Header Ads

Implementasi Pembayaran Non-Tunai di Pasar Beringharjo Kurang Optimal

 Suasana jual beli di Pasar Beringharjo. (Sumber: Muhammad Sunendra)

Implementasi pembayaran non-tunai di Pasar Beringharjo Barat tidak sepenuhnya berjalan dengan baik. Banyak ditemukan pedagang yang tidak menunjukan stiker QRIS sehingga pembeli kurang menyadari adanya opsi pembayaran nontunai. 

Melansir dari artikel Tribun Jogja, sejak September 2022 lalu, sudah ada 1.300 dari 5.300-an pedagang Pasar Beringharjo yang telah menggunakan QRIS untuk transaksi jual beli. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Evi Martiani, Vice President Bank Mandiri Area Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurutnya, adaptasi pedagang Pasar Beringharjo Barat dan Timur sudah bagus, tetapi perlu ditingkatkan. 

Kepala Unit Pelaksana Terpadu (UPT) Pusat Bisnis Dinas Perdagangan Kota Yogyakarta Agung Dini Wahyudi Soelistyo turut menanggapi hal ini. Agung menjelaskan bahwa implementasi pembayaran nontunai dalam kesehariannya memang belum dilakukan oleh seluruh penjual. Ia memaparkan bahwa akan diadakan sosialisasi mengenai pembayaran non-tunai. 

“Sosialisasi terkait pembayaran non-tunai dilakukan oleh mitra, khususnya perbankan yang memiliki tujuan untuk mengenalkan implementasi penggunaan QRIS," ujarnya.

Sosialisasi mengenai pembayaran non-tunai penting diadakan untuk kebaikan pedagang. Selain mengikuti perkembangan teknologi, kegiatan jual-beli juga menjadi lebih efektif dan terhindar dari uang palsu yang menjadi permasalahan di pasar. Wacana ini sudah dilakukan oleh beberapa mitra perbankan, yakni Bank BPD DIY dan Bank Mandiri.

Bank Mandiri selanjutnya menargetkan 4.000 pedagang Pasar Beringharjo agar memanfaatkan QRIS Bank Mandiri untuk transaksi jual beli. Salah satu program yang ada yaitu, pembukaan rekening Bank Mandiri gratis, mendapat e-voucher sebesar Rp50.000, dan apabila pedagang mengaktifkan aplikasi Livin Mandiri akan mendapat e-voucher sebesar Rp50.000 lagi. Dengan target dan program yang dicanangkan, seharusnya sudah semua pedagang mengimplementasikan pembayaran menggunakan QRIS. 

Novi, salah satu pedagang pasar Beringharjo mengatakan bahwa pengunjung tak jarang mengalami kendala saat transaksi, begitu juga bagi konsumen yang lebih memilih melakukan pembayaran secara nontunai.

“Memang jarang ada pembeli yang membayar menggunakan QRIS. Kalau ada kadang transaksinya gak masuk karena kendala internet atau lainnya. Untuk solusinya, selalu saya arahkan untuk ke ATM terdekat yang ada di sekitaran pasar,” ujar Novi.

Sungguh disayangkan masih ada banyak pedagang yang belum  menaati kebijakan yang diberikan pemerintah.  Padahal jika semua penjual mengikuti aturan yang berlaku, pembeli tak perlu  membawa uang dalam jumlah yang banyak di dompet dan risiko pencurian uang juga akan berkurang. Hal ini diungkapkan oleh Faizun, salah satu pengunjung yang baru saja selesai berbelanja.

"Saya baru tahu kalau di pasar ini bisa membayar nontunai, sepertinya akan lebih baik apabila stiker QRIS nya terpampang dengan jelas. Jadi pembeli bisa tahu kalau toko tersebut menyediakan pembayaran non-tunai,” tambah Faizun.

Sistem pembayaran nontunai seharusnya bisa lebih diperhatikan lagi mengingat banyaknya manfaat yang didapatkan. Dibutuhkan sinergi yang menyeluruh antara pengelola, mitra, dan pedagang sehingga kesadaran pembeli dapat meningkat. Implementasi transaksi nontunai sejatinya merupakan langkah yang baik untuk menciptakan masyarakat yang melek terhadap perkembangan teknologi digital. (Muhammad Sunendra)



Editor: Latri Rastha Dhanastri

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.