Header Ads

Menyelami Budaya Penggunaan Korsa Yang Penuh Makna

 

Ilustrasi korsa dan identitas (Sumber: Maritza Luthfi El Fahmi)

Mahasiswa erat kaitannya dengan korsa. Korsa merupakan seragam yang digunakan untuk menunjukkan identitas seseorang sebagai bagian dari kelompok atau organisasi. Dalam prakteknya, korsa dikenakan oleh anggota kelompok ketika menghadiri suatu acara atau kegiatan baik kegiatan internal maupun eksternal.

Di UPN “Veteran” Yogyakarta sendiri, penggunaan korsa merupakan hal yang sangat lumrah. Beberapa jurusan menetapkan hari khusus korsa dimana pada hari itu setiap mahasiswanya diwajibkan mengenakan pakaian tersebut. Berbagai macam warna dan juga emblem yang disematkan pada tiap seragamnya menunjukan identitas masing-masing jurusan.

Menilik budaya penggunaan korsa di UPN “Veteran” Yogyakarta, Safira Auriska, mahasiswa Program Studi Teknik Geologi angkatan 2020 turut membagikan ceritanya. “Di Geologi sendiri, kita memakai korsa setiap hari Selasa atau disebut Selasa korsa. Sebenarnya enggak ada aturan khusus, tapi udah kaya tradisi disini,” ucapnya.

Safira juga mengungkapkan bahwa dirinya menyukai penggunaan korsa ini. Baginya, menunjukkan identitas melalui korsa dapat menimbulkan kebanggaan tersendiri. “Aku suka pakai korsa, selain buat identitas, bisa jadi pride tersendiri apalagi kalau diliat sama jurusan - jurusan lain,” tuturnya. Ia menjelaskan bahwa untuk mendapatkan korsa yang kini dimilikinya, ia harus melewati sebuah proses yang dilalui bersama - sama satu angkatan. Hal itulah yang melandasi rasa bangga dalam dirinya karena perjuangan yang dilaluinya terwujud dalam korsa yang ia kenakan saat ini.

Berbicara soal pride atau kebanggaan, korsa merupakan suatu ekspresi penggambaran sebuah perasaan solidaritas dan loyalitas atas bagian dari suatu kelompok yang terwujud dalam bentuk baju. Hal tersebut tentu memiliki dampak positif maupun negatif. Meike Lusye Karolus, dosen Jurusan Ilmu Komunikasi UPN “Veteran” Yogyakarta” turut memberikan pendapatnya mengenai hal tersebut.

“Manusia punya kebutuhan untuk berkomunitas dan membentuk ikatan dengan orang lain. Secara netral, itu tidak masalah. Namun, akan menjadi problem jika korsa digunakan untuk kegiatan negatif,” ujarnya.

Meike juga menambahkan bahwa konsep korsa yang basisnya berasal dari kemiliteran, menjadikan korsa sangat maskulin. Sebagai contoh ketika suatu oknum melakukan tindakan yang kurang baik, maka kelompoknya akan memiliki kecenderungan untuk melindungi dengan alasan dibawah naungan korsa yang sama.

Sedangkan dalam perspektif komunikasi sendiri, korsa merupakan penanda yang masuk dalam ilmu semiotika, yaitu ilmu yang mengkaji tanda-tanda yang terdapat pada suatu objek untuk diketahui makna yang terkandung dalam objek tersebut. Dengan menggunakan korsa, maka seseorang akan mudah dikenali karena korsa merupakan penanda, pembeda antara kelompok satu dengan yang lainnya.

Tentu korsa juga membawa pesan dan citra yang akan ditunjukkan kepada orang lain. “Apabila seseorang menggunakan korsa maka ia mewakili atau merepresentasikan kelompok tersebut. Apabila ia baik membawa kebaikan, apabila ia buruk maka akan dilabeli seperti itu,” ujar Meike.

Berbeda dengan Safira, Axel Dhira Ananggadipa, mahasiswa Program Studi Hubungan Masyarakat berpendapat jika baginya korsa tidak terlalu penting penggunaannya. “Tidak terlalu penting, kecuali ketika ada acara formal di jurusan, baru penting,” tutur Axel.

Berbicara tentang penggunaannya, beberapa orang tentu memiliki pandangannya tersendiri terhadap bagaimana pengaplikasian korsa. Hal tersebut terbilang wajar karena cara masing-masing kelompok mendapatkannya pun berbeda. Beberapa harus melewati rangkaian yang menguras energi, ada pula yang hanya diberi cuma - cuma karena ia sudah menjadi bagian dari kelompok tersebut.

Dilihat dari sudut pandang komunikasi, Meike menyampaikan bahwa hal tersebut masuk pada perspektif relativitas, yaitu tentang suatu pemaknaan. “Terdapat berbagai macam alasan. Kita tidak bisa memaksakan semua makna itu sama,” ucap Meike.

Baginya, setiap orang memiliki cara yang berbeda untuk mengekspresikan kecintaannya pada suatu kelompok. Bisa dengan menggunakan korsa atau hal lain yang bermanfaat dan membanggakan. Menggunakan korsa bukan berarti setia, begitu pula sebaliknya.

Penggunaan korsa tidak hanya sebatas identitas, tetapi lebih dari itu. Korsa melahirkan rasa kebanggaan, kecintaan, semangat, dan ambisi untuk mencapai cita-cita bersama. Pengekspresian kekorsaan tentu dapat melalui berbagai hal, tergantung setiap individunya. (Maritza Luthfi El Fahmi).

 

 

Editor: Ikhsan Fatkhurrohman Dahlan


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.