Header Ads

Sudamana dan Setengah Abad Eksistensi Kusir Delman Malioboro


Potret Sadumana yang selalu hangat dan ramah saat menyambut penumpang. (Sumber: Ninda Yutika)

Saat berjalan menyusuri Malioboro, kita akan terpukau oleh suasana yang khas. Toko-toko di sekitar jalan ini menjajakan berbagai barang kerajinan tangan, pusat perbelanjaan modern, hingga makanan yang lezat membuat Malioboro kian menarik banyak wisatawan. Namun, di balik kegemerlapan modernitas, terdapat satu sosok yang telah menjadi bagian tak terpisahkan dari sejarah Malioboro, yaitu kusir delman.

Sebagai kendaraan tradisional yang menggunakan kuda sebagai tenaga penggeraknya, delman banyak digunakan di masa lalu sebagai alat transportasi utama di Yogyakarta. Kusir delman adalah seseorang yang memandu delman serta menjaga kuda-kuda tersebut. Di sepanjang jalan Malioboro, masih terdapat banyak delman yang sibuk mengantar penumpang dari satu tempat ke tempat lainnya. Sosok kusir delman menjadi ikonik dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat Yogyakarta.

Sosok kusir delman memiliki keahlian khusus dalam mengendalikan kuda dan menjaga delman tetap berjalan dengan baik. Pada umumnya, mereka berpakaian khas dengan menggunakan topi dan seragam yang terlihat apik berupa sorjan dan blangkon. Pada masa itu, menjadi kusir delman adalah profesi yang dihormati dan dianggap prestisius. Kusir delman juga sering kali dikenal dengan kepiawaian mereka dalam menghibur penumpangnya. Mereka mampu menyanyikan lagu-lagu tradisional atau bercerita tentang sejarah dan budaya Yogyakarta kepada para penumpangnya, sehingga memberikan pengalaman yang lebih berkesan. Namun, seiring dengan perkembangan zaman dan berkembangnya model transportasi modern seperti mobil dan motor, peran kusir delman semakin tergeser. Masyarakat beralih menggunakan kendaraan pribadi atau angkutan umum modern untuk berpindah tempat. 

Meski sosok kusir delman semakin langka, tetapi mereka tetap hidup dalam ingatan dan kenangan masyarakat Yogyakarta. Kusir delman di Malioboro telah menjadi bagian dari sejarah dan identitas kota ini. Untuk mengenang dan mempertahankan keberadaan mereka, beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah dan kelompok masyarakat setempat. 

Salah satu sosok kusir delman yang masih eksis dan memiliki sikap yang sangat ramah serta hangat kepada setiap penumpangnya, namanya Sadumana. Seorang pria berusia 71 tahun yang memiliki profesi sebagai kusir ini telah menjalankan pekerjaannya dari tahun 1967. Ia besar dan tinggal di Patran  Banyuraden, Sleman bersama istri dan ketiga anaknya. Sudah lebih dari setengah abad ia telah melakoni pekerjaan ini dengan penuh kebanggaan. Bahkan sejak kecil ia sudah menjalani pekerjaan ini bersama dengan orang tuanya, dimana pada saat itu untuk bersekolah saja masih sangat sulit karena adanya tragedi G30SPKI.

“Saya menjalani pekerjaan ini atas dasar senang, saya hobi menarik delman karena sejak kecil memang lingkungan saya seperti ini. Selain itu saya juga meneruskan perjuangan nenek moyang saya yang dari turun temurun sudah menjadi kusir bahkan sampai anak saya juga sekarang menjadi kusir,” ungkap Sadumana.

Pekerjaan utamanya adalah berjualan ayam potong di Pasar Terban bersama istri dan anaknya, sedangkan pekerjaan menjadi kusir hanyalah sebagai pekerjaan sampingan dan tentunya untuk terus menyalurkan hobi dan rasa cintanya terhadap delman. Biasanya ia berangkat untuk menarik delman pada pukul 17.00 WIB dan berakhir pukul 22.00 WIB. Meskipun demikian, ada waktu-waktu tertentu untuk ia tidak menarik delman. Misalnya saat ada hajat ataupun berita duka yang terjadi dikampungnya, Sadumana tetap memilih untuk datang ke acara tersebut karena ia menyadari tinggal di sebuah desa harus mengedepakan kepentingan bersama dan rasa toleransi satu sama lain.

Walaupun usianya yang sudah terbilang senja, ia tetap mengikuti perkembangan zaman. Terbukti ia masih menggunakan media sosial yakni facebook untuk menyapa dan bertukar kabar dengan teman seprofesi dan komunitas delman yang berada di Yogyakarta. Para komunitas ini memiliki banyak kegiatan positif salah satunya mengadakan arisan dengan beberapa kelompok yaitu ada Kelompok Gamping dan Kelompok Amor, selain itu mereka juga sering mengadakan acara-acara di luar walaupun hanya sekedar bertukar cerita dan pengalaman.

Saat ini ia memiliki tiga kuda betina yang diberi nama Srikandi, Monitasari, dan Primasari. Srikandi merupakan kuda betina yang masih berusia 2,5 tahun yang saat ini digunakannya untuk menarik delman. Memiliki perawakan cukup besar dengan usia yang masih muda, serta berwarna coklat tua menjadi daya tarik tersendiri bagi Srikandi.

Menurut pengakuan Sadumana, kuda dapat dilatih jika telah menginjak usia 2,5 tahun. Pada saat itu, usia kuda terbilang cukup ideal untuk dilatih. Butuh waktu minimal tiga bulan untuk melatih kuda agar menjadi jinak dan lebih terarah. Apabila usia kuda sudah menginjak empat puluh tahun dan performa dalam menarik delman sudah turun, maka dapat dikategorikan kuda tersebut sudah tua dan kemudian akan dijual untuk disembelih. Terdapat perbedaan antara kuda jantan dan kuda betina untuk dijadikan penarik delman, kuda jantan terbilang cukup bandel dan sulit untuk diatur dibandingkan dengan kuda betina. 

Perawatan kuda sendiri cukup mudah yakni dengan memandikan sehari satu kali dengan menggosok tubuhnya dengan alat tertentu agar tidak ada kotoran yang menempel. Jadwal makannya sebanyak tiga kali sehari yakni di pagi, siang, dan malam hari. Kendala utama dalam pemberian pakan kuda yaitu sulitnya mendapatkan daun kacang tanah padahal daun kacang tanah menjadi pakan utama bagi kuda. Sulitnya memeroleh daun kacang tanah ini dikarenakan sedikitnya pemasok yang menjual daun kacang tanah sehingga harus berebut dengan pemilik kuda yang lainnya. Untuk melihat kuda tersebut sedang dalam keadaan prima atau tidak juga cukup mudah, yaitu dengan melihat gejala awal. Apabila sepanjang hari kuda hanya meletakan tubuhnya di tanah dan manggaruk-garuk tanah, maka dapat diindikasikan kuda tersebut dalam kondisi sakit. Jika sudah seperti ini sebaiknya kuda harus diistirahatkan terlebih dulu dan diberikan beberapa vitamin untuk mengembalikan kondisinya.

Menilik dari segi pendapatan Sadumana sebagai seorang kusir, perbedaan pendapatan dirasakan saat musim liburan tiba. Pasalnya jika hari biasa ia hanya dapat menarik satu sampai dua kali saja setiap harinya, sedangkan pada musim liburan ia dapat menarik penumpang lima sampai enam kali dalam sehari. Adapun beberapa putaran rute yang ditawarkan, rute satu yang dimulai dari titik nol dan berakhir di Sosrowijayan dibanderol dengan tarif seharga Rp100.000 sedangkan rute dua yang melewati tiga titik yakni berawal dari Alun-Alun kemudian Kraton dan berakhir di pusat perbelanjaan Dagadu dibanderol dengan tarif Rp250.000, tarif tersebut terbilang cukup murah mengingat bahwa delman dapat ditunggangi oleh lima sampai tujuh orang.

Selama hampir satu abad menjadi seorang kusir delman tentunya Sadumana memiliki banyak pengalaman, baik pengalaman tentang para konsumennya maupun pengalaman pribadinya mengendalikan kuda. Pengalaman yang cukup membekas bagi Sadumana yaitu ketika kudanya pingsan dan sempat tak sadarkan diri saat perjalanan pulang. Menurutnya saat itu, kuda tersebut mengalami trauma dan terkejut saat terdapat sebuah bus yang mengeluarkan asap tebal dan suara keras dari knalpotnya persis di depan kudanya sehingga kuda tersebut tidak dapat melihat dengan jelas. Akibat kejadian itu, Sadumana kesulitan dalam mengendalikan kudanya yang kemudian menyebabkan kuda tersebut menabrak sebuah pagar yang cukup besar dan membuat kudanya tak sadarkan diri.  

Data Jogja saat ini menunjukkan terdapat kurang lebih lima ratus delman yang dikelola oleh pihak Kraton, delapan puluh dua berasal dari Sleman dan empat ratus delapan puluh berasal dari Kota Jogja dan Bantul. Sistem pajak yang ditetapkan untuk delman juga sama dengan kendaraan lainnya, yakni wajib membayar pajak satu tahun sekali dan memperpanjang surat-surat izin agar bisa terus beroperasi. Selain itu pada saat hari-hari besar atau perayaan tertentu, biasanya Gubernur Yogya, Sri Sultan akan mengundang para kusir untuk datang dan berkumpul guna menyambung tali persaudaraan antar kusir mengingat saat ini keberadaan delman sangat dijaga oleh Pemerintah Daerah karena merupakan salah satu peninggalan budaya yang harus tetap dilestarikan. 

Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyelenggarakan festival delman setiap tahunnya. Festival ini diadakan dengan tujuan menghidupkan kembali kejayaan delman dan menghormati kusir delman yang masih bertahan. Pada festival ini, kusir delman dari berbagai daerah berkumpul untuk berkompetisi dalam berbagai lomba, seperti lomba menghias delman dan lomba mengendalikan kuda. Festival ini juga menjadi ajang untuk memperkenalkan delman kepada generasi muda, sehingga mereka dapat mengenal dan menghargai warisan budaya ini. Selain itu, beberapa kusir delman yang masih bertahan juga berusaha untuk beradaptasi dengan perubahan zaman. Beberapa di antaranya membuka jasa delman wisata, yang menawarkan pengalaman unik bagi wisatawan yang ingin menjelajahi Malioboro dengan delman. Dengan demikian, kusir delman tidak hanya menjaga warisan budaya mereka tetap hidup, tetapi juga mencari peluang untuk tetap bertahan di tengah persaingan dengan moda transportasi modern. 

Keberadaan kusir delman di Malioboro mungkin sudah tidak sebanyak dahulu, namun pesonanya masih terasa dan mengingatkan pada keindahan masa lampau. Mereka merupakan saksi bisu dari perjalanan sejarah Malioboro dan menjadi simbol kearifan lokal yang tidak boleh dilupakan. Melalui upaya pelestarian dan penghargaan terhadap kusir delman, kita dapat memastikan bahwa generasi mendatang juga dapat menghargai dan mengenang mereka sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas Malioboro. Keberadaan kusir delman memberikan nuansa khas dan mempertahankan nilai-nilai tradisional yang tak ternilai harganya. Mereka adalah bagian penting dari warisan budaya yang perlu dilestarikan dan dijaga. (Ninda Yutika)


Editor: Dias Nurul Fajriani

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.