Seruan Aksi 1 September, Suarakan Penurunan Rezim dan Lawan Kolonialisme Pemerintah
![]() |
| Sejumlah massa melakukan aksi di Simpang Empat Gramedia, Yogyakarta (Sumber: Sahaya Kinantan) |
Yogyakarta, Sikap – Aliansi Masyarakat Sipil dan Mahasiswa Yogyakarta menggelar aksi di kawasan Simpang Empat Gramedia, Yogyakarta, pada Selasa (1/9/2026). Aksi tersebut mengusung tajuk “Turunkan Rezim dan Lawan Kolonialisme Indonesia” sebagai bentuk penyampaian kritik terhadap kebijakan pemerintah dan berbagai persoalan nasional.
Massa aksi melakukan long march dari Bundaran UGM menuju kawasan Simpang Empat Gramedia dan tiba sekitar pukul 16.30 WIB. Setibanya di lokasi, massa menyampaikan sejumlah tuntutan melalui orasi serta berbagai kegiatan di ruang publik.
Perwakilan korlap aksi, Tony, mengatakan aksi tersebut dilatarbelakangi keresahan masyarakat sipil terhadap ruang gerak dalam menyampaikan aspirasi yang dinilai semakin sempit. Ia juga menyoroti keberadaan ormas, preman, serta instansi yang menurutnya dikuasai oleh orang-orang terdekat pemerintah.
“Keresahan masyarakat sipil merasa bahwa ruang gerak mereka itu semakin sulit dengan kenyataan bahwa rezim Prabowo sekarang itu memelihara ormas, memelihara preman, memelihara instansi-instansi yang dikuasai orang terdekat yang nggak akan berpikir panjang untuk melakukan tindakan-tindakan yang biadab terhadap sesama masyarakat sipil,” ujar Tony.
Selain persoalan politik, Tony menyebut isu alam dan kolonialisme Indonesia di luar Pulau Jawa sebagai bagian dari latar belakang aksi. Menurutnya, kolonialisme tidak selalu dilakukan melalui cara-cara militeristik, tetapi juga dapat terjadi melalui pengerukan sumber daya alam yang tidak seimbang serta persoalan masyarakat adat yang dinilai tidak diberdayakan.
“Tajuk aksinya itu turunkan rezim Prabowo-Gibran dan cabut kolonialisme Indonesia di periphery jajahannya,” kata Tony.
Terkait tuntutan utama, Tony mengatakan Aliansi Masyarakat Sipil dan Mahasiswa Yogyakarta menuntut agar rezim Prabowo-Gibran diturunkan. Ia menilai berbagai program dan proyek strategis nasional tidak selalu memberikan dampak yang baik kepada masyarakat.
“Kami tentu menuntut untuk rezim Prabowo-Gibran ini dapat diturunkan atau dilenyapkan segera mungkin karena kita sudah terlalu banyak melihat inkompetensi. Kita terlalu banyak melihat kasus-kasus di mana program atau proyek strategis nasional itu tidak memiliki dampak yang baik kepada masyarakat,” ujar Tony.
Ia juga menyoroti persoalan Makan Bergizi Gratis (MBG) serta proyek ketahanan pangan nasional yang dinilai mengorbankan hak masyarakat adat dan kelangsungan alam.
“Kami marah sama hal itu dan kami berharap bahwa kita mampu untuk menjalankan meritokrasi (menempatkan seseorang pada posisi sesuai kompetensi) aja sih, di mana yang tidak layak ya tidak usah ada,” lanjutnya.
Menurut Tony, rangkaian aksi berlangsung dengan lancar. Sejak awal, massa menargetkan kawasan tersebut sebagai ruang untuk melakukan okupasi ruang publik dan mengembalikannya kepada masyarakat.
“Tadi orasi, tadi ada teman-teman main kartu, main Uno segala macam. Senang sih, ada buka lapak buku juga. Ya suka sih akhirnya ruang ini bisa dikreasikan dengan sebaik mungkin,” kata Tony.
Salah satu peserta aksi, Sudharyono, mengatakan keputusannya mengikuti aksi dilatarbelakangi keresahan terhadap cara penanganan kebakaran hutan di Kalimantan. Ia merupakan warga Kalimantan yang sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta.
“Kebetulan saya juga lagi kuliah di Jogja. Terus waktu ada teman saya ngajak aksi, saya berpikir, saya bisa menyuarakan bahwa rumah saya itu kena asap, masuk ke dalam rumah. Radius sekitar 10 kilometer hutannya kebakar di sana,” ujar Sudharyono.
Ia juga mengatakan terdapat relawan yang meninggal saat berupaya memadamkan kebakaran hutan. Menurutnya, pemerintah perlu memberikan solusi yang lebih konkret terhadap persoalan kebakaran dan kerusakan hutan di Kalimantan.
“Harus ada solusi yang lebih konkret lah. Kayak misal pembalakan hutan tuh nggak usah diizinkan lah dalam bentuk apa pun. Soalnya dulu Kalimantan tuh kan paru-paru dunia. Sekarang nggak ada itu namanya paru-paru dunia. Cuma hoaks gitu, cuma cerita-cerita masa lalu,” ujar Sudharyono.
Hingga pukul 19.00 WIB, massa mahasiswa dan sejumlah elemen mulai dibubarkan oleh Pihak aparat kepolisian beserta ormas, kemudian massa aksi mulai berlarian untuk mundur dari lokasi aksi
Aksi tersebut menjadi ruang penyampaian kritik terhadap pemerintah sekaligus memperlihatkan beragam persoalan yang dibawa peserta, mulai dari isu politik hingga persoalan lingkungan (Faiz Hasyfi Fahimsyah, Rasyid Al-Hakim)
Editor: Pelangi Aulia Ramadhani Augusta

Tulis Komentarmu