Header Ads

Transformasi Perkembangan Teknologi di Gedung Baru Museum Sonobudoyo


Teknologi video mapping di Gedung Baru Museum Sonobudoyo Unit I
(Sumber: Muhammad Sunendra)

Museum Sonobudoyo terus mengikuti perkembangan teknologi guna meningkatkan pengalaman dalam kunjungan. Gedung Baru Museum Sonobudoyo Unit I merupakan salah satu bukti inovasi dalam menghadapi perkembangan teknologi yang sedang terjadi.

Alasan Museum Sonobudoyo menerapkan transformasi digital adalah untuk menciptakan tempat yang nyaman dan menarik bagi semua kalangan, mulai dari anak-anak, orang dewasa, budayawan, sejarawan, hingga masyarakat umum. Hal ini disampaikan oleh Ade Fitraul Husna selaku pemandu museum.

"Digitalisasi dilakukan sebagai bentuk adaptasi terhadap perubahan zaman dan untuk memperluas pasar. Kami ingin menarik lebih banyak pengunjung ke Museum Sonobudoyo, terutama anak muda, karena sebelumnya pengunjung cenderung terbatas dalam kelompok tertentu," ujarnya.

Gedung Baru Museum Sonobudoyo terdiri dari tiga lantai dengan berbagai koleksi menarik yang dipamerkan. Di lantai pertama, terdapat lukisan, miniatur kendaraan tradisional, dan koleksi perjamuan zaman dahulu dan sekarang (rijsttafel). Rijsttafel dilengkapi dengan teknologi animasi di atas meja yang menampilkan jenis makanan dan proses pembuatannya.

"Teknologi audio dan visual rijsttafel memperlihatkan penyajian makanan, susunan meja, susunan piring, dan proses pengolahan makanan yang dijelaskan. Hal ini memudahkan pemandu museum dalam menjelaskan dan menarik perhatian pengunjung karena animasinya menarik," kata Husna.

Di lantai dua, terdapat koleksi seni pertunjukan seperti topeng, wayang, kostum, gamelan, dan yang paling menarik adalah video mapping yang menjelaskan pewayangan set damarwulan. Cerita Wayang Klitik ditampilkan secara interaktif menggunakan teknologi augment reality sehingga pengunjung dapat dengan mudah mempelajari tokoh dan jalan cerita pewayangan.

Inovasi rijsttafel dan video mapping berhasil membuat pengunjung puas dengan fasilitas yang ada di Museum Sonobudoyo.

"Video mapping dan rijsttafel menarik perhatian karena animasinya berwarna dan dilengkapi dengan penjelasan audio. Ceritanya juga tidak membosankan sehingga mudah diikuti. Teknologi ini bermanfaat bagi saya dan anak muda lainnya untuk belajar sejarah, seni, dan budaya Indonesia," ujar Amar, salah satu pengunjung.

Terakhir, di lantai tiga terdapat koleksi keris, senjata, daur hidup, wastra busana, serta kain batik. Terdapat juga photo booth digital yang selalu ramai dengan kehadiran anak muda yang ingin berfoto bersama.

Lantai tiga berhasil menarik perhatian pengunjung mancanegara dengan koleksi batik yang dipamerkan. "Lantai 3 lebih baik dari lantai sebelumnya. Hal yang membuat saya kagum adalah batik-batik yang dipamerkan berasal dari berbagai wilayah, khususnya Bali, tidak hanya Jawa. Saya juga melihat inovasi yang melibatkan teknologi yang sangat berguna, terutama untuk anak-anak yang jarang mempelajari sejarah, seni, dan budaya," ujar Thijs, wisatawan asal Belanda.

Digitalisasi museum berhasil meningkatkan jumlah pengunjung dibanding sebelumnya. Hal ini disebabkan oleh postingan pengunjung terkait adanya teknologi baru yang menarik minat masyarakat luas. Selain itu, fenomena museum date juga membuat museum semakin ramai dikunjungi oleh pasangan muda.

Namun, di balik banyak manfaat digitalisasi, terdapat beberapa tantangan dalam implementasinya. "Karena penggunaan kecerdasan buatan melibatkan perangkat elektronik, teknologi ini memiliki batasan usia. Ditambah dengan museum yang buka hingga malam, sistem terus bekerja. Dalam dua minggu terakhir, kami menghadapi kendala di ruang wayang karena sensor yang tidak berfungsi, sehingga saat ini masih dalam proses perbaikan," ungkap Husna. (Muhammad Sunendra)


Editor: Razaqa Hariz


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.