Header Ads

Hari Buku Nasional, Literasi Beralih dari Perpustakaan ke Coffee Shop

Suasana Jogja Litera Space (Sumber: Romadhon)

Yogyakarta, Sikap - Menjelang sore, sejumlah kedai kopi di Jogja mulai ramai oleh mahasiswa yang datang membawa laptop, tumpukan buku, dan kabel charger yang menjalar di setiap sudut meja. Sebagian hadir dalam kelompok untuk bertukar cerita, sementara sebagian lainnya duduk sendirian. Mereka sibuk dengan layar atau bacaan yang harus diselesaikan di sela-sela waktu luang mereka. Sudah beberapa tahun belakangan, pemandangan semacam ini makin ramai, saat coffee shop mulai bertransformasi melampaui fungsi dasarnya sebagai tempat mengopi, makan siang, dan area pertemuan.

Fenomena ini muncul lantaran dorongan literasi yang tak kunjung surut, namun terganjal oleh minimnya tempat ideal untuk membaca, yaitu perpustakaan. Namun, berbagai tantangan tampaknya mendorong para mahasiswa untuk terlalu bergantung pada coffee shop sebagai ruang membaca dan belajar.

Di sisi lain, banyak perpustakaan yang masih terikat pada jadwal kerja yang sudah umum berlaku, sementara mahasiswa sendiri baru bisa menemukan waktu luang di petang hari ketika jam kuliah mereka usai. Kondisi yang demikian perlahan-lahan membuat coffee shop mulai mengambil alih ruang literasi.

Begitu pula di Yogyakarta, kita bisa melihat bagaimana mahasiswa menjadikan Grahatama Pustaka sebagai salah satu pusat kegiatan literasi mereka. Bagi mahasiswa dan pelajar, perpustakaan daerah ini menjadi tujuan utama berkat koleksinya yang paling lengkap dan fasilitas yang cukup memadai. Kendati demikian, jam buka yang tidak memadai itu kerap kali menyulitkan pengunjung yang berambisi mendalami materi di ruang baca fisik.

Rabbany, seorang mahasiswa sekaligus pegiat literasi, memandang masalah yang dihadapi saat ini tidak hanya terkait dengan eksistensi perpustakaan, tetapi juga terkait dengan adanya akses ke ruang publik yang bisa dimanfaatkan saat masyarakat membutuhkan. Menurut Rabbany, mahasiswa biasanya banyak punya waktu luang untuk membaca ketika malam hari, tapi sayangnya perpustakaan kebanyakan sudah pada tutup. Kondisi ini membuat banyak orang harus belajar ke coffee shop, walau harus menanggung biaya ekstra.

“Sering kali kita sebagai mahasiswa punya waktu luang itu malam, sedangkan nggak ada perpustakaan yang buka malam. Adanya coffee shop yang harganya 20 ribuan ke atas,” ujarnya.

Rabbany mengakui bahwa ia sering mendapati dirinya berada di coffee shop. Di balik suasana nyaman dan jam operasional yang lebih panjang, terdapat persoalan lain yang jarang disadari, yakni biaya yang harus dikeluarkan hanya untuk memperoleh tempat duduk dan akses belajar yang layak.

Pembelian minuman atau makanan sering kali menjadi keharusan hanya untuk dapat menggunakan tempat dan ruang belajar yang tersedia di kedai kopi, yang kemudian memunculkan pengeluaran tambahan. Dalam kondisi demikian, aktivitas literasi yang seharusnya dapat diakses secara inklusif justru menjadi bergantung pada kemampuan ekonomi masing-masing individu.

Theodora Calista Nadia, seorang mahasiswi Hubungan Internasional juga mengalami perasaan yang serupa. Meskipun ia masih lebih menikmati belajar di perpustakaan daripada di coffee shop, dia memahami mengapa mahasiswa memilih opsi yang terakhir. Memang perpustakaan menawarkan fokus yang lebih baik, tetapi jam operasionalnya akan tetap menjadi kendala.

Menurut Calista, jeda untuk istirahat dan jam buka yang relatif singkat itu hanya menyebabkan mahasiswa hanya memiliki sedikit waktu untuk benar-benar memanfaatkan fasilitas yang ada.

“Kalau kenyamanan, pastinya lebih nyaman belajar di perpustakaan. Karena kalau di coffee shop itu kondisional. Jadi kadang orang-orang merasa karena itu coffee shop, jadi mereka berhak untuk melakukan apa yang mereka mau dengan sesuka mereka.” katanya.

Terlepas dari itu, kenyataan yang ada membuat banyak mahasiswa terpaksa menerima keterbatasan pilihan. Bagi Calista, peningkatan mahasiswa yang belajar di coffee shop sebetulnya lebih disebabkan oleh minimnya tempat untuk belajar secara umum, bukan karena terjadi pergeseran gaya remaja pada bagaimana mereka menghabiskan waktu untuk membaca. Ia yakin bahwa apabila perpustakaan atau ruang baca umum dibuka hingga larut dengan fasilitas yang baik, orang-orang akan kembali memadatinya.

Di sisi lain, pihak Grahatama Pustaka juga mengakui bahwa keterbatasan layanan yang ada saat ini tidak terlepas dari masalah sumber daya. Pustakawan Grahatama Pustaka, Hendy Prasetya, menjelaskan bahwasanya layanan perpustakaan jauh lebih baik sebelum pandemi COVID-19 melanda. Pada saat itu, jam operasional perpustakaan bisa berlangsung hingga larut malam dan tersedia pada akhir pekan. Namun, pengurangan anggaran pascapandemi berdampak langsung pada jumlah tenaga pendukung yang tersedia.

“Dulu sebelum Covid tenaga kami masih lumayan banyak, sekitar 100 orang outsourcing. Jadi kami bisa buka dari Senin sampai dengan Minggu, dari pagi sampai dengan jam 10 malam. Cuma setelah Covid itu ‘kan anggaranya diprioritaskan untuk hal-hal yang lebih prioritas, penanganan Covid dan lain-lain, sampai dengan sekarang itu semakin berkurang. Sehingga posisi saat ini kami ada tinggal 17, dari 100 tinggal 17 outsourcing yang harus kami bagi di tiga lokasi.” jelas Hendy.

Kondisi tersebut memaksa perpustakaan berada dalam dilema pelik, antara kebutuhan layanan publik yang terus membengkak dan keterbatasan sumber daya yang ada. Sebagai respons atas kondisi tersebut, Grahatama Pustaka meluncurkan Jogja Litera Space, sebuah working space yang melayani hingga pukul 22.00 WIB, lengkap dengan akses internet, colokan listrik, dan area yang lebih adaptif untuk mahasiswa serta pekerja. Kendati begitu, pihak perpustakaan tidak melihat maraknya coffee shop sebagai pertanda bahwa mereka akan kehilangan tempat secara eksistensial.

Menariknya, Hendy juga memberikan sinyal positif terkait kemungkinan bersinergi dengan ekosistem kedai kopi di sekitar Grahatama Pustaka. Meski saat ini kerja sama formal belum terjalin, ia menganggap ide tersebut sebagai langkah strategis ke depan.

“Kemarin memang belum ada kerja sama dengan coffee shop. Menurut saya itu saran yang bagus. Ke depannya, kami bisa menggandeng mitra-mitra seperti coffee shop atau tempat lain yang memang menyediakan ruang berkegiatan untuk bersama-sama mendukung ekosistem literasi ini,” ungkap Hendy.

Bagi Hendy, coffee shop bukanlah kompetitor, melainkan mitra potensial yang bisa membantu menyediakan tempat dan koleksi yang mungkin tidak dimiliki perpustakaan. Menutup pembicaraan di Hari Buku Nasional ini, ia menegaskan komitmen lembaga.

“Kami di Balai Layanan Perpustakaan berkomitmen semaksimal mungkin menyediakan koleksi bahan bacaan yang inklusif bagi seluruh lapisan masyarakat. Tidak hanya secara fisik, kami juga mengoptimalkan akses melalui platform digital agar masyarakat dapat membaca kapan saja dan di mana saja. Harapannya, hal ini bisa terus meningkatkan literasi masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakarta,” pungkasnya. (Siti Zahra Supriyadi)

Editor: Nayla Enzethiana Wiandaputri Santoso

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.