Tiba-Tiba Renovasi? Mahasiswa Pertanyakan Keselamatan
Yogyakarta, Sikap - Gedung Agus Salim Kampus 2 Universitas Pembangunan “Veteran” Yogyakarta sedang dalam tahap renovasi. Pekerjaan tersebut mulai dilaksanakan sejak akhir September berlangsung bersamaan dengan aktivitas perkuliahan belajar mengajar dan ujian tengah semester. Kondisi ini membuat mahasiswa yang beraktivitas di sekitar pembangunan terdampak. Akses keluar masuk gedung utama, penggunaan fasilitas, dan parkiran menjadi terusik. Banyak mahasiswa mempertanyakan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) untuk memastikan keamanan dan kenyamanan selama renovasi berlangsung.
Titik paling rawan ada pada jalur yang setiap hari dilewati mahasiswa, yakni pintu masuk gedung dan akses basement. Di area itulah pekerjaan konstruksi bersinggungan langsung dengan mobilitas mahasiswa. Lantas, bagaimana upaya keselamatan warga kampus terutama mahasiswa tetap dijamin selama proses renovasi berlangsung?
Renovasi atap gedung yang dilakukan sebenarnya tidak direncanakan bersamaan dengan kegiatan perkuliahan. Wakil Dekan Bidang Keuangan dan Umum FISIP, Indro Herry Mulyanto, menjelaskan bahwa pekerjaan awalnya dijadwalkan pada masa libur semester. Namun, proses perizinan dan lelang yang dilakukan bersama Dinas Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menyebabkan pelaksanaan pembangunan mengalami keterlambatan hingga memasuki masa perkuliahan.
Menurutnya, usulan renovasi telah diajukan dan disetujui sejak tahun sebelumnya. Ia menjelaskan bahwa anggaran harus direalisasikan sesuai periode yang telah ditentukan. “Kalau tidak dilaksanakan, dananya akan hilang,” ujarnya. Pekerjaan renovasi ditargetkan selesai paling cepat pada 23 Desember dan wajib rampung sebelum akhir tahun. Jika melewati batas tersebut, kontraktor akan dikenai sanksi.
Permasalahan tidak berhenti di situ, alur pemberitahuan adanya pembangunan ulang pun perlu dijabarkan. Indro menanggapi bahwa rencana pembangunan sudah lama diperbincangkan bersama Organisasi Kemahasiswaan (OK) dan Dewan Perwakilan Mahasiswa (DPM). Ia mengaku tidak berani menyebarluaskan rencana sejak dini karena usulan bisa saja ditolak dan keputusan akhir ada di universitas serta Dinas PU. Sedangkan saat ini sudah memberikan surat edaran, termasuk edaran soal parkir, serta pertemuan tatap muka antara dosen dan mahasiswa. Draf sosialisasi berkelanjutan sedang disiapkan untuk disebar melalui informasi resmi fakultas.
Akan tetapi, fakta di lapangan mendapati bahwa informasi mengenai rencana renovasi tersebut tidak sampai ke seluruh mahasiswa Kampus 2. Padahal, informasi mengenai rencana renovasi seharusnya disampaikan sejak jauh-jauh hari agar mahasiswa memiliki waktu yang cukup untuk mempersiapkan diri. Marvil Bernard Timothy Fenanlampir, mahasiswa Humas, mengatakan kabar renovasi baru ia ketahui sekitar dua minggu terakhir, yang mana pekerjaan konstruksi tersebut sudah mulai berjalan. "Kami kaget karena perkuliahan masih berjalan tapi tiba-tiba ada pembangunan," tuturnya.
Menurutnya perubahan yang paling terasa sejak renovasi berlangsung adalah bingung mengenai tempat parkir yang berubah dan mobilitas mahasiswa yang terbatas karena banyak jalur ditutup. Ia juga menilai area menuju basement menjadi salah satu titik yang paling berisiko karena aktivitas konstruksi juga berlangsung di jalur yang digunakan untuk keluar-masuk. “Karena memang setiap kali kita melangkah, kita nggak tahu apa yang akan terjadi ke depannya, walaupun kita tidak minta” ujarnya. Marvil juga menilai penerapan keselamatan kerja di lapangan masih belum optimal, baik dari penggunaan seragam maupun perlengkapan pekerja. Ia pun memilih menghindari area konstruksi apabila tidak memiliki keperluan untuk melewatinya.
Kekhawatiran serupa disampaikan Jason Gabriel Harjanto, mahasiswa Humas. “Agak deg-degan dikit sih sebenarnya. Apalagi kalau masuk sama keluar basement. Karena kan di situ banyak besi-besi gitu ya," ujarnya. Jason mengaku tidak terganggu debu dan suara karena kelasnya berada di gedung lain, tetapi ia menyoroti keberadaan tali pembatas yang membuatnya harus mengambil jalan yang lebih jauh.
Terkait penerapan K3, Indro mengatakan fakultas telah mengingatkan kontraktor mengenai aspek keselamatan sebelum renovasi dimulai, termasuk dalam pertemuan awal pembangunan. Kontraktor diminta memasang jaring pengaman dan terpal guna mencegah material serta debu masuk ke area perkuliahan. Ketua tim lapangan juga diwajibkan menginformasikan setiap aktivitas pekerjaan kepada fakultas, terutama ketika pekerjaan berpotensi membahayakan area sekitar. Pihak fakultas juga melakukan pemantauan setiap hari.
Meski demikian, Indro mengakui risiko di lapangan masih ada. Material seperti kayu dan genting sempat dijatuhkan sembarangan hingga mengganggu perkuliahan. Serpihan genting juga masih berpotensi lolos dari jaring pengaman. Kondisi tersebut menjadi salah satu alasan fakultas membuka opsi perkuliahan daring agar mobilitas mahasiswa di sekitar proyek dapat dikurangi.
Upaya untuk meminimalkan risiko pada jalur mobilitas, akses basement kini dibatasi. Kendaraan roda empat dialihkan ke lapangan depan gedungs Urip Sumardjo, sementara sepeda motor diarahkan ke area Fakultas Teknik Industri (FTI), depan prodi Hubungan Masyarakat, dan lapangan basket. Fakultas juga memberikan pilihan pelaksanaan perkuliahan secara daring maupun luring berdasarkan kesepakatan antara dosen dan mahasiswa. Setiap ruang kelas telah dilengkapi akun Zoom untuk mendukung pembelajaran daring.
Indro mengakui bahwa perkuliahan daring dinilai kurang efektif, tetapi langkah tersebut diperlukan agar mahasiswa tidak perlu beraktivitas di sekitar area proyek. Sementara itu, Marvil mengusulkan agar perkuliahan dapat diliburkan atau dilakukan secara daring untuk sementara waktu. Berbeda dengan keduanya, Jason menilai kegiatan perkuliahan masih dapat berlangsung dengan aman karena ia lebih sering beraktivitas di gedung lain yang tidak berada di sekitar proyek.
Terkait tanggung jawab jika terjadi kecelakaan, Indro menyebut pihak kampus dan kontraktor akan menangani bersama. “Tidak usah siapa yang bertanggung jawab, biar kita semuanya,” ujarnya. Namun, mekanisme pembagian tanggung jawab belum dijelaskan secara rinci. Indro juga menyinggung kepemilikan BPJS Kesehatan dapat memudahkan mahasiswa jika terjadi kecelakaan. “Kalau nggak punya BPJS itu memang risikonya lebih berat,” ujarnya. Ia juga menambahkan pentingnya kepemilikan BPJS sebagai bentuk perlindungan apabila mahasiswa mengalami kecelakaan. “Nggak usah musibah di dalam kampus lah. Di luar kampus kalau kita punya BPJS itu jadi lebih aman,” tegasnya.
Indro mengimbau mahasiswa lebih berhati-hati selama pembangunan, terutama saat mencari tempat parkir dan melewati area proyek. Ia meminta mahasiswa menghindari area pembangunan jika tidak berkepentingan serta menyampaikan keluhan langsung kepada fakultas agar dapat segera ditindaklanjuti. Terkait kegiatan pembelajaran, mahasiswa disarankan berdiskusi dengan dosen mengenai pilihan daring atau luring.
Marvil berharap kampus lebih terbuka dalam menyampaikan informasi renovasi, termasuk jadwal pekerjaan dan imbauan keselamatan. Sementara itu, Jason mengusulkan penanda arah dan pembatas area yang lebih jelas. Meski demikian, ia menilai kegiatan perkuliahan masih dapat berjalan dengan aman dan mendukung renovasi tetap dilanjutkan.
Hingga renovasi selesai, keselamatan mahasiswa bergantung pada penerapan K3 oleh kontraktor, pengawasan kampus, serta komunikasi yang terbuka antara pihak kampus dan mahasiswa. Di tengah aktivitas pembangunan yang masih berlangsung, kejelasan informasi dan akses yang aman menjadi hal penting agar kegiatan perkuliahan tetap berjalan tanpa mengabaikan keselamatan mahasiswa.
(Rifannisa Tiara Nuraini , Putri Armi Kartini)
Editor: Maharani Mantika Nailah
.jpeg)
Tulis Komentarmu