Header Ads

Kritik Bukanlah Sinis, Tetapi Mengkritisi dengan Fakta

 

Di media sosial, sinis sering terlihat  kritis. Namun, apakah selalu begitu? (Sumber: Unplash)



Yogyakarta, Sikap – Netizen tentu sudah tidak asing dengan TikTok, salah satu media sosial yang kerap digunakan untuk mencari informasi sekaligus mengikuti perkembangan isu terkini. Hal yang sering kali menarik perhatian bukan hanya konten yang muncul, tetapi juga ramainya kolom komentar di bawahnya. Terlebih pada konten berita mengenai kebijakan pemerintah, komentar seperti “Indonesia mah gitu-gitu aja”, “Paling nanti juga berantakan”, atau “Pencitraan doang ini mah”. 


Komentar semacam itu sering mendapatkan banyak like. Bukan hanya karena disetujui, tetapi seolah-olah menandakan bahwa penulisnya lebih sadar keadaan. Mereka yang menulisnya terlihat lebih “melek situasi” dibandingkan orang yang masih bersikap optimis. Lalu, sejak kapan sinis terhadap negara sendiri menjadi ukuran kecerdasan? 

 

Di linimasa, terkadang muncul anggapan bahwa melihat segala sesuatu dari sisi buruk adalah tanda seseorang lebih memahami keadaan. Sementara itu, orang yang masih memberi kesempatan pada suatu hal untuk berhasil bisa dianggap terlalu percaya atau kurang waspada. Padahal berharap sesuatu berjalan baik bukan berarti menutup mata terhadap kemungkinan buruk. Begitu pula dengan besikap waspada, yang tidak harus berujung pada keyakinan bahwa segala sesuatu pasti gagal.


Persoalannya bukan terletak pada seberapa pesimis atau optimis seseorang, melainkan pada bagaimana ia membentuk penilaiannya. Kritik dan sinisme mungkin sama-sama berangkat dari ketidakpuasan, tetapi keduanya tidak harus berakhir pada kesimpulan yang sama. Kritik memberi ruang untuk mempertanyakan dan memeriksa, sedangkan sinisme cenderung membuat kita merasa sudah mengetahui jawabannya sejak awal.


Orang yang kritis masih memberi ruang pada lebih dari satu kemungkinan. Jika sebuah kebijakan terbukti bermasalah, ia akan mengkritiknya. Jika ternyata berjalan dengan baik, ia juga bersedia mengakuinya. Ada data yang diperiksa dan penilaian yang bisa bergeser ketika fakta berubah. Kritik adalah sebuah proses, bukan kesimpulan yang sudah ditentukan sejak awal.  
 
Sinisme bekerja sebaliknya. Kesimpulannya sudah dibuat bahkan sebelum fakta diperiksa, “pokoknya salah”, “pokoknya gagal”. Apa pun informasi yang muncul setelahnya hanya digunakan untuk memperkuat keyakinan yang sudah ada. Bedanya sederhana tapi krusial, kritik itu terbuka pada kemungkinan salah, sinisme itu tertutup dari kemungkinan benar.


Format media sosial juga dapat membuat pola semacam ini semakin mudah berkembang. Video pendek dan komentar satu baris lebih memberi ruang bagi pernyataan yang tajam dan mudah diingat daripada penjelasan yang panjang dan penuh konteks. Banyak kreator sosial-politik memilih nada skeptis dan itu bukan persoalan. Yang justru menarik untuk diperiksa adalah kebiasaan kita sebagai penonton dengan apa yang kita tonton, apa yang kita sukai, dan apa yang akhirnya kita tiru.


Sinisme yang dikonsumsi terus-menerus berpotensi berubah dari sekadar sikap menjadi refleks. Ketika ada isu baru muncul, pertanyaan pertama bukan lagi “sebenarnya apa yang terjadi?”, tapi “salahnya di mana?”. Orang menjadi lebih cepat mencari pembenaran atas kecurigaan daripada meluangkan waktu untuk memahami persoalan secara utuh.


Akibatnya, kemampuan untuk mengakui sesuatu yang baik ikut menumpul. Bukan karena hal baik itu tidak ada, tetapi karena mengakuinya kadang terasa seperti mengkhianati citra diri sebagai orang yang “kritis”. Padahal, menjadi kritis seharusnya tidak membuat seseorang kehilangan kemampuan untuk mengatakan, “Ini memang bagus,” meskipun ia tidak menyukai pemerintah yang menjalankannya atau tidak sepenuhnya percaya pada sistem yang ada.


Tentu ada yang akan berkata, pemerintah memang sering mengecewakan. Itu tidak bisa diabaikan. Dalam penelitian (Haryanto dkk., 2015), terhadap 416 warga Jakarta, kebohongan, korupsi dan sikap mementingkan diri sendiri termasuk alasan yang paling sering disebut ketika kepercayaan pada elite politik menurun. Kekecewaan yang lahir dari pengalaman juga merupakan alasan yang sah untuk bersikap waspada. 


Di sinilah, skeptisisme berbeda dengan sinisme. Orang skeptis masih bertanya “buktinya mana?" Sementara orang sinis sering kali merasa sudah mengetahui jawabannya bahkan sebelum bukti muncul. Pengalaman buruk seharusnya membuat kita lebih waspada, bukan membuat kita berhenti memeriksa.


Ada pula kekhawatiran bahwa terlalu percaya akan membuat kita mudah dibohongi. Kekhawatiran itu masuk akal. Masalahnya, jika semua hal dicurigai dengan kadar yang sama, kita justru kehilangan kemampuan untuk membedakan mana klaim yang memang patut dicurigai dan mana yang tidak. Ketika semua dianggap buruk sejak awal, kewaspadaan kehilangan fungsinya sebagai alat untuk memilah.


Pada akhirnya, yang perlu dijaga adalah batas antara kritik dan prasangka. Kapan kritis masih menjadi proses berpikir, dan kapan ia berubah menjadi kebiasaan untuk selalu menganggap buruk?


Bayangkan seorang peramal cuaca yang setiap hari mengatakan besok akan hujan. Suatu hari ramalannya pasti benar. Namun, satu tebakan yang tepat tidak serta-merta membuatnya menjadi ahli. Begitu pula dengan sikap kritis. Kritis bukan berarti selalu menduga yang terburuk. Kritis berarti bersedia memeriksa, mempertimbangkan bukti, lalu menerima hasilnya apa adanya, baik hasil itu sesuai harapan maupun justru membantah prasangka. (Anggun Ayu Olivia) 


Editor: Gisella Putri Hapsari

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.