Menimbang Efektivitas SCL dan TCL Pada Dunia Perkuliahan

Ilustrasi dosen mengajar di depan kelas. (Sumber: Magnific)
Yogyakarta, LPM Sikap - Dinamika pendidikan di Indonesia selalu berubah-ubah menyesuaikan perkembangan zaman. Demikian di Perguruan Tinggi, cara mengajar dosen terus dievaluasi untuk menunjang lulusan yang siap berdinamika di Era Industri 5.0. Umumnya, terdapat dua pendekatan yang digunakan, yakni TCL (Teacher-Centered Learning) dan SCL (Student-Centered Learning). Dua metode tersebut memiliki perbedaan, yaitu metode TCL menempatkan dosen sebagai pusat atau sumber informasi utama. Peran mahasiswa dalam pendekatan ini sering kali minim dan dominan mendengarkan. Contohnya, ceramah, kuliah mimbar, dan instruksi satu arah.
Sementara itu, SCL memposisikan mahasiswa sebagai pusat pembelajaran dan dosen hanya menjadi fasilitator serta pendamping belajar. Metode pembelajaran SCL umumnya diskusi kelompok, project base, presentasi, dan study case base.
Keisha Cinta Siria Putri, seorang mahasiswa Hubungan Masyarakat (Humas) angkatan 2026, menyebut lebih setuju dengan metode pembelajaran SCL. Namun, terkadang Cinta juga merasakan kekurangan dari pendekatan ini.
“Kami benar-benar belajar memahami materi dan melatih public speaking. Namun, dalam dua SKS hanya diisi dengan presentasi dan tanya jawab, rasanya seperti formalitas, membuat tertekan, dan hanya menghabiskan waktu untuk mendengarkan teman-teman presentasi. Kami merasa tidak mendapatkan banyak hal,” kata Keisha.
Perbedaan pengalaman itu menunjukkan bahwa presentasi tidak selalu menghasilkan proses belajar yang sama. Bagi mahasiswa, presentasi dapat menjadi ruang untuk memahami materi sekaligus melatih kemampuan berbicara di depan umum. Namun, ketika dosen tidak memberikan penjelasan lanjutan, kegiatan yang sama justru dapat terasa seperti kewajiban untuk mengisi waktu perkuliahan.
Sejumlah mahasiswa Humas angkatan 2026 mengaku lebih memahami materi yang menjadi bagian kelompoknya sendiri dibandingkan materi yang dipresentasikan kelompok lain. Pembagian materi memungkinkan mahasiswa mendalami satu topik, tetapi pemahaman terhadap keseluruhan materi mata kuliah belum tentu tercapai.
Pengalaman serupa disampaikan Hasian Grenaldo, mahasiswa Humas angkatan 2024. Menurutnya, presentasi yang diterapkan sepanjang semester kurang efektif apabila mahasiswa hanya mendengarkan kelompok lain setelah menyelesaikan tugas kelompoknya sendiri. Ia lebih menyukai pembelajaran yang menggabungkan presentasi dengan pemaparan materi dan interaksi bersama dosen.
“Menurut saya, saya lebih suka kombinasi. Misalnya, sebelum UTS mahasiswa mendapat tugas presentasi, kemudian setelah UTS dosen menyampaikan materi dan pembelajaran dilakukan secara interaktif. Menurut saya, cara itu lebih efisien,” ujar Hasian.
Selanjutnya Hasian menegaskan tugas kelompok tetap memiliki manfaat, terutama ketika mahasiswa perlu memecahkan persoalan bersama. Namun, tugas tersebut perlu diimbangi dengan tugas individu agar proses belajar tidak sepenuhnya bergantung pada kerja kelompok.
Persoalan lain muncul ketika presentasi dan sesi tanya jawab tidak sepenuhnya bertumpu pada pemahaman mahasiswa. Hasian menilai penggunaan kecerdasan buatan (AI) untuk menyusun jawaban secara langsung dapat mengurangi kesempatan mahasiswa melatih pemikirannya sendiri. Mahasiswa perlu mempelajari materi dan menjawab pertanyaan berdasarkan pemahaman mereka, sementara dosen tetap berperan mengoreksi dan melengkapi penjelasan.
Pandangan serupa disampaikan MM (nama disamarkan), mahasiswa Ilmu Administrasi Bisnis (AB) angkatan 2024. Ia menilai pemaparan dosen cenderung lebih mudah dipahami daripada presentasi mahasiswa yang terlalu terpaku pada keluaran AI.
“Biasanya AI gituloh. Maksudnya, kata-kata yang disampaikan biasanya terpaku pada AI. Jadi sulit dipahami, kalau dosen yang menjelaskan bahasanya lebih lugas dan mungkin lebih mudah dipahami,” kata MM.
Menurutnya, sesi tanya jawab juga berisiko kehilangan substansi ketika mahasiswa yang bertanya maupun kelompok yang menjawab sama-sama mengandalkan AI.
Meski demikian, MM tidak menganggap penjelasan dosen sebagai satu-satunya jawaban. Pembelajaran yang hanya berpusat pada dosen juga dapat membuat mahasiswa pasif apabila tidak disertai komunikasi dua arah. Berdasarkan pengalaman selama mengikuti proses pembelajaran, ia mengusulkan perpaduan antara penjelasan dosen dan aktivitas mahasiswa, dengan materi yang mudah dipahami serta kesempatan untuk berdiskusi.
“Saya menemui dosen yang dia itu benar-benar bisa menjelaskan dua arah, jadi kita bisa saling diskusi, kita bisa saling tanya,” ujarnya.
Dari sisi pengajar, Meilan Sugiarto, salah satu dosen AB, menjelaskan metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan karakter mata kuliah dan kemampuan yang ingin dibangun. Dalam pembelajaran berbasis kasus, misalnya, dosen dapat memberikan konsep terlebih dahulu sebelum mahasiswa mengembangkan analisisnya. Sementara itu, pembelajaran berbasis proyek memberikan ruang lebih besar bagi mahasiswa untuk belajar mandiri dan menghasilkan suatu karya.
Meilan menekankan pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa bukan berarti dosen cukup memberikan tugas lalu membiarkan mahasiswa bekerja sendiri. “Kalau dosen tidak memberi umpan balik, mahasiswa bisa menganggap penjelasan yang disampaikan kelompoknya sudah benar, padahal mungkin masih ada kekeliruan, “ ujar Meilan.
Perspektif lain datang dari Medi Trilaksono Dwi Abadi, dosen Humas, yang juga menerapkan metode pembelajaran berbeda sesuai kebutuhan mata kuliah. Dalam mata kuliah Filsafat Komunikasi, pembelajaran lebih banyak menggunakan pemaparan materi oleh dosen karena mata kuliah tersebut memuat banyak konsep.
Pengalaman ini memperlihatkan bahwa metode pembelajaran tidak bisa dinilai hanya dari seberapa banyak mahasiswa berbicara atau seberapa sering dosen menjelaskan. Pemilihan metode juga perlu mempertimbangkan karakter materi dan tujuan pembelajaran.
Presentasi dapat membantu mahasiswa memahami materi, berlatih berbicara, dan bekerja sama. Namun, manfaat tersebut dapat berkurang ketika mahasiswa hanya membaca materi, terlalu bergantung pada AI, atau tidak memperoleh umpan balik setelah tampil.
Sebaliknya, pemaparan dosen juga perlu disertai kesempatan bagi mahasiswa untuk bertanya, menyampaikan pendapat, dan menguji pemahamannya. Keterlibatan mahasiswa tidak cukup diukur dari aktivitas presentasi, tetapi juga dari sejauh mana mereka memahami materi dan mampu mengolahnya secara mandiri. (Muhammad Adi Sutanto, Nihlah Amalia)
Editor: Gisella Putri Hapsari
Tulis Komentarmu