Header Ads

Seruan Aksi Kekerasan Polisi di Polda DIY Berakhir Ricuh

 

Kerumunan massa aksi yang berhasil merangsek masuk ke dalam Polda DIY. (Sumber: Romadhon)

Yogyakarta, Sikap - Aksi penyampaian ekspresi di depan Markas Kepolisian Daerah (Polda) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) sempat ricuh. Seluruh lapisan masyarakat turut serta mengikuti aksi protes pada Selasa (24/2/2026). Unjuk rasa ini dilatar belakangi dari keresahan masyarakat atas insiden kekerasan polisi yang menimpa Arianto Tawakal (14) di Maluku.

Salah satu peserta aksi berinisial Waben menyebut aksi tersebut sebagai bentuk kemarahan masyarakat atas peristiwa di Maluku yang menewaskan seorang remaja berusia 14 tahun.

“Aksi ini merupakan bentuk ekspresi kemarahan masyarakat atas insiden-insiden yang terjadi di Maluku khususnya. Ada anak berusia 14 tahun yang ga bersalah tapi tiba-tiba dihantam oleh polisi hingga meninggal, sehingga ini ekspresi bentuk kemarahannya saja,” ujarnya di lokasi aksi berlangsung.

Seluruh peserta aksi mulai berjalan menuju ke Polda DIY pada pukul 17.55 WIB. Rombongan melakukan jeda sejenak hingga sekitar pukul 18.20 WIB, mengingat unjuk rasa dilakukan ketika di bulan Ramadhan.

“Tadi dari UPN sekitar jam 17.55 WIB berangkat bareng-bareng, sampai Polda tadi temen-temen buka bersama dulu. Dengan minum dan sebagainya, mereka bawa sendiri. Terus setelah buka, temen-temen langsung merapat ke pintu polda bagian timur untuk menyuarakan keresahannya,” terang WB.

Massa aksi juga melakukan beberapa bentuk protes lainnya. Salah satunya mencoret-coret beberapa tembok yang mengelilingi Polda DIY.

Sholat Ghaib berjamaah yang digelar di jalanan Ringroad Utara depan Polda DIY. (Sumber: Romadhon)

Salah satu bentuk protes berikutnya yakni melakukan sholat ghaib berjamaah di depan Polda DIY. Salah seorang Aktivis HMI dari UGM, Yazi mengatakan sholat ghaib ini sebagai sarana mendoakan para korban dari kasus-kasus kekerasan polisi yang terjadi belakangan ini.

“Dengan sholat ghaib ini kita doakan semoga para almarhum yang menjadi korban dari kejahatan para polisi itu mendapatkan ketenangan di alam sana,” ujarnya setelah selesai menjadi imam dari sholat ghaib berjamaah di depan Polda.

Aktivis HMI tersebut juga menambahkan tentang tuntutan pada aksi kali ini yakni untuk menyadarkan dan segera melakukan reformasi.

Untuk tuntutan aksi hari ini, kita berharap setidaknya polisi bisa sadar bahwa mereka tidak bisa melakukan ataupun semena-mena terhadap rakyatnya dan melakukan reformasi. Polisi itu harus hadir sebagai garda pelindung bagi masyarakat tidak boleh ada lagi korban yang timbul dari rakyat,” jelas Yazi.

Menjelang malam aksi mulai memunculkan kericuhan. Massa aksi mulai berlarian menjauhi pintu gerbang Polda DIY. 

Kericuhan terjadi setelah massa aksi berupaya menjebol barikade kawat berduri menggunakan gerbang yang telah roboh. Adapun pelemparan petasan ke arah ringroad tempat massa aksi bergerombol.

Pembubaran massa aksi terjadi akibat pengepungan segerombolan ormas dari arah Mall Pakuwon sekitar pukul 20.14. Massa aksi mulai berpencar dan menjauh dari Polda DIY. (Romadhon)


Editor: Pelangi Aulia Ramadhani Augusta






Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.