Mimbar Bebas September Hitam, Mengingat Kembali Pelanggaran HAM
![]() |
| Potret Aksi Mimbar Bebas September Hitam (Sumber: Romadhon/LPM Sikap) |
Yogyakarta, Sikap - Suara orasi dan pembacaan puisi mewarnai Mimbar Bebas September Hitam yang digelar Serikat Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (SEMA UGM) di Bunderan UGM, Sabtu (26/9) sekitar pukul 17.00 WIB. Kegiatan bertema “Sejarah Kelam, Presiden Penjahat HAM” tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa dan massa aksi untuk menyampaikan kritik sekaligus mengangkat kembali isu pelanggaran hak asasi manusia (HAM) masa lalu.
Kegiatan yang semula dijadwalkan mulai pukul 16.00 WIB tersebut sempat mundur hampir satu jam. Wakil Ketua Bidang Analisis Pergerakan Serikat Mahasiswa UGM, Akhdan Lutfi, mengatakan keterlambatan terjadi karena peserta dan massa masih melakukan persiapan. Meski demikian, kegiatan tetap berjalan sesuai rangkaian yang telah disiapkan. Mengenai keterlambatan tersebut Akhdan mengatakan persiapan menjadi salah satu penyebabnya.
“Cuma terkendala nya hanya waktu saja. Kami tadi agak mundur, hampir satu jam. Karena tadi prepare pemasangan," ujarnya.
Kegiatan diawali dengan pembukaan oleh pembawa acara yang memberikan pengantar mengenai sejumlah persoalan politik dan Hak Asasi Manusia (HAM). Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian orasi dari sejumlah peserta. Aspirasi disampaikan melalui berbagai bentuk, termasuk pembacaan puisi dan orasi secara langsung.
Akhdan mengatakan kegiatan tersebut digelar untuk menjaga ingatan terhadap berbagai peristiwa di Indonesia yang dinilai belum terselesaikan. Menurutnya, September menjadi momentum untuk mengingat kembali berbagai peristiwa tersebut dan menolak adanya sejarah yang dilupakan.
“Ketika kita bicara sejarah, sejarah itu pasti sangat-sangat penting. Apalagi dalam sejarah ini banyak hal yang belum terselesaikan, banyak hal yang memang sepertinya tidak akan diselesaikan, bahkan ditutup-tutupi. Kalau kita sebagai bangsa yang besar, bangsa yang akan berusaha menjadi lebih besar lagi dalam kondisi internasional, kita tidak boleh melupakan sejarah kita sendiri,” ujar Akhdan.
Akhdan juga mengatakan kegiatan tersebut menjadi pengingat menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran. Ia menyebut SEMA UGM akan terus menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah yang menurut mereka berdampak pada masyarakat.
Sementara itu, Ketua Umum SEMA UGM, Mesa, mengatakan aksi tersebut bertujuan membangun kembali kesadaran kolektif masyarakat terhadap isu HAM. Ia berharap kemarahan terhadap persoalan yang terjadi tidak berhenti sebagai emosi pribadi, tetapi dapat diarahkan menjadi gerakan bersama.
“Kita bertujuan untuk membuat kemarahan yang kita miliki menjadi kemarahan kolektif. Untuk kedepannya kita bisa bergerak bersama atas kemarahan tersebut, tapi kita juga bisa arahkan kemarahan tersebut ke tempat yang tepat dengan tindakan yang tepat diberikan,” kata Mesa.
Menurut Akhdan, persoalan HAM masa lalu masih relevan untuk dibicarakan karena penyelesaian sejumlah kasus dinilai belum tuntas. Ia mengatakan pembahasan mengenai sejarah diperlukan agar persoalan serupa tidak kembali terjadi.
Di sisi lain, keterlibatan mahasiswa dalam menyuarakan isu tersebut terlihat dari kehadiran peserta aksi. Rani, mahasiswa UGM semester satu, mengatakan dirinya mengikuti kegiatan tersebut karena menilai isu pelanggaran HAM masa lalu masih perlu disuarakan.
“Menurut saya memang harus diingat, memang harus disuarakan terus menurut saya supaya kasus-kasus itu segera diselesaikan dan pelakunya segera diungkap, segera diadili karena banyak sekali korban-korban yang sampai sekarang masih menuntut, banyak keluarga korban yang masih menuntut,” ujar Rani.
Rani juga menilai mahasiswa dapat berperan dalam membantu menyuarakan persoalan yang masih dianggap sensitif, termasuk isu yang berkaitan dengan peristiwa 1965 dan 1998. Ia berharap semakin banyak masyarakat berani menyampaikan pendapat dan pemerintah bersedia mendengarkan kritik yang disampaikan.
Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Akhdan mengatakan pihaknya masih akan menyikapi kondisi Indonesia dan menyampaikan aspirasi atas berbagai persoalan yang mereka soroti. Mesa juga menyebut SEMA UGM akan kembali melakukan aksi dengan menyampaikan aspirasi yang lebih keras sebagai bagian dari upaya mendorong perubahan di Indonesia. “24 hari lagi, merupakan dua tahunnya Presiden Penjahat HAM memimpin negeri ini. Pasti kita harus menyikapi bagaimana kondisi Indonesia, dan kita juga akan melakukan situasi untuk nanti kita bisa lebih menyampaikan aspirasi yang lebih keras lagi dalam niat dan ikhtiar untuk meminta untuk perubahan yang nyata di negeri kita tercinta,” kata Mesa.
![]() |
Potret Aksi Simbolik Pembakaran Tong Pada Saat Aksi Mimbar Bebas September Hitam (Sumber: Romadhon/LPM Sikap) |
Rangkaian kegiatan kemudian ditutup dengan aksi simbolik. Massa aksi melemparkan batu ke arah gambar Presiden Prabowo Subianto yang ditempel pada sebuah tong bertiang. Setelah aksi tersebut, tong mulai dibakar di tengah massa aksi.
Saat pembakaran berlangsung, Akhdan kembali menyampaikan orasi penutup dengan menyerukan konsolidasi mahasiswa, penguatan ruang diskusi, kebebasan akademik, solidaritas lintas kelompok, serta gerakan yang damai dan terorganisasi. Salah satu seruannya adalah, “Bangun konsolidasi di setiap kampus. Hidupkan ruang diskusi di setiap kota. Jaga kebebasan akademik.” Seruan tersebut mengiringi pembakaran tong yang menjadi bagian dari penutupan rangkaian Mimbar Bebas September Hitam. (Indy Nurshinta Zulfiani, Yuwita Nurmala Ahsanu)
Editor: Nayla Enzethiana Wiandaputri Santoso


Tulis Komentarmu