Dilema Mahasiswa antara Ekonomi dan Keberlanjutan Pendidikan
Ilustrasi Mahasiswa yang Menjalani Part Time dan Kuliah (Sumber: Dinan Alfa Adlan)
Yogyakarta, SIKAP - Seiring meningkatnya lonjakan biaya pendidikan tinggi dan tuntutan terhadap pemenuhan kebutuhan hidup harian, gelombang mahasiswa yang merangkap sebagai pekerja paruh waktu kian berkembang di lingkungan kampus. Demi mempertahankan keberlangsungan studi dan meringankan beban finansial keluarga, tidak sedikit mahasiswa yang terpaksa mengambil pekerjaan dengan sistem part time. Kondisi dilematis ini memposisikan mereka berada di persimpangan yang terjal, terjepit di antara idealisme untuk mengejar prestasi akademik dan realitas pemenuhan kebutuhan ekonomi yang mendesak secara bersamaan.
Kerja paruh waktu kini tidak lagi sekadar tren untuk mengisi waktu luang atau ajang mencari uang jajan tambahan bagi kalangan akademisi muda. Di tengah jepitan realitas sosial hari ini, fenomena mahasiswa pekerja, terutama mereka yang mengambil alokasi shift malam hingga dini hari sebagai penjaga stand makanan, ojek online, konsultan parfum, barista, sampai dengan layanan promotor menjadi pilihan yang tidak dapat dihindari. Jam kerja yang diklaim fleksibel sering kali menuntut imbalan yang mahal, mulai dari pemotongan drastis waktu istirahat sampai pengorbanan stabilitas kesehatan fisik maupun mental demi menyeimbangkan dua dunia yang sama-sama menuntut komitmen penuh.
Kisah pertama datang dari seorang mahasiswa humas, Muhammad Fariqul Mawad yang saat ini melakoni tanggung jawab dengan memegang dua pekerjaan sekaligus. Pada siang hari di sela-sela jadwal kelas, Fariqul menjaga stand makanan (Misop Medan Abang Awak) di area Kampus 1, lalu saat malam tiba, ia bertransisi menjadi driver Shopee Food hingga tengah malam. “Alasan utama aku kerja adalah untuk mengimbangi kebutuhan finansial keluarga, membantu beban adik yang baru mulai kuliah, sekaligus mencari pengalaman praktis di lapangan,” ungkap Fariqul.
Rutinitas hariannya dimulai sejak subuh. Pada pukul 06.00 WIB pagi ia sudah harus melakukan persiapan jualan hingga pukul 18.00 WIB petang. Setelah bersih-bersih stand, ia langsung beralih pada kerjaan berikutnya yakni sebagai driver Shopee Food menggunakan akun sewaan sampai pukul 00.00 WIB malam. “Tidur hanya beberapa jam, lalu besoknya mengulangi siklus yang sama,” tambahnya. Fariqul mengeluhkan, tantangan terbesar muncul saat masa pembayaran Uang Kuliah Tunggal (UKT). Ketika dana yang ada belum mencukupi, ia bekerja lebih ekstra sembari mengimbangi kuliah dan fokus demi mengejar kekurangan dana tersebut.
Latar Belakang ekonomi yang mendesak juga dirasakan oleh Irfan Firmansyah dan Rizky Kayla, keduanya merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2023 yang saat ini bekerja sebagai promotor di gerai Dazzle Yogyakarta. Irfan, yang sudah menjalani pekerjaan ini selama hampir 10 bulan, mengakui bahwa kondisi ekonomi pribadi dan kebutuhan untuk membiayai hidup sendiri adalah pendorong utama bagi dirinya untuk terjun ke dunia part time. Hal yang sama disampaikan pula oleh Rizky yang merasa harus mandiri secara finansial karena kiriman dari orang tua yang telah lepas.
Meskipun demikian, tidak semua mahasiswa part time murni didorong oleh krisis finansial yang mencekik. Mufida, seorang mahasiswi humas semester 4, menjelaskan bahwa motivasi utamanya adalah eksplorasi diri dan mencari pengalaman di luar organisasi kampus. “Kalau dibilang mandiri finansial secara penuh sih enggak, aku berpikir realistis aja. Kerja part time memberikan pengalaman nyata dan bonusnya adalah tambahan dari segi finansial,” kata Mufida.
Sementara itu, Ragil, seorang mahasiswa humas semester 4 lainnya yang bekerja di sektor Food and Beverage (F&B) Simbar Joyo Klaten, mengambil jalan ini karena enggan terus bergantung pada orang tua serta ingin memiliki dana mandiri untuk menyalurkan hobinya dalam mendaki gunung. Ragil memilih untuk memadatkan jadwal akademiknya semaksimal mungkin pada hari kerja, yaitu Senin hingga Jumat. Sementara itu, jadwal kerja paruh waktunya sengaja dialokasikan pada akhir pekan, yaitu Sabtu dan Minggu, agar keduanya tidak saling berbenturan.
Menjalani dua kehidupan secara paralel jelas menuntut manajemen waktu yang luar biasa, namun benturan jadwal tetap menjadi sebuah ketakutan yang tak terhindarkan. Mufida memanfaatkan jadwal kuliahnya yang padat di awal pekan mulai Senin sampai Rabu dari pagi hingga pukul 17.30 WIB dan setelahnya ia langsung bergegas mengambil shift malam pada pukul 18.30 WIB. Ia bahkan selalu membawa seragam kerja ke kampus agar bisa langsung bertransisi setelah kuliah selesai tanpa membuang banyak waktu.
Namun, tantangan terberat muncul saat memasuki masa ujian akhir semester yang berbasis proyek kelompok. “Sekarang kan tugas kuliah basisnya proyek kelompok untuk UAS, jadi waktu tidak bisa diatur sepihak atau sesuka hati karena melibatkan orang lain. Untungnya tempat kerjaku menyediakan 3 shift dan aku bisa request untuk ambil shift malam jam 18.00 WIB agar siangnya bisa survei UMKM atau kerja kelompok.” jelas Mufida.
Bagi Irfan dan Rizky, benturan jadwal diminimalisir melalui sistem form mingguan di tempat kerja mereka, di mana mahasiswa wajib mengumpulkan jadwal kuliah agar pihak manajemen dapat memetakan shift yang aman. Namun, jika terjadi agenda kampus atau tugas yang tiba-tiba mendesak, solusi tercepat yang mereka lakukan adalah meminta bantuan rekan kerja untuk bertukar shift atau meminta izin resmi dari atasan.
Harga yang harus dibayar demi kemandirian finansial ini nyatanya tidak murah. Tekanan fisik akibat kurang tidur dan kelelahan berlebih menjadi musuh utama. Mufida menceritakan pengalamannya yang sempat tumbang dan terpaksa izin kerja dua kali dalam satu bulan karena kondisi fisiknya yang kaget dan perlu beradaptasi dalam menghadapi ritme kerja siang-malam yang baru selesai pada pukul 00.30 WIB dini hari.
Ragil, yang setiap hari kerja harus menempuh perjalanan pulang pergi (PP) antarkota lebih dari belasan kilometer antara Jogja dan Klaten, memilih olahraga teratur dan menjaga kualitas tidur sebagai pelampiasan stres. Sementara bagi Irfan dan Rizky, meluangkan waktu satu hari penuh saat akhir pekan tanpa aktivitas kerja menjadi metode utama untuk me-time atau sekadar bersosialisasi mengembalikan energi yang terkuras habis.
Di balik tumpukan rasa lelah, selalu ada letupan kebahagiaan kecil yang membuat perjuangan mereka terasa berharga. Fariqul merasa jerih payahnya terbayar lunas ketika pembeli memberikan pujian langsung bahwa masakan di stand-nya enak, serta kepuasan batin saat mampu meringankan beban finansial orang tua secara langsung.
Ragil mengenang pencapaian luar biasa saat tim kerjanya yang hanya beranggotakan 11 orang sukses menangani reservasi besar sebanyak 600 orang dalam waktu yang sangat singkat yakni 2-3 jam saja dengan komplain yang minimal. Bagi Irfan, bekerja paruh waktu membuka matanya tentang betapa sulitnya mencari uang, yang secara otomatis mengubah sudut pandangnya untuk lebih menghargai kerja keras orang lain. Rizky pun merasakan perubahan kepribadian yang signifikan dari seorang yang cenderung introvert, kini ia menjadi jauh lebih berani dan percaya diri dalam memulai percakapan dengan orang baru berkat tuntutan interaksi harian dengan pelanggan.
Respons dari lingkungan terdekat pun bergerak di antara rasa bangga dan kecemasan yang mendalam. Orang tua Fariqul awalnya melarang keras karena khawatir akan akademiknya yang terganggu, namun perlahan luntur menjadi dukungan penuh setelah melihat sang anak mampu membuktikan keseimbangan aktivitasnya. Rekan-rekan sejawat di kampus pun mayoritas menunjukkan sikap yang suportif, mengingat ekosistem mahasiswa pekerja di Yogyakarta sudah menjadi hal yang lumrah ditemukan.
Fenomena mahasiswa pekerja paruh waktu pada akhirnya menyajikan potret ganda yang mendalam mengenai realitas generasi muda hari ini. di satu sisi, ia merekam dengan jelas potret ketimpangan sosial-ekonomi dan mahalnya akses pendidikan yang memaksa mahasiswa mengorbankan waktu istirahat serta stabilitas fisiknya demi bertahan hidup (survive). Namun di sisi lain, fenomena ini melahirkan optimisme atas tingginya daya juang, mentalitas baja, dan kedewasaan dini para mahasiswa dalam menjemput masa depan. Mereka membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan alasan untuk menyerah pada keadaan, melainkan bahan bakar untuk melangkah lebih jauh dan merajut asa akademis di ruang kelas sembari menapaki anak tangga dunia kerja yang nyata. (Dinan Alfa Adlan Suryo Bawono)
Editor: Qothrunnada Karimah Mufidah

Tulis Komentarmu