“Asap Bukan Takdir”, Komunitas Ibu Berisik Suarakan Kritik Lewat Aksi Pukul Panci
Potret Aksi "Asap Bukan Takdir" di Titik Nol Kilometer Yogyakarta (Sumber: Indy Nurshinta Zulfiani/LPM Sikap)
Yogyakarta, Sikap – Dentuman panci menggema di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta dalam aksi bertajuk “Asap Bukan Takdir” yang digelar Komunitas Ibu Berisik, Jumat (30/10/2026). Dimulai sekitar pukul 16.00 WIB, aksi ini menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyuarakan keresahan terhadap berbagai persoalan, mulai dari kebakaran hutan dan lahan (karhutla), kebijakan pemerintah, hingga pemenuhan hak dasar warga. Kritik disampaikan melalui sejumlah kegiatan, seperti pukul panci, live painting, dan karaoke.
Siti Fauziah, penanggung jawab sekaligus perwakilan dari Ibu Berisik, menjelaskan bahwa pukul panci merupakan bentuk kritik simbolis terhadap kebijakan pemerintah yang dinilai bermasalah. Kegiatan tersebut juga berangkat dari penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) dan program pemerintah lainnya yang dianggap belum jelas pelaksanaannya. Sementara itu, karaoke menjadi ruang bagi peserta untuk menyalurkan emosi.
“Karaoke sebenarnya lebih kayak healing, menyalurkan emosi. Yang kedua, pukul panci, kenapa sih kok mukul? Mukul pemerintah yang bocor, simbolik aja,” ujar Siti.
Salah satu peserta aksi, Alva, mengaku telah mengikuti aksi secara langsung sejak pengesahan Undang-Undang Cipta Kerja. Ia menyoroti penghapusan peran masyarakat adat serta pembangunan kawasan hutan yang dinilainya dilakukan secara sembarangan.
“Sejak UU Cipta Kerja yang baru disahkan karena di situ peran masyarakat adat dihapuskan. Dan setelah itu hutan seenaknya dibangun,” kata Alva.
Selain persoalan tersebut, Alva mengkhawatirkan dampak karhutla terhadap ketersediaan air. Berkurangnya daerah resapan dinilai dapat meningkatkan risiko banjir saat musim hujan dan kekeringan ketika musim kemarau.
“Karena gini, karhutla nanti juga akan berimbas. Itu kan akan nggak ada resapan air. Bayangin kalau musim hujan besar, apa nggak akan kejadian kayak Sumatera lagi. Terus kalau air tanahnya nggak bisa diserap, kalau kekeringan selanjutnya pasti nggak akan ada air lagi,” jelasnya.
Peserta lainnya, Riry, lulusan Farmasi dari Kampus Permata Indonesia, turut menyuarakan berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat. Selain karhutla, ia menyoroti persoalan pajak buku, pajak pembalut, dan kondisi ekonomi.
“Hari ini ikut menyuarakan keresahan-keresahan rakyat kita. Termasuk karhutla, ada keresahan pajak buku, ada pajak dari pembalut, dan semua ekonomi yang hancur ini,” ungkap Riry.
Sementara itu, Alkidz, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta sekaligus seniman, menyampaikan kepeduliannya terhadap karhutla di Kalimantan melalui karya seni dan media sosial. Meski belum dapat mengikuti aksi secara langsung karena kesibukan kuliah, ia tetap mengikuti perkembangan isu dan membagikan karya yang merespons persoalan tersebut.
“Media sosial tetap mantau dan aku tetap menyuarakan lewat postingan-postingan pastinya. Dan juga merepost karya yang dibuat oleh temenku sebagai seorang sesama seniman yang merespons karhutla ini,” tutur Alkidz.
Ia menilai masyarakat yang tidak dapat turun langsung ke jalan tetap bisa menunjukkan dukungan dengan membagikan informasi terkait karhutla melalui media sosial.
“Kalau kalian capek, letih untuk turun ke jalan, kalian juga hanya cukup repost terkait postingan-postingan yang berhubungan dengan karhutla. Itu juga sudah bentuk dari dukungan untuk menyuarakan hal ini dan mendukung hak dari teman-teman kita yang ada di Kalimantan,” tambahnya.
Alkidz juga mengajak masyarakat untuk tetap menjaga diri dan mengikuti perkembangan persoalan karhutla. Ia menyampaikan pesan agar masyarakat terus menyuarakan hal-hal baik di tengah berbagai persoalan yang terjadi.
“Tetap stay safe, dan kita tetap terus akan pantau, mengenai kasus ini, bencana ini pastinya, dan ya, buang yang buruk, suarakan yang baik,” tutup Alkidz.
Melalui aksi tersebut, Siti berharap pemerintah dapat memenuhi hak masyarakat, terutama atas udara dan air bersih. Ia juga menekankan pentingnya penggunaan anggaran negara untuk kepentingan masyarakat luas, bukan kepentingan kelompok atau pribadi.
“Harapannya adalah pemerintah segera mengembalikan kewajibannya, memenuhi hak kami sebagai rakyat itu, hak-hak yang harus kami dapatkan dengan tanpa meminta, adanya udara bersih, air yang bersih. Mengembalikan lagi anggaran untuk kestabilan kita sebagai rakyat, bukan untuk kepentingan, keuntungan kelompok atau pribadi,” ujar Siti.
Siti menambahkan bahwa aksi berlangsung lancar dengan perizinan yang telah diselesaikan. Sejumlah orang yang melintas juga menunjukkan ketertarikan untuk menyampaikan aspirasi karena memiliki keresahan serupa dengan peserta aksi. (Indy Nurshinta Zulfiani, Yuwita Nurmala Ahsanu)
Editor: Audrina Rustari

Tulis Komentarmu