Tren Mix and Match Kebaya, Kreativitas Gen Z Menjaga Budaya Tetap Hidup
Yogyakarta, Sikap - Kini fenomena berkebaya yang dipadukan dengan jeans, sneakers, hingga aksesori kekinian semakin sering ditemui terutama dari kalangan generasi Z (gen Z). Di tangan gen Z, kebaya tak lagi sekadar busana tradisional yang dipakai di acara tertentu. Pakaian ini kini menjadi cara mereka memadukan identitas budaya dengan gaya hidup modern sehari-hari.
Masing-masing pun memiliki cerita yang beragam mengenai mix and match kebaya yang mereka lakukan. Ada yang mulai mengenakan kebaya karena budaya di lingkungan fakultasnya, ada pula yang terdorong oleh pengalaman pribadi, hingga mendapatkan respons positif yang didapatkan dari lingkungan sekitar. Perbedaan latar belakang tersebut kemudian membuat cara setiap generasi Z dalam mengenakan dan memaknai kebaya menjadi beragam.
Salah satunya adalah Nathalie Joy Isabel, mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta, mulai melakukan mix and match kebaya semenjak dirinya duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA). Ketertarikannya memakai kebaya bermula ketika sekolahnya memiliki kebiasaan mengenakan pakaian adat setiap Kamis Pahing.
Nathalie kemudian mulai melakukan mix and match kebaya ketika menemani temannya mengikuti lomba. Saat itu, Nathalie merasa penggunaan jarik dan sandal selop kurang praktis untuk perjalanan yang cukup jauh. Nathalie pun mencoba memadukan dengan kebaya yang dipakai dengan jeans dan sneakers.
“Kadang dari sekolah minta untuk memakai pakaian adat, tapi mungkin karena anak SMA ya, jadi ngerasanya kok agak boring kalau cuma dipakai jarik doang. Kalau cuma pakai sandal selop yang bukan sepatu, sandalnya tipis, kok kita agak susah mobilisasinya kalau mau pergi ke mana-mana naik motor. Jadinya aku coba buat waktu menemani teman saya lomba, itu akhirnya coba pakai jeans dan pakai sneakers. Karena jaraknya lumayan jauh ya lokasinya,” jelasnya.
Dalam percobaan mix and match pertamanya, ternyata banyak pujian yang Nathalie dapatkan. Banyaknya pujian dan respons positif yang Nathalie dapatkan membuatnya menjadi semakin tertarik untuk lebih mengeksplor gaya berkebayanya.
Sejak saat itu, kombinasi kebaya dengan perpaduan jeans dan sneakers menjadi salah satu mix and match yang paling sering Nathalie gunakan. Bahkan ketika Nathalie duduk di bangku perguruan tinggi, Nathalie beberapa kali tetap mengenakan kebaya dengan perpaduan tersebut. Mix and match yang Nathalie lakukan membuat kebaya lebih leluasa untuk dikenakan untuk beraktivitas sehari-hari.
Menurut Nathalie, kebaya bukan hanya soal pakaian tradisional saja, kebaya membuat dirinya terlihat lebih feminim dan percaya diri.
“Aku merasa kalau teman-teman perempuan aku dan aku gak tahu kenapa ya, mungkin karena kalau kebaya itu sangat terlihat feminim ya. Jadi aku merasa aku dengan teman-teman ketika pakai kebaya itu kayak cantik banget. Benar-benar kita bisa prepare dari rambut terus jilbabnya yang panjang dan berwarna itu. Terus entah temanku yang perempuan yang kayak rambutnya digerai atau bisa pakai jepit yang berbunga-bunga gitu, aku merasa bisa lebih dress well dan cantik sih,” ujarnya.
Jika bagi Nathalie mix and match ini menjadi bagian dari gaya pakaiannya karena kebutuhannya untuk tetap nyaman bergerak, cerita berbeda datang dari Luthfia Hanifah Yasmin, mahasiswi Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM). Ketertarikannya justru tumbuh dari lingkungan kampus yang memperlihatkan bahwa kebaya dapat dikenakan dengan gaya yang lebih bebas dan nyentrik.
Ketertarikan tersebut mulai muncul ketika Hani memasuki dunia perkuliahan pada 2022. Saat masih menjadi mahasiswa baru (maba), Hani mulai terbiasa melihat fenomena “berkain” atau mix and match kebaya, batik, di lingkungan fakultasnya yang menurutnya menarik.
“Habis ospek tuh kayak hari-hari biasa waktu maba itu sering banget lihat orang-orang di kampus itu kayak seliweran gitu pakai kebaya dengan style yang nyentrik ala anak FIB gitu. Lalu aku liatnya kayak, kece banget, keren banget. Aku jadi lama-lama pengen cobain juga,” kata Hani.
Menurut Hani, pemakaian kebaya dalam aktivitas sehari-hari sebenarnya juga tidak sesulit yang selama ini dibayangkan. Selama pintar memadukannya dengan pakaian dan aksesori lain, kebaya tetap dapat digunakan untuk berbagai kegiatan. Bahkan mengenakan kebaya justru membuatnya merasa lebih percaya diri dan keren.
“Menurutku karena sebenarnya kebaya itu praktis-praktis aja, nggak yang seribet itu. Cuman tapi kalau aku sendiri pakai kebaya itu justru aku malah ngerasa lebih pede dan merasa lebih keren,” jelas Hani.
Ketertarikan Hani pada kebaya juga mendapat dukungan dari keluarganya yang dekat dengan dunia seni. Ia bahkan masih mengenakan koleksi kebaya dan kain jarik milik ibunya hingga kini.
Kebaya yang dikenakan Hani kemudian tidak hanya menjadi bagian dari penampilannya di lingkungan kampus. Ia juga beberapa kali membagikan gaya berkebayanya melalui media sosial. Salah satu unggahannya di TikTok bahkan mendapat respons yang lebih besar dibandingkan unggahan yang biasanya ia buat.
“Aku belum lama ini kan main ke kafe, terus dengan outfit kebaya di mix dengan selendang dan jeans begitu, terus aku upload lah di Tiktok, nah tiba-tiba itu belum ada 20 jam viewers nya tiba-tiba hampir 10 ribu, sedangkan aku kalo upload Tiktok biasanya viewers nya cuman kayak 500, 900, mentok-mentok seribuan dan itu tiba-tiba waktu aku pakai kebaya itu viewers nya hampir 10 ribu,” ceritanya.
Kenaikan views Tiktok yang Hani rasakan membuatnya merasa bahwa mix and match kebaya ini semakin banyak diminati orang-orang dan membuat dirinya terlihat cantik dan menarik.
Pengalaman Hani menunjukkan bahwa kebaya tidak hanya menemukan ruang di lingkungan kampus, tetapi juga di media sosial. Respons yang ia dapatkan dari unggahan tersebut menjadi salah satu gambaran bahwa gaya berkebaya dengan sentuhan modern mulai mendapat perhatian dari generasi muda.
Fenomena tersebut kemudian tidak terlepas dari perkembangan media sosial yang turut memperluas ruang bagi generasi muda untuk mengenal dan mengeksplorasi kebaya. Bagi Naftaly Putri Hariyandra, mahasiswa Pendidikan Tata Busana yang juga memiliki ketertarikan pada dunia fesyen, perkembangan media sosial menjadi salah satu faktor yang mendorong kebaya semakin dekat dengan generasi muda.
Naftaly melihat perkembangan media sosial sebagai salah satu faktor yang mendorong munculnya tren tersebut. Menurutnya, algoritma media sosial membuat berbagai konten mengenai kebaya semakin mudah ditemukan oleh anak muda, termasuk konten dari para kreator fesyen yang menunjukkan cara memadukan hingga membuat kebaya.
“Menurutku dinamika dan algoritma sosial media terutama ya, soalnya kan banyak content creator fesyen yang sekarang tuh membuat content tentang kebaya, fesyen gitu,” jelas Naftaly.
Perubahan cara berpakaian tersebut menurut Naftaly tidak lantas membuat kebaya kehilangan identitasnya. Naftaly justru melihat kebaya sebagai living heritage atau warisan budaya yang terus hidup karena mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman. Menurutnya, kebaya tetap dapat menjadi sarana ekspresi diri sekaligus mengikuti tren tanpa menghilangkan makna sebagai simbol identitas, baik identitas pribadi, asal-usul, maupun identitas negara. Kebaya tidak lagi harus selalu ditempatkan sebagai busana formal, tetapi dapat digunakan dalam kegiatan sehari-hari tanpa kehilangan relevansi maupun pakemnya.
Naftaly menilai kebaya sebagai busana tradisional sekaligus memiliki sifat yang fleksibel dan mampu beradaptasi dengan kebutuhan generasi masa kini. Menurutnya dengan adanya proses adaptasi tersebut tidak akan menghilangkan pakem maupun nilai yang terkandung dalam kebaya, melainkan dapat menjadi upaya agar kebaya tetap lestari dan relevan di tengah perkembangan era ini.
Meski demikian, Naftaly menilai kebebasan dalam memodifikasi kebaya tetap perlu memperhatikan elemen-elemen yang menjadi identitas utamanya. Menurutnya, modifikasi tidak berarti mengubah seluruh bentuk kebaya hingga kehilangan ciri.
"Bentuknya paling ini, ada bukaan depan. Kebaya itu selalu bukaannya di depan, tidak ada di belakang. Kalau mau buat modifikasi ya mikir gitu, karena bukaan kebaya itu pasti di bagian depan. Lalu juga ada garis leher, ada kerah, ada siluet juga yang selalu pas dengan tubuh. Kalau mau buat modifikasi ya tetap perlu memperhatikan elemen-elemen tersebut," jelas Naftaly.
Meski terdapat beberapa unsur yang perlu dipertahankan, Naftaly menegaskan bahwa modifikasi kebaya yang dilakukan generasi muda tetap merupakan bentuk pelestarian budaya. Menurutnya, kebaya yang terus dikenakan dan disesuaikan dengan perkembangan zaman menunjukkan bahwa warisan budaya tersebut masih hidup di tengah masyarakat.
Di era ini, kebaya tidak hanya dikenakan pada momen-momen tertentu. Di tangan generasi Z, kebaya dapat hadir bersama jeans, sneakers, dan berbagai gaya yang mereka ciptakan sendiri. Barangkali, cara itulah yang membuat kebaya tetap hidup dan bukan dengan membiarkannya berhenti di masa lalu saja karena sudah lama, tetapi dengan memberinya ruang untuk terus dikenakan dan dapat dimaknai oleh generasi yang berbeda. (Dania Putri Saskia)
Editor: Pelangi Aulia Ramadhani Augusta

Tulis Komentarmu