Header Ads

Aliansi Gelora Gelar Aksi Mayday 1 Mei di Yogyakarta, Suarakan Upah Layak dan Pendidikan Gratis

 

Potret massa aksi serempak menyuarakan keresahan mereka melalui poster slogan (Sumber: Romadhon)

Yogyakarta, Sikap - Ratusan massa yang tergabung dalam Aliansi Gelora memadati kawasan Malioboro, Yogyakarta, pada Jumat (1/5/2026) untuk memperingati Hari Buruh Internasional. Dalam aksi ini, massa menyoroti ketimpangan ekonomi yang tajam, rendahnya upah buruh, serta mahalnya biaya pendidikan yang dinilai semakin tidak terjangkau bagi kelas pekerja.
Massa memulai pergerakannya melalui long march dari Jalan Malioboro menuju Perempatan Gondomanan. Pergerakan massa dari Jalan Malioboro diperkirakan dimulai pada pukul 15.00 WIB. 

Koordinator lapangan Aliansi Gelora, Maleo, memberitahukan bahwa estimasi massa yang terlibat dalam aksi ini berkisar antara 250 hingga 300 orang. Massa aksi yang terdiri dari Front Mahasiswa Nasional (FMN), HMI FH UII, Aliansi UMY Bergerak, SMI (Social Movement Institute), dan beberapa ikatan organisasi mahasiswa lainnya di Yogyakarta yang membawa sejumlah tuntutan fundamental, mulai dari penetapan upah layak nasional hingga kritik tajam terhadap komersialisasi pendidikan di Indonesia.

“Kondisi ekonomi rakyat saat ini sedang mengalami krisis yang dipicu oleh kenaikan harga bahan pokok yang tidak dibarengi dengan kenaikan upah yang layak. Kondisi ini memaksa banyak buruh dan petani bertahan hidup melalui hutang, yang terlihat dari meningkatnya transaksi di pegadaian serta maraknya penggunaan pinjaman online (pinjol),” tegas Maleo.

"Kami mendesak pemerintah untuk segera menetapkan upah layak nasional dan menghentikan skema monopoli serta perampasan tanah yang hanya menguntungkan investor asing dan kapitalis birokrat," ujar Maleo selaku Koordinator lapangan Aliansi Gelora. Ia juga mengkritik regulasi ketenagakerjaan yang dianggap tidak melibatkan aspirasi buruh secara bermakna, sehingga banyak pelanggaran di pabrik yang tetap tidak terungkap.

Isu pendidikan juga menjadi salah satu poin krusial dalam aksi kali ini. Peserta aksi dari Aliansi UMY Bergerak, Dian Mustikarini, mengungkapkan keresahannya mengenai liberalisasi dan komersialisasi pendidikan. Mereka menyoroti kontradiksi antara Upah Minimum Regional (UMR) Yogyakarta yang berada di kisaran Rp2,4 juta dengan biaya Uang Kuliah Tunggal (UKT) di universitas yang bisa mencapai Rp7 juta.

"Sangat miris, sistem pendidikan sekarang bersifat liberal, privat, dan komersial. Bagaimana anak buruh dan petani bisa mengakses pendidikan jika biayanya setinggi itu sementara upah orang tua mereka rendah?," tutur Dian selaku perwakilan dari Aliansi UMY Bergerak. 

Dari sisi keamanan, pihak kepolisian menyiagakan sekitar 100 personel untuk mengawal jalannya aksi, khususnya di titik simpang empat Gondomanan. Skema pengamanan dilakukan dengan mengedepankan pendekatan humanis guna menjamin hak penyampaian aspirasi masyarakat tetap berjalan tertib di jalan raya. Hal ini juga didukung oleh komunikasi yang terjalin antara penyelenggara dan petugas keamanan. “Kami berkoordinasi dengan Polresta Yogyakarta kemarin untuk acara hari ini. Semua berjalan dengan baik dan dikawal oleh aparat,” ujar Maleo selaku Koordinator lapangan Aliansi Gelora.

"Kondisi keamanan selama aksi berlangsung terpantau aman dan kondusif. Pihak penyelenggara telah memberikan surat pemberitahuan sebelumnya, sehingga koordinasi terkait jumlah massa dan alat peraga berjalan baik," jelas Kapolsek Basungkawa Gondomanan. Pihak aparat juga menyatakan telah menyiapkan langkah netralisir jika terjadi eskalasi, namun hingga aksi berakhir, situasi tetap terkendali. 

Aksi unjuk rasa berakhir dengan tertib di kawasan simpang empat Gondomanan. Massa membubarkan diri secara teratur setelah seluruh poin tuntutan disampaikan, dengan harapan aksi ini memperkuat solidaritas antar-kelas untuk mendorong perubahan sistemik yang lebih berpihak pada rakyat kecil di masa depan. (Nayla Enzethiana Wiandaputri)

Editor: Faiz Hasyfi Fahimsyah


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.