Header Ads

Berawal dari Saluran Irigasi Yang Kumuh, Disulap Menjadi Wisata Bendhung Lepen

 

Gerbang utama menuju kawasan desa wisata Bendhung Lepen (Sumber: Faiz Hasyfi)

Yogyakarta, Sikap - Suara riuh anak-anak yang berebut menaburkan pelet ikan memenuhi kawasan Bendung Lepen di Kelurahan Giwangan, Yogyakarta. Air di saluran irigasi ini mengalir jernih, dihuni ratusan ikan nila yang berenang bebas. Pemandangan ini mungkin terlihat seperti destinasi wisata biasa. Tapi di baliknya, ada cerita tentang bagaimana warga kampung berhasil menyelesaikan masalah yang bahkan penelitian ilmiah pun mengakui sulit diatasi, yaitu pencemaran air di sepanjang aliran Kali Gajah Wong.

Kali Gajah Wong bukan sungai sembarangan. Sungai ini membelah tiga wilayah, mulai dari hulu di Sleman, tengah Kota Yogyakarta, hingga hilir di Bantul, dan sejak lama menjadi sasaran Program Kali Bersih atau Prokasih karena statusnya sebagai sumber air baku golongan B (bahan dasar air minum). 

Sayangnya, berbagai penelitian dari kampus-kampus di Yogyakarta, termasuk UGM dan UIN Sunan Kalijaga, mencatat bahwa kualitas air sungai ini terus menurun akibat limbah domestik yang dibuang warga di sepanjang bantarannya. Salah satu penelitian bahkan menyebut kerusakan lingkungan di bagian tengah Gajah Wong sudah masuk kategori parah. Saluran irigasi di Bendung Lepen, yang mengambil pasokan air langsung dari kali ini, dulunya juga tidak luput dari nasib serupa.

Kasdadi, pria yang kini menjabat Ketua RT 22 sekaligus inisiator gerakan ini, masih ingat betul bagaimana kondisi saluran irigasi di kampungnya dulu. Kawasan itu sempat mendapat predikat sebagai salah satu wilayah paling kumuh di Yogyakarta. Bagi warga sekitar, saluran irigasi hanya dianggap tempat pembuangan yang paling praktis. "Itu paling masyarakat paling suka, paling senang, paling gampang membuang sampah di saluran irigasi. Karena buang langsung hilang," ujarnya mengenang kebiasaan yang sudah mengakar bertahun-tahun.

Yang menarik, saluran irigasi yang dibersihkan Kasdadi bersama para warga ini sebenarnya tidak punya fungsi pertanian sama sekali. Tidak ada sawah, tidak ada kolam yang bergantung padanya. Bagi sebagian orang, membersihkan saluran yang "tidak ada gunanya" itu terdengar seperti pekerjaan sia-sia. Tapi bagi Kasdadi, justru di titik itulah persoalan sebenarnya berada, sebab saluran tanpa fungsi produktif semacam ini yang paling sering diabaikan dan akhirnya menjadi jalur pencemaran ke badan sungai utama.

Akhir tahun 2018, Kasdadi bersama beberapa pemuda kampung mulai merumuskan rencana. Awal 2019, rencana itu dieksekusi. Tahap pertama adalah mengeruk sedimen lumpur yang sudah menumpuk tebal, pekerjaan berat yang memakan waktu tujuh bulan hanya untuk menuntaskan tiga puluh meter pertama. Setelah sedimen terangkat, mereka memasang dua lapis sekat penyaring. Sekat pertama berfungsi menjaring sampah padat kiriman dari aliran Gajah Wong yang lebih besar, sementara sekat kedua menangkap sisa sampah yang lolos dari saringan pertama, termasuk yang masih dibuang warga sekitar. Sistem dua lapis inilah yang kemudian menjadi kunci teknis di balik jernihnya air Bendung Lepen hari ini, sebuah solusi sederhana namun efektif untuk masalah yang selama ini ditangani lewat pendekatan proyek besar dan mahal.

Seluruh proses ini dikerjakan swadaya, tanpa mengandalkan dana pemerintah maupun mengajukan proposal bantuan. "Kami dari awal sampai sekarang itu swadaya, Mas, dengan biaya sendiri. Dari kerja bakti, beli sekat, beli besi, beli cat, itu pakai iuran uang para penggiat," jelas Kasdadi. Ia memilih jalur itu karena menurutnya, tujuan awal gerakan ini murni sosial dan lingkungan, bukan proyek wisata yang butuh pendanaan besar.

Setelah air mulai jernih, warga menebar bibit ikan nila, dimulai dari sekitar 35 kilogram hasil patungan. Penebaran ikan ini bukan sekadar mempercantik tampilan, melainkan juga berfungsi sebagai indikator kualitas air, sebab ikan nila yang tergolong predator hanya bisa bertahan hidup jika kondisi air memang benar-benar bersih. Kasdadi sendiri tercatat sebagai anggota kelompok pengawas masyarakat di bawah naungan Dinas Kelautan dan Perikanan, yang bertugas memantau agar tidak ada praktik meracun ikan di kawasan tersebut.

Sistem filtrasi sampah yang digunakan di saluran irigasi Bendhung Lepen (Sumber: Faiz Hasyfi)

Anton, salah satu warga yang menyaksikan langsung proses ini, menyebut tidak ada penolakan berarti dari warga sekitar. "Justru warga yang lain malah kompak untuk berkontribusi membantu merealisasikan ide dari Kasdadi, karena ajakannya juga untuk kegiatan sosial, bukan karena uang," katanya. Ia juga menyoroti gaya kepemimpinan Kasdadi yang selalu mengedepankan musyawarah sebelum menjalankan setiap kegiatan.

Transformasi yang tadinya hanya soal kebersihan air ini kemudian menjalar ke sektor lain. Warung-warung warga tumbuh di sepanjang saluran, kunjungan wisata meningkat, dan lebih dari delapan puluh persen warga akhirnya mempercayakan Kasdadi sebagai Ketua RT. Bendung Lepen pun kini kerap dijadikan rujukan studi banding, mulai dari mahasiswa, pemerintah daerah lain, sampai tamu dari luar negeri yang ingin mempelajari model serupa.

Namun di balik semua pencapaian itu, Kasdadi mengaku persoalan terbesar yang justru mengintai bukan lagi soal teknis pembersihan saluran, melainkan regenerasi. Pekerjaan menjaga kebersihan air ini butuh komitmen harian yang menurutnya makin sulit ditemukan pada generasi muda sekarang. "Kerjaan di sini tiap hari bersih-bersih sampah, bukan tiap hari, tapi tiap saat," ujarnya. Meski begitu, ia tetap membagikan resep yang menurutnya menjadi fondasi keberhasilan Bendung Lepen sejak awal, yaitu komitmen dan keikhlasan, dua hal yang menurutnya jauh lebih menentukan ketimbang besarnya dana atau dukungan pemerintah. (Romadhon)

Editor : Faiz Hasyfi Fahimsyah


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.