Tren Lari Anak Muda, Antara Olahraga dan Ruang Eksistensi
Ilustrasi rombongan pelari. (Sumber: Pinterest)
Yogyakarta, Sikap - Deretan kendaraan yang melintas di kawasan Stadion Mandala Krida, Alun-Alun Kidul Yogyakarta dan sekitarnya setiap akhir pekan disambut oleh pemandangan yang kian lazim, ratusan pasang kaki anak muda yang saling berkejaran di atas aspal. Di sela-sela napas yang tersengal, jemari mereka sigap menekan tombol penghenti di aplikasi Strava, lalu berswafoto dengan latar belakang lintasan atau membagikan cuplikan video pendek ke Instagram Reels dan TikTok. Olahraga lari, yang dahulunya dikenal sebagai aktivitas fisik sederhana tanpa banyak perlengkapan, kini telah bergeser menjadi ritus gaya hidup perkotaan yang sarat akan visual dan konten digital.
Maraknya pemandangan ini menghadirkan diskursus menarik di tengah masyarakat. Di satu sisi, kehadiran tren di media sosial terbukti efektif mendobrak pola hidup pasif generasi muda menjadi lebih aktif bergerak. Namun di sisi lain, berkembangnya fenomena Fear of Missing Out (FOMO) hingga adu penampilan (outfit culture), memicu keprihatinan tentang batas tipis antara kesadaran menjaga kesehatan dan dorongan berburu validasi sosial.
Untuk memahami fenomena ini secara lebih dekat, perjalanan tidak dimulai dari panggung media sosial yang riuh, melainkan dari cerita-cerita personal para pelari muda yang memulainya dengan alasan yang beragam. Bagi sebagian orang, ketertarikan pada dunia lari bahkan tidak selalu lahir dari dorongan yang instan.
Bramantya Kimira Overdana, atau biasa disapa Bram, mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Gadjah Mada (UGM), mengenang awal perjalanannya yang sempat diwarnai rasa jenuh. Sempat berhenti berlari karena malas usai dicoba pertama kali pada 2017, Bram kembali diajak oleh orang tuanya pascapandemi COVID-19. Komitmennya baru benar-benar terbentuk saat sang ibu menawarinya pelatihan terstruktur.
"Ditanyakan sama mamaku, kira-kira mau serius lari nggak? Kalau mau serius lari, aku ikutin coach pelatihan gitu biar dari awal larinya benar formnya….Dan itu latihannya setiap Selasa dan Jumat pagi di Stadion Mandala Krida bareng coach gitu," kenang Bram.
Rutinitas bangun subuh dan latihan teratur itu tidak hanya menggembleng fisik Bram menjadi lebih tangguh, tetapi juga membentuk kedisiplinan serta menjaga kestabilan suasana hatinya berkat pelepasan hormon endorfin.
Berbeda dengan Bram yang terbentuk lewat jalur domestik keluarga, dorongan Ari Willyandri Karim, atau Willy, mahasiswa Administrasi Bisnis UPN "Veteran" Yogyakarta (UPNVY), justru datang dari layar ponselnya. Sebelum rutin berlari, Willy dikenal di lingkungan kerabatnya sebagai sosok yang paling enggan berolahraga.
"Sebelumnya aku sebenarnya jarang banget olahraga dan bahkan aku dikenal orang yang paling malas olahraga di keluarga. Tapi pemicunya dari media sosial, reels gue akhir-akhir ini keluarnya Dokter Tirta. Jadi dari situ terinspirasi, kalau bukan dari sekarang kita nyiapin kesehatan buat masa tua, kapan lagi," ujar Willy.
Sementara itu, bagi Rosa Kiara Darajingga, atau Jingga, mahasiswa Ilmu Komunikasi UPNVY yang juga mantan atlet cilik renang dan sepatu roda, berlari menjadi sarana merawat kesehatan mental di tengah padatnya jadwal organisasi kemahasiswaan.
"Semenjak jadi mahasiswa aku join beberapa organisasi dan ngerasa nggak ada waktu buat diriku. Kalau misalkan aku nggak olahraga, itu tuh bisa kelihatan perbedaannya di mood. Tapi kalau misalkan olahraga, aku tuh biasanya stresnya langsung hilang," tutur Jingga.
Terlepas dari latar belakang awal mereka, ketiga mahasiswa ini sepakat bahwa fenomena FOMO di media sosial tidak bisa serta-merta dicap negatif. Menurut Bram, ikut berlari karena tren jauh lebih menguntungkan bagi kesehatan masyarakat ketimbang tidak berolahraga sama sekali. Jingga dan Willy pun mengamini bahwa keriuhan tren berhasil menjadi pintu masuk bagi anak muda untuk mulai peduli pada investasi tubuh masa tua.
Namun, dibalik dampak positif tersebut, muncul pula kritik terhadap gejala salah kaprah dalam merayakan tren ini, khususnya terkait fenomena outfit culture. Bram, misalnya, menyoroti ketidaksesuaian penggunaan perlengkapan lari yang terkesan berlebihan hanya untuk mencari gaya.
"Kalau untuk orang yang ber-outfit culture gitu yang barang branded dan lain-lain gak masalah...Cuma yang mungkin agak mengganjal di hatiku itu ketika aku melihat orang lari santai easy run tapi menggunakan sepatu karbon," ungkap Bram.
Willy juga tidak menampik adanya dorongan untuk sekadar tampil eksis di media sosial.
"Buat jadiin bahan evaluasi biasanya suka ngeliatin Strava….Tapi kalau waktu-waktu butuh kan kita harus ngasih makan sosmed juga ya, jadi kadang-kadang suka pamerin dikit lah," ucap Willy jujur.
Walau begitu, Jingga menegaskan bahwa esensi berlari sejatinya tidak menuntut perlengkapan mahal.
"Aku sepatu cuma punya satu sepatu….Yang dicari itu sebenarnya kesehatannya, bukan FOMO branded segala macemnya," tegas Jingga.
Dewi Arimbi, alumni UPNVY yang kini aktif sebagai penggiat olahraga (sport enthusiast) dan content creator. Ia memandang meledaknya tren lari sebagai hal yang menggembirakan bagi tingkat kebugaran masyarakat, tetapi ia memberikan peringatan keras terhadap fenomena "FOMO toxic.”
"Ada satu sisi yang ikut-ikutan tren, tapi gak aware sama badannya. Jadi kayak baru satu bulan lari, bulan kedua sudah ikut maraton….It's okay untuk ikutin tren, tapi kita juga harus tahu kapasitas badan kita, karena kalau kita paksain tapi badannya gak kuat, itu berbahaya," tegas Arimbi.
Arimbi mengungkap fenomena di lapangan dimana sebagian orang kerap mengedepankan kepemilikan barang bermerek demi validasi internet sebelum benar-benar membangun konsistensi latihan. Menurutnya, mengenakan pakaian olahraga yang menarik memang dapat meningkatkan rasa percaya diri. Namun, persoalan muncul ketika penampilan tersebut semata-mata digunakan untuk mencari validasi dari publik.
"Kalau yang untuk memenuhi sosmed tuh, yang dicari pertama bukan start larinya, tapi kayak, oh aku harus punya baju Adidas, Nike, Saucony, Asics dulu gitu baru mulai lari….Penting untuk kenyamanan, bukan untuk validasi," tambah Arimbi.
Tren lari tidak dapat disederhanakan sekadar sebagai ajang pencarian eksistensi sesaat. Meskipun dorongan awalnya kerap dipicu oleh keriuhan media sosial, aktivitas ini perlahan terinternalisasi menjadi kebutuhan hidup yang bertahan lama bagi para pelakunya. Ketika keriuhan tren ini kelak meredup di linimasa digital, para pelari menegaskan komitmennya untuk tidak berhenti melangkah.
Namun, di luar komitmen personal para pelari, meledaknya jumlah pegiat olahraga di jalanan kota kini menyisakan persoalan mendesak terkait keselamatan lalu lintas dan minimnya fasilitas publik yang ramah bagi pejalan kaki. Arimbi menutup dengan desakan kritis kepada pemerintah daerah agar keriuhan tren ini diimbangi dengan pembenahan tata kota.
"Keamanan buat pelari ini tantangan sih buat feedback pemerintah kota daerah untuk menyediakan ruang yang aman dan nyaman….untuk meminimalisir kejahatan atau kecelakaan di jalan," desak Arimbi menggarisbawahi. (Nayla Enzethiana Wiandaputri Santoso, Nofari Tazkia Aulia)
Editor: Maharani Mantika Nailah

Tulis Komentarmu