Header Ads

Secarik Kisah Hanang Si Penjaja Koran Berkursi Roda


Hanang dan kursi rodanya. (Sumber:Latri Rastha Dhanastri)

Pukul 10.00 WIB di depan SD Kanisius Gayam Yogyakarta, seorang lelaki paruh baya terlihat menjajakan koran di tengah padatnya lalu lintas Yogyakarta. Pria tersebut adalah Hananggoro Septian atau kerap disapa Hanan. Setiap pagi dan sore hari, Hanang bersama kursi rodanya mengelilingi kerumunan pengendara mobil dan motor yang berhenti di lampu merah. Matanya memandang satu persatu orang di sana, sambil sesekali mengusap keringat yang mengucur di keningnya.

Hanang terlahir sebagai anak tunggal dari seorang ayah, anggota KOSTRAD RI (Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat Angkatan Darat Republik Indonesia) yang gugur di medan perang. Pria asal Solo itu menikah dan kemudian memutuskan untuk menetap di Yogyakarta. Sebelum berjualan koran seperti sekarang, Hanang sempat menjadi sopir truk dan mengalami tragedi naas saat sang istri sedang hamil 7 bulan. "Dulu saya nggak cacat. Tapi karena kecelakaan kereta api di Gresik waktu itu saya jadi begini," tuturnya.

Hanang tampak percaya diri meskipun hanya memiliki satu kaki dan goresan di dahinya. Ia merasa sangat bersyukur karena masih diberi kehidupan oleh Tuhan. Setahun sejak peristiwa yang menimpanya, di tahun 2004 pria itu mulai beralih profesi menjadi penjual koran di simpang empat jalan Ki Mangunsarkoro, Yogyakarta. 

Hanang melakoni pekerjaan itu karena tak ingin menganggur. Hal ini selaras dengan ucapan yang disampaikannya kepada Lini, sang istri. “Mau dalam keadaan apapun saya harus bertanggung jawab dengan hidup istri saya. Dulu saya sudah berjanji akan sehidup semati menemaninya,” ujarnya. Ia juga menjelaskan ada beberapa platina yang tertanam dari ujung kepala hingga kakinya. Namun, benda itulah yang terus membantunya bertahan hidup hingga sekarang. 

Hanang mengaku meskipun ia berstatus penyandang difabel yang tidak berpendidikan tinggi, dirinya selalu mengikuti perkembangan  politik di Indonesia. Tak hanya sekadar menawarkan koran, tapi ia memahami betul informasi yang diberikan oleh media di hari itu. Misalnya saja pemberitaan politikus kemarin sore, Rocky Gerung yang gemar mengkritik presiden. "Dia seenaknya komplen soal kebijakan pak Jokowi. Tapi coba saja kalau dia yang jadi presiden, belum tentu dia bisa berbuat seperti apa yang dikatakan," ucapnya bersungut-sungut.

Bergumul dengan kepul asap kendaraan dan bau bensin setiap hari, sama sekali tak menggoyahkan tekad Hanang untuk berjualan koran. Terik matahari dan derasnya hujan akan Hanang terjang demi mematahkan stigma orang-orang yang menganggap dirinya rendah. “Saya nggak peduli sama omongan orang yang bilang wes mlarat buntung neh, Saya yakin orang yang bilang gitu belum tentu bisa bertahan hidup. Jadi siapapun itu jangan pernah merasa tinggi, walaupun Saya begini tapi pengalaman saya banyak dari yang punya 2 kaki sekarang tinggal satu,” jelasnya. Hanang menambahkan, bukan berarti ingin sombong tapi ia berusaha menguatkan dirinya dari trauma bertahun-tahun, karena jujur saja kejadian itu masih membekas dibenaknya. (Latri Rastha Dhanastri)


Editor: Ikhsan Fatkhurrohman Dahlan


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.