Header Ads

Makan Selesai, Tanggung Jawab Abai di Kantin UPN “Veteran” Yogyakarta

Kondisi salah satu meja di kantin UPN “Veteran” Yogyakarta Kampus Babarsari. (Sumber: Muhammad Adi Sutanto)


Yogyakarta, Sikap - Di kantin Kampus 2 UPN “Veteran” Yogyakarta, pemandangan piring dan gelas bekas yang tertinggal di meja makan masih kerap ditemui. Selain itu, sisa makanan dan minuman juga sering dibiarkan begitu saja setelah digunakan. Padahal, pihak kampus bersama pedagang telah menyediakan tempat sampah di berbagai titik serta fasilitas pengembalian peralatan makan. Namun, keberadaan fasilitas tersebut belum sepenuhnya mampu mengubah kebiasaan sebagian mahasiswa dalam menjaga kebersihan setelah makan.


Adanya kursi kosong bukan menjadi tanda bahwa kursi tersebut bisa ditempati. Pasalnya sampah dan bekas peralatan makan warga kampus masih berserakan di atas meja. Salah satu mahasiswa, Cinta Aurellya Haya Rahmaningtyas, mengungkapkan bahwa fenomena piring yang ditinggalkan di meja memang cukup sering terjadi. “Kalau sampah berserakan jarang, karena tempat sampah sudah banyak. Tetapi kalau piring ditinggal itu lumayan sering,” ujarnya. Dia menilai bahwa kondisi ini perlu segera ditangani sebelum menjadi kebiasaan yang semakin sulit diubah.


Menurutnya persoalan ini berkaitan erat dengan kesadaran individu. Dia berpendapat bahwa sampah dan peralatan makan minum yang digunakan seharusnya menjadi tanggung jawab pembeli. “Harusnya itu tanggung jawab masing-masing. Setelah makan, ya dikembalikan,” tambahnya.


Di sisi lain, pihak penjual juga merasakan dampak dari kebiasaan ini. Mei Wahyuni, salah satu penjual, mengatakan bahwa piring yang tertinggal hampir selalu ditemukan setiap hari, terutama setelah jam makan siang. Kondisi ini membuat pedagang harus membersihkan meja di tengah kesibukan melayani pembeli. “Kadang piring masih di meja semua, padahal pembeli lain sudah antre. Jadi harus dibersihkan dulu,” jelasnya. Kejadian ini tidak hanya memengaruhi kebersihan, tetapi juga kelancaran pelayanan di kantin.


Imbauan tertulis dari penjual untuk mengembalikan peralatan makan di tempat yang disediakan. (Sumber: Gisella Putri Hapsari)


Liputan yang dilakukan pada Rabu (1/4/2026) juga menemukan fakta bahwa pihak kampus dan penjual sudah berusaha untuk menyelesaikan masalah ini. Terdapat imbauan untuk menjaga kebersihan di lingkungan kantin dan berbagai titik pengembalian peralatan makan di setiap gerai. Mei merasa langkah tersebut menghasilkan perubahan meskipun belum signifikan.


Di sisi lain, Cinta juga menyarankan agar fasilitas tersebut ditempatkan di lokasi yang lebih mudah terlihat dan dijangkau. Menurutnya langkah edukasi seperti imbauan dan penyediaan fasilitas adalah langkah yang tepat. Alih-alih menerapkan sanksi, pendekatan persuasif dinilai lebih efektif untuk membangun kesadaran bersama. Edukasi sederhana mengenai pentingnya menjaga kebersihan dinilai dapat menjadi langkah awal untuk mengubah kebiasaan yang sudah terlanjur terbentuk.


Pada akhirnya, persoalan ini bukan sekadar piring dan sampah yang tertinggal di atas meja. Lebih dari itu, kejadian ini mencerminkan tingkat kesadaran dan tanggung jawab yang masih rendah di lingkungan kampus. Tanggung jawab dan kesadaran kecil seperti membereskan meja setelah makan adalah cerminan pada tanggung jawab dan kesadaran yang lebih besar. (Muhammad Adi Sutanto)


Editor: Gisella Putri Hapsari


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.