Header Ads

Ketika Rasa Jenuh Mengiringi Kesadaran Politik Mahasiswa

Ilustrasi mahasiswa menerima berita politik dalam sehari-hari (Sumber: Mico Medel/Pexels)

Yogyakarta, Sikap - Sejumlah mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP)  UPN “Veteran” Yogyakarta (UPNVY)  mengaku masih mengikuti perkembangan politik di Indonesia meski merasa jenuh dengan pemberitaannya. Kejenuhan tersebut tidak serta-merta membuat mereka berhenti mengikuti isu politik, tetapi memengaruhi keinginan mereka untuk membicarakan dalam situasi tertentu.


Hal ini menjadi salah satu hal yang menarik untuk dilihat melalui narasi “No Politics Tonight, Just Good Vibes” dalam acara Maba Project FISIP UPNVY. Ungkapan dalam acara tersebut membuka ruang untuk melihat bagaimana mahasiswa memaknai politik dalam keseharian mereka, termasuk ketika keinginan untuk menikmati acara tanpa membahas politik berhadapan dengan tuntutan untuk tetap peka terhadap persoalan sosial dan politik. 


Kejenuhan terhadap pemberitaan politik menjadi salah satu alasan mahasiswa mengurangi ketertarikan untuk mengikuti isu yang berkembang. Salah satu mahasiswa FISIP UPNVY mengaku merasa jenuh dengan pemberitaan mengenai pemerintah. “Mungkin kerja pemerintah sekarang udah bikin pusing, jadi sudah malas untuk mendengar dan memperhatikan lagi sih,” kata El (nama samaran), mahasiswa Ilmu Komunikasi.


Pengalaman serupa disampaikan Lala (nama samaran) mahasiswa Administrasi Bisnis. Ia mengaku masih mengikuti perkembangan politik melalui media sosial, tetapi ia tidak mendalaminya secara intensif. Menurutnya, isu politik yang kompleks serta pemberitaan yang terus bermunculan ini menimbulkan jenuh di beberapa orang. “Jujur, aku lelah. Lelah juga. Hal yang paling aku ingat, aku pernah nangis gara-gara baca komentar di salah satu postingan gitulah, propaganda gitu, aku sampai nangis gitu loh,” ungkapnya. 


Selain kejenuhan terhadap pemberitaan, kekhawatiran akan perbedaan pendapat juga membuat mahasiswa memilih untuk tidak aktif dalam diskusi politik. R (nama samaran), mahasiswa Hubungan Masyarakat FISIP UPNVY mengaku lebih nyaman mendengarkan pandangan orang lain daripada menyampaikan pendapat sendiri. “Aku yang lebih pilih diam itu, terus ya aku mendengar secara seksama, lihat pandangan orang kaya gimana. Terus kalau pandanganku sendiri ya aku keep aja,” ujar R


Pandangan lain disampaikan Tony, mahasiswa Hubungan Internasional. Ia menilai kejenuhan politik yang dialami mahasiswa dapat dipahami karena mereka terus dihadapkan dengan pemberitaan yang dinilai tidak membawa perubahan. Menurutnya,  mahasiswa tetap memiliki hak untuk mengambil jeda dari pembahasan politik demi menyegarkan pikiran. “Karena kalau misalnya kita dihantui dengan berita buruk terus memang bakal depresi sendiri sih. Jadi No Politics Tonight, Just Good Vibes engga masalah. Yang penting selanjutnya kita tetap bersuara, tetap berempati dengan kondisi masyarakat,” ujar Tony. 


Meski demikian, Tony membedakan antara mengambil jeda dan tidak peduli sama sekali terhadap persoalan politik. Baginya mahasiswa tetap perlu mengetahui kondisi yang terjadi di negara ini sebelum menentukan sikap. “Jadi ya itu hakmu untuk tetap apatis, but at least show some respect,” ungkapnya. 


Ia juga menekankan bahwa mahasiswa tidak perlu memahami persoalan politik secara garis besar. Menurutnya, keputusan untuk mengikuti isu politik tetap hak masing-masing individu, tetapi pemahaman terhadap kondisi negara penting agar mahasiswa mengetahui persoalan yang berdampak pada masyarakat. 


Biarpun merasa jenuh dengan isu-isu politik yang dirasa tidak ada habisnya memberi kabar buruk. Pada umumnya, sebagai mahasiswa FISIP tentunya tetap memiliki kewajiban untuk mengikuti dan mengawasi perkembangan politik. Mengambil jeda dan rehat sejenak dari berita-berita politik yang melelahkan itu wajar, tetapi berbeda dengan tidak peduli sama sekali dan terus menerus menutup mata.


R mengaku tidak begitu mengikuti perkembangan isu-isu politik di Indonesia karena menganggap dirinya belum merasakan dampak dari politik. “Karena mungkin aku belum merasakan dampaknya langsung ke diriku sendiri,” jelas R. “Kalau bukan urusanku, aku mending ngurus diriku sendiri dulu,” lanjutnya. 


R juga menerangkan bahwa dirinya terkadang menghindari berdiskusi dan berpendapat mengenai politik demi menghindari perselisihan. “Soalnya kayaknya kalau misal aku berpendapat kayaknya itu berbanding terbalik sama yang kenyataannya. Aku jadi menghindari perselisihan-perselisihan gitu,” tutur R.


Hal ini menunjukkan bahwa mahasiswa FISIP dengan kesadaran yang rendah mengenai isu-isu politik masih ada. Meski begitu, Susilastuti Dwi, dosen Ilmu Komunikasi UPNVY yang lebih dikenal dengan nama Susi, merasa bahwa rendahnya kesadaran tersebut tidak bisa dinilai begitu saja. “Kesadaran politik seseorang harus dilihat dari background keluarga, lingkungan pergaulan mahasiswa selama ini. Jadi kita tidak bisa melihat bahwa kesadaran mahasiswa FISIP saat menjadi mahasiswa.” jelas Susi. 


Berdasarkan penjelasan Susi, kesadaran mahasiswa terhadap isu-isu tersebut dipengaruhi banyak faktor seperti latar belakang keluarga, lingkungan pergaulan, dan lain-lain. Sehingga bagaimana sang mahasiswa menanggapi dan memahami isu-isu politik saat menjadi mahasiswa tidak bisa disalahkan sepenuhnya.


Susi juga merasa tidak melihat bahwa mahasiswa apatis terhadap politik, menurutnya politik tidak bisa dilihat secara holistik, bahwa makna politik itu luas “Saya tidak melihat mahasiswa apatis terhadap politik. Politik jangan dimaknai sempit. Kalau kita melihat politik secara holistik terlalu dini mengatakan bahwa mahasiswa apatis terhadap politik,” ujar Susi.


Melanjutkan pernyataan tersebut Susi menegaskan “Demokrasi itu tidak hanya bicara partisipasi tapi lebih luas dari itu,” ujarnya. 


Lalu mengenai narasi “No Politics Tonight, Just Good Vibes” pun Susi berpendapat bahwa narasi tersebut bukanlah hal yang perlu dipermasalahkan. Justru, menurut Susi  dengan adanya narasi tersebut itu sendiri tanpa disadari mereka membahas sedang membahas politik. 


“Saya rasa itu hanya slogan. No problem. Toh hanya malam ini? Bukan No politics. Ketika dalam acara tersebut mereka ada dialog membahas apa pun itu tanpa disadari bicara politik. Ketika mahasiswa sudah bicara hak mahasiswa dan kewajiban kampus, ini sudah ranah politik,“ jelas Susi.


Menanggapi kekhawatiran mengenai kurangnya kesadaran mahasiswa terhadap politik, Susi berpendapat bahwa kesadaran dan kepekaan mahasiswa pada isu-isu bisa ditingkatkan melalui kegiatan-kegiatan seperti bedah buku, bedah kebijakan pemerintah, dan kegiatan ilmiah lainnya. 


“Perbanyak diskusi dan kegiatan yang tidak hanya have fun. Mulai dengan acara bedah buku, bedah kebijakan pemerintah terkait mahasiswa. Kegiatan ilmiah bisa menjadi menarik tinggal mahasiswa bisa kreatif atau tidak,” ujar Susi.


Beragam pandangan tersebut menunjukkan bahwa hubungan mahasiswa dengan politik tidak selalu sederhana. Ada yang memilih untuk tetap mengikuti perkembangan isu, ada pula yang mengambil jarak karena merasa lelah atau bahkan khawatir terlibat perselisihan. 


Perbedaan ini memperlihatkan bahwa kesadaran politik tidak dapat diukur dari keaktifan seseorang berbicara atau mengikuti pemberitaan. Lebih dari itu, kesadaran politik juga berkaitan dengan kemauan untuk memahami persoalan, mempertimbangkan berbagai sudut pandang, serta menyadari bahwa keputusan politik berdampak bagi kehidupan masyarakat. (Audrina Rustari, Maharani Mantika Nailah)


Editor: Dania Putri Saskia


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.