mengenai konstruksi sosial dan gender.


Salah satu mahasiswa Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis angkatan 2025, Alvito Fadhila Anabil mengaku menyukai warna pink dan menggunakannya pada beberapa barang miliknya. Ia juga kerap kali mendengar anggapan bahwa laki - laki yang menyukai warna pink dianggap feminim dan kurang maskulin.


Mengetahui hal tersebut, Alvito memilih untuk tetap menggunakannya dan ia merasa tidak perlu untuk menyembunyikan atau mencari pengakuan dari orang lain.


“Aku cuma pake yang warna aku suka yaudah aku pake aja sehari-hari tanpa harus meminta validasi teman-teman, validasi orang lain itu enggak, karena aku cuma pengen aja.” Ujar Alvito.


Bagi Alvito sendiri, persoalan warna juga tidak pernah menjadi pembahasan yang serius dalam lingkungan pertemanannya. Ia juga menilai kesukaan terhadap warna tertentu tidak dapat dijadikan ukuran untuk menentukan apakah seseorang tersebut maskulin atau tidak.


“Kalau untuk keterkaitan warna kita sama sekali gak pernah ngobrolin itu. Karena sebenarnya pada dasarnya kalau orang suka warna atau segala macam itu kan bukan acuan bahwa dia tuh tidak laki-laki gitu loh,” Katanya.


Meike Lusye Kurolus menyampaikan bahwa maskulinitas bukanlah sesuatu yang tunggal dan kaku. Apalagi hanya berpaku pada warna yang disukai.


Meike melihat kondisi ini sebagai bagian dari perubahan cara pandang masyarakat dalam memahami gender. Baginya semakin terbukanya akses informasi membuat masyarakat memiliki kesempatan untuk mengenal bentuk ekspresi gender yang lebih beragam dan standar maskulinitas yang sebelumnya dianggap baku pun mulai dipertanyakan.


“Maskulinitas itu tidak tunggal tidak kaku,” Tegas Meike.


Jika ditelusuri secara historis, pada zaman dahulu pink dikonstruksikan pada laki-laki sedangkan warna biru lebih dekat dengan perempuan. Bahkan para raja dan anggota kerajaan laki-laki sering tergambar menggunakan warna pink. Namun bukan artinya para raja dan anggota kerajaan tidak maskulin.


“Laki-laki Prancis pada masa itu, mereka pakai pink dan itu maco menurut mereka,” ucap Meike memberi contoh. 


Seorang mahasiswa UPNVYK, Nanda Putra Sugiarto juga menyampaikan bahwa menurutnya maskulinitas tidak ditentukan oleh warna yang disukai, tetapi melalui sikap terhadap lingkungannya. Ia mengatakan ada banyak laki-laki maskulin yang menyukai warna pink. Sedangkan ada juga laki-laki feminim yang memiliki style metal atau bernuansa warna gelap.


Standar maskulin yang kaku tersebut yang justru menyingkirkan bentuk-bentuk kemaskulinitasan lain atau ekspresi gender lainnya yang dianggap menyimpang. “Penyimpangan” itulah yang akhirnya menghasilkan sebuah stigma.


Berjalannya waktu, Stigma terhadap warna pink dirasa sudah mulai bergeser, utamanya bagi generasi muda. Jika seringkali orang tua melarang anak laki-lakinya memiliki barang berwarna pink, sebagian generasi muda, utamanya mahasiswa, sudah tidak lagi menganggap itu sebagai sebuah penyimpangan.


Mudahnya akses informasi mengenai keterbukaan berdampak pada pergeseran stigma atau budaya-budaya lama. Saat ini, pink tidak hanya dianggap sebagai warna feminim tetapi direpresentasikan ke lebih banyak hal misalnya dianggap sebagai warna perlawanan. 


“...banyak banget asupan tentang keterbukaan, kayak warna udah lebih fleksibel dipakai sama siapa aja..,” ujar Nanda. 


Berdasarkan pengalamannya, setelah berpindah ke kota, laki-laki yang menggunakan warna pink bukan lagi dianggap tidak maskulin, tetapi membawa kesan ceria dan casual.


Melihat fenomena pergeseran stigma ini, Meike berpendapat bahwa stigma dapat diubah. Namun, mengingat stigma terbentuk dari sebuah sistem, perubahan tidak dapat hanya didukung di satu aspek saja. Dukungan perlu ada melalui pendidikan hingga institusi negara. 


“Dimulai dari membuka wawasan, bisa melalui pengadaan mata kuliah mengenai teori kritis sosial hingga budaya pertemanan atau komunitas,” jelas Meike.


Meike melanjutkan bahwa yang perlu diperhatikan adalah setiap orang memiliki kebebasan untuk mengekspresikan diri, tidak terbatas pada apa yang sudah dianggap lumrah oleh masyarakat. (Pandhu Wiratmoko, Salwa Azizah)


Editor: Pelangi Aulia Ramadhani Augusta

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.