Diskusi Kolektiva Mayday Digelar, Soroti Upah Buruh yang Tak Selaras
![]() |
| Potret massa aksi dan para narasumber dalam diskusi Kolektiva Mayday. (Sumber: Romadhon) |
Aksi yang dimulai pukul 14.00 WIB ini menjadi ruang konsolidasi untuk mengkritik gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan dampak implementasi UU Cipta Kerja.
Aksi dan diskusi publik ini mengundang empat narasumber yaitu, Muchtar H selaku Dosen Departemen Manajemen Kebijakan Publik (DMKP) UGM, Shinta Maharani selaku Jurnalis Tempo, Dani Eko Wiyono selaku Ketua Serikat Buruh Sejahtera Indonesia (SBSI) Yogyakarta, dan yang terakhir yakni Yassierli Menteri Ketenagakerjaan. Namun, dalam diskusi terbuka kali ini, Yassierli terlihat tidak hadir dalam forum.
Mengikut rundown, acara ini dibuka oleh pembawa acara pada pukul 14.00. Peserta maupun tamu undangan aksi diskusi publik disediakan tikar, dan duduk berbaris ke belakang sepanjang bundaran UGM tersebut.
Sekitar pukul 14.35 diskusi publik dimulai dengan pertanyaan pemantik dari moderator diskusi kepada narasumber. Daffa Busthanurrasyad, selaku Koordinator Acara, “Saya merasa acaranya lancar karena pada akhirnya masyarakat di sini masih bisa mengikuti dan bisa menyatakan rilis sikap yang nyata,” jelasnya.
Memasuki sesi diskusi publik, lebih dari tiga peserta terlihat menanyakan lebih lanjut terkait isu gerakan buruh yang telah disampaikan. Suasana aksi berlangsung kondusif meski sesekali diwarnai seruan dan tepuk tangan peserta. Peserta terlihat aktif untuk melakukan tanya jawab kritis.
Hal ini sesuai dengan penuturan Shinta Maharani, salah satu Pengurus Aliansi Jurnalis Independen Indonesia, “Tadi ada beberapa pertanyaan-pertanyaan yang menarik untuk dilanjutkan disusun atau dikaji lagi, misalnya tentang gerakan buruh yang terpecah-pecah atau terkooptasi, itu merupakan topik yang menarik bagi mahasiswa,” ujarnya.
Sesi diskusi dan tanya jawab oleh peserta dan narasumber aksi berlangsung hingga pukul 17.15. Dalam sesi diskusi tersebut terdapat narasumber tambahan yaitu Teguh, rekan aksi asal Pati pada saat demo Agustus lalu.
Aksi dilanjutkan dengan sesi panggung bebas yang menghadirkan perwakilan dari Retorika Sindikasi Yogyakarta dan Sindikat Buruh. Mereka membacakan puisi serta melakukan orasi berisi kritik terhadap kondisi buruh di Indonesia saat ini.
Meski aparat kepolisian tidak tampak berjaga di sekitar lokasi, aliansi mahasiswa gabungan tetap memastikan aksi berlangsung kondusif melalui kolaborasi antara BEM dan peserta aksi untuk saling mengawasi serta menjaga solidaritas satu sama lain.
Menuju penghujung diskusi massa aksi merilis pernyataan sikap bersama. Pernyataan sikap yang dibacakan berisi sejumlah tuntutan dan unjuk rasa yang dibawakan dalam diskusi ini. Terutama dalam hal menyejahterakan kembali masyarakat buruh Indonesia. (Rahma Aulia)
Editor: Romadhon

Tulis Komentarmu