Jefferson, Ketika Karya Musik Menjadi Jalan Pulang Sejarah yang Terkubur
![]() |
| Sampul atau artwork album Paradoks Diametral oleh FSTVLST. (Sumber: spotify.com) |
Yogyakarta, Sikap - Ada sebuah gedung di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 19, Yogyakarta, yang dulu jadi tempat orang membaca buku dengan tenang. Bertahun-tahun kemudian, ruangan yang sama menjadi tempat penyiksaan tahanan politik. FSTVLST menaruh nama gedung itu, Jefferson, ke dalam salah satu lagu di album terbaru mereka. Ada alasan yang jauh lebih pribadi di balik pilihan itu.
“Jefferson” dirilis 3 April, sebulan sebelum album ketiga FSTVLST, Paradoks Diametral, resmi diluncurkan pada 1 Mei. Album berisi 12 lagu ini membawa ciri khas yang selama ini melekat pada band asal Yogyakarta tersebut. Lirik yang tajam, sarat kritik sosial, dan sering berakar dari pengalaman pribadi. “Jefferson” sendiri ditulis Farid Stevy Asta bersama Roby Setiawan dan Hutama Mahdi Putra, dengan durasi 4 menit 37 detik.
Secara musikal, lagu ini memadukan aransemen bertempo disko dengan nuansa melankolis yang membungkus lirik-liriknya. Pendekatan semacam ini membuat “Jefferson” terdengar kontras, ritmenya mengajak bergerak, sementara isinya mengajak merenung. Sejumlah pendengar menilai lirik lagu ini butuh beberapa kali putaran untuk dicerna, karena diksinya cenderung akademis dan tidak langsung menyebut maksudnya secara gamblang.
Liriknya dapat dibaca dalam tiga lapis. Bait-bait pembukanya menyindir kebiasaan berdiskusi dan berdebat semalam suntuk yang miskin tindakan nyata, menggambarkan orang-orang yang piawai berteori tapi berhenti di situ saja. Liriknya kemudian berbelok ke ranah yang lebih personal bagi Farid, ketika ia menyebut nama Jefferson, gedung yang benar-benar berdiri di Jalan Pangeran Diponegoro Nomor 19, Gowongan, Jetis, sekaligus mengajak pendengar merawat ingatan atas sejarah kekerasan 1965 dan pentingnya keadilan yang menjangkau siapa pun. Menjelang penutup, lagu ini beralih ke renungan soal hidup: sebuah ajakan untuk menjalani hidup dengan penuh kesadaran, alih-alih membiarkannya berjalan sebagai rutinitas kosong.
Menurut esai “An American Library in 1965 Indonesia: From Enlightenment to Torture” yang ditulis mantan diplomat Amerika Serikat Stanley Harsha untuk jurnal Strategic Review, Thomas Jefferson Library sempat ditutup pihak Amerika sendiri sebelum otoritas Indonesia mengambil alih dan mengubahnya menjadi ruang penyiksaan serta pemerkosaan oleh Angkatan Darat pada Oktober 1965. Peralihan itu terjadi tepat di ambang salah satu pembantaian massal terbesar abad ke-20, yang menurut catatan Harsha menewaskan antara 350 ribu hingga lebih dari satu juta orang di seluruh Indonesia.
Kesaksian dari dalam gedung itu terekam dalam liputan SAGA milik KBR.ID pada 2016. Penyintas bernama Sri Murhayati menunjukkan kepada tim liputan lorong tempatnya dulu antre sebelum diperiksa, dan menuturkan penyiksaan berlangsung di lantai dua, sementara di lantai bawah orang-orang dipukuli dengan kaki kursi dan ditelanjangi. Dalam liputan yang sama, penyintas lain, Sutikno, yang saat kejadian masih berusia 20 tahun dan kuliah di Universitas Republika, bersaksi bahwa di gedung itu orang-orang ditelanjangi, diperkosa, dan diinterogasi tanpa henti.
Upaya membuka kembali ingatan atas gedung ini secara resmi pernah muncul. Dilansir dari catatan penulis Adhi Nugroho di situs Nodi, wacana Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan untuk mengubah Gedung Jefferson menjadi Museum Peringatan Tragedi 1965 ditolak keras oleh organisasi masyarakat Gerakan Bela Negara, hingga rencana itu batal.
Bagi Farid, gedung ini juga punya jalur personal menuju sejarah keluarganya sendiri. Kakeknya, Sirin, adalah sekretaris Desa Pelembutan, Playen, Gunungkidul, yang ditangkap pada 1965 dan tak pernah kembali. Sejak 2006, Farid bersama ayahnya, Asto Puaso, menelusuri lokasi makam sang kakek yang sebenarnya, karena makam yang selama ini mereka ziarahi ternyata kosong. Pencarian itu berujung pada 2020, di sebuah gua vertikal sedalam sekitar 100 meter bernama Luweng Grubug, Gunungkidul, yang diyakini jadi salah satu lokasi eksekusi massal 1965. Dilansir dari The Jakarta Post, Farid mengatakan menemukan tempat itu terasa seperti mengetahui lokasi terakhir kakeknya sebelum menghilang, meski ia sadar kedengarannya ganjil. Sejak itu ia menambahkan nama Sirin ke namanya sendiri.
Pencarian keluarga Farid berlangsung 14 tahun, dari 2006 sampai 2020. Penolakan terhadap museum peringatan di Gedung Jefferson menjadi salah satu tanda bahwa keadilan yang disebut dalam lirik “Jefferson” masih diperjuangkan. Lewat lagu ini, Farid membawa nama sebuah gedung, sejarah keluarganya, dan ingatan atas 1965 ke dalam empat menit musik. Sisanya tinggal bagaimana pendengar memilih mengingatnya. (Pelangi Aulia Ramadhani Augusta)
Editor: Romadhon

Tulis Komentarmu