Header Ads

Festival Literasi Jogja 2026 Hadir di Tengah Tantangan Pajak dan Stagnasi Buku

 

Suasana stan Festival Literasi Jogja 2026 di Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta, Senin (13/7/2026). (Sumber: Anggun Ayu Olivia)


Yogyakarta, Sikap - Festival Literasi Jogja 2026 telah dilaksanakan di halaman Dinas Perpustakaan dan Arsip Daerah (DPAD) Daerah Istimewa Yogyakarta pada 9-13 Juli 2026. Festival ini mengusung tema “Jogja Gumregah, Tradisi, Literasi, dan Resiliensi.”

Tema tersebut dipilih untuk merespon sejumlah tantangan nyata di jejaring literasi. Salah satunya kebijakan pajak yang dinilai memberatkan pelaku perbukuan, mulai dari penulis, penerbit hingga penjual buku daring (online).

Salah satu narasumber dari Pustaka Bergerak Indonesia, Faiz Ahsoul, mengungkapkan adanya kebijakan yang bertolak belakang dengan semangat menggalakkan literasi. Ia mencontohkan potongan pajak untuk penulis yang dikurangi, sementara pajak transaksi penjualan buku justru dinaikkan.

“Di satu sisi teman-teman diminta aktif menggalakkan literasi, tapi ada beberapa kebijakan pemerintah yang tampak tidak berpihak pada buku,” Ujar Faiz Ahsoul, narasumber diskusi literasi dari Pustaka Bergerak Indonesia.

Faiz merinci, kenaikan pajak transaksi daring turut memangkas pendapatan reseller buku online. Ia mencontohkan, buku seharga Rp50.000 yang terjual di lokapasar kini hanya menyisakan sekitar Rp41.000 bagi pengecer usai dipotong pajak dan biaya transaksi.

Mesti demikian, Faiz menilai jejaring literasi di Jogja tetap menunjukkan daya tahan. Ia mencatat, para pelaku usaha buku skala kecil di Jogja menjadi pihak yang berinisiatif mengembangkan penjualan buku secara daring saat pandemi Covid-19, saat industri buku sempat nyaris kolaps. Dalam satu tahun terakhir, Jogja juga sudah menggelar bazar buku sebanyak empat kali lebih banyak dibanding kota lain.

Seksi acara dan media Festival Literasi Jogja 2026, Fairuzul Mumtaz, menjelaskan tema besar festival tahun ini merupakan bagian dari program nasional yang didanai Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Perpustakaan Nasional RI. Program itu mendorong perpustakaan daerah menggali tradisi lokal yang dipadukan dengan aktivitas literasi masa kini.

“Festival ini bagaimana perpustakaan tidak hanya sebagai ruang simpan dan pinjam buku, tapi menjadi laboratorium sosial dan pusat pemberdayaan masyarakat,” Ujar Fairuzul di lokasi acara.

Fairuzul menyebut minat baca masyarakat Jogja sebenarnya sudah tinggi. Tantangan utamanya adalah mengubah minat itu menjadi kebiasaan membaca, karena akses masyarakat terhadap buku masih berbeda-beda. Festival ini menyediakan buku murah, ruang diskusi, dan sesi berbagi dengan tokoh-tokoh literasi untuk menjawab tantangan tersebut.

Ia juga mengakui durasi festival yang hanya lima hari menjadi kendala. Dengan sekitar 17 hingga 18 diskusi dalam lima hari, panitia hanya bisa memfasilitasi lima sampai enak komunitas untuk ikut pameran, dari banyaknya komunitas yang ingin bergabung. Kegiatan literasi serupa rencananya akan dilanjutkan lewat Book Fair pada Agustus mendatang.

Di sisi lain, antusiasme pengunjung terhadap festival ini cukup tinggi. April, mahasiswi Universitas Negeri Yogyakarta yang baru pertama kali mengunjungi festival ini, mengaku terkesan dengan banyaknya pilihan buku dan kehadiran para penulis.

“Ternyata seru banget, buku-buku yang dipamerkan lengkap, dan semua penulisnya juga ada di sini,” Ujar April.

April menilai kehadiran banyak pelajar di festival ini menjadi bukti predikat kota pelajar masih relevan untuk Jogja. Ia berharap format festival seperti pojok baca dan buku dengan harga terjangkau dapat dipertahankan dan ditingkatkan pada penyelenggaraan berikutnya. (Anggun Ayu Olivia)

Editor: Faiz Hasyfi Fahimsyah


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.