Header Ads

Menggerakkan Aksi Kecil untuk Menumbuhkan Kepedulian Lingkungan Bersama Trash Hero Yogyakarta

 

Potret clean up yang dilakukan oleh Trash Hero Yogyakarta pada 12 Juli 2026 lalu. (Sumber: Dania Putri Saskia)


Yogyakarta, Sikap - Berdiri sejak tahun 2022, Trash Hero Yogyakarta menjadi salah satu komunitas peduli lingkungan, lebih tepatnya pada isu sampah, yang rutin menggelar aksi bersih-bersih di kawasan Alun-Alun Kidul (Alkid), Yogyakarta. Aksi bersih-bersih yang mereka lakukan bukan sekadar memunguti sampah, tetapi juga merupakan upaya menumbuhkan kesadaran masyarakat dengan melalui aksi nyata.

Sudah empat tahun lamanya gerakan ini berjalan, lahir dari keresahan atas darurat sampah yang sedang terjadi di Yogyakarta akibat dari pembatasan operasional Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Piyungan pada tahun 2022. Trash Hero Yogyakarta sendiri merupakan salah satu chapter dari Trash Hero Indonesia, yang merupakan bagian dari gerakan Trash Hero internasional.

Koordinator Trash Hero Yogyakarta, Muhammad Habib Syaifullah, mengatakan perjalanan komunitas tersebut dimulai dari kelompok kecil. Pada kegiatan clean up pertama, hanya sekitar 11 orang yang ikut berpartisipasi. Meski demikian, kegiatan tetap dijalankan secara konsisten hingga akhirnya berkembang menjadi agenda rutin.

Koordinator Trash Hero Yogyakarta, Muhammad Habib Syaifullah, mengatakan bahwa pada awal-awal dilaksanakannya clean up di Alkid, hanya ada sekitar sebelas orang yang berpartisipasi untuk mengikuti kegiatan tersebut. Meski demikian, kegiatan tetap dijalankan secara konsisten hingga akhirnya berkembang menjadi agenda rutin.

"Di clean up pertama kami itu sekitar 11 orang. Terus stabil kurang lebih 3 bulan, 11, 15, 11, 15," kenang si koordinator.

Saat ini, jumlah relawan yang mengikuti kegiatan clean up terus berubah tergantung situasi. Ketika musim liburan, jumlah peserta biasanya menurun. Sebaliknya, kolaborasi dengan komunitas, institusi, maupun organisasi lain mampu meningkatkan jumlah peserta hingga ratusan orang.

"Kalau pas dapet kolaborasi, itu lumayan banyak, bisa sampai 50, bisa sampai 100, 200 juga pernah," ujarnya.

Habib menjelaskan, Alkid dipilih sebagai lokasi rutin karena menjadi salah satu ruang publik yang ramai dikunjungi masyarakat sekaligus menghasilkan cukup banyak sampah. Menurutnya, lokasi tersebut menjadi tempat yang tepat untuk menyampaikan pesan mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan.


Pengumpulan hasil clean up oleh semua relawan. (Sumber: Dania Putri Saskia)


Ia menegaskan bahwa kegiatan clean up yang dilakukan Trash Hero bukan dimaksudkan untuk menggantikan tugas petugas kebersihan. Aksi tersebut lebih diarahkan sebagai upaya edukasi agar masyarakat menyadari bahwa persoalan sampah merupakan tanggung jawab bersama.

"Tujuannya bukan sebagai pengganti petugas kebersihan, tapi lebih ke upaya mengedukasi, sosialisasi," jelasnya.

Selain mengajak masyarakat untuk terlibat langsung, kegiatan ini juga membawa perubahan bagi para relawan. Salah satunya dirasakan oleh Resa Fondania yang mengaku mulai lebih memahami dampak sampah setelah bergabung dalam aksi bersih-bersih tersebut. Resa mengaku dulunya juga merupakan pengguna plastik sekali pakai yang tak banyak berpikir soal dampaknya, sampai akhirnya ia melihat langsung betapa beratnya pekerjaan membersihkan sampah yang telanjur menumpuk.

"Ternyata bersihin kayak gini tuh susah. Ternyata ada orang-orang di luar sana yang punya concern dan capek-capek untuk ngelakuin aktivitas dan mengampanyekan itu. Ini sebenarnya sampahnya kita, masalahnya kita," ujarnya.

Menurut Resa, pengalaman mengikuti aksi clean up membuatnya memahami bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari hal besar. Kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan dapat tumbuh melalui tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten dan dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.

Meski tidak dapat mengubah kebiasaan masyarakat dalam waktu singkat, Resa meyakini bahwa aksi bersih-bersih yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi pengingat sekaligus menginspirasi lebih banyak orang untuk mulai peduli terhadap lingkungan.

"Kita harus caring, walaupun jangkanya nggak tentu. Sebisanya kita," tutup Resa. (Dania Putri Saskia)


Editor: Gisella Putri Hapsari

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.