Peringati Sumpah Pemuda 2026, Aksi #INDONESIASADAR Soroti Persoalan Nasional yang Belum Tuntas
![]() |
| Sejumlah massa aksi #INDONESIASADAR yang berkumpul di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta. (Sumber : Dinan Alfa Adlan Suryo Bawono) |
Yogyakarta, Sikap – Aksi #INDONESIASADAR digelar di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta pada Rabu (28/10/2026) mulai pukul 12.00 WIB, bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda. Dalam aksi tersebut, massa menyuarakan berbagai tuntutan terkait persoalan sosial-ekonomi, ketenagakerjaan, pendidikan, serta kebijakan pemerintah.
Perwakilan Jogja Memanggil, Dion, mengatakan aksi tersebut dilatarbelakangi oleh ketimpangan sosial-ekonomi, meningkatnya kebutuhan hidup, serta upah buruh yang dinilai belum sesuai dengan standar hidup layak. “Berangkat daripada kondisi sosial-ekonomi, kemiskinan, ketimpangan yang semakin meningkat,” ujar Dion saat diwawancarai di lokasi aksi.
Berangkat dari berbagai keresahan tersebut, Dion menjelaskan massa membawa 12 tuntutan dalam aksi #INDONESIASADAR. Beberapa di antaranya meliputi penghapusan Makan Bergizi Gratis (MBG), pendidikan gratis, penetapan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) sebagai bencana nasional, serta kesejahteraan buruh dan ketersediaan lapangan pekerjaan.
Sebelum berkumpul di Titik Nol Kilometer, Dion menyampaikan aliansi Jogja Memanggil berangkat dari Asrama Kamasan menuju Kantor Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). “Kami ingin bertemu secara terbuka dengan Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta untuk mendengarkan sikap kami, tuntutan kami,” ujar Dion.
Setelah itu, massa bergerak menuju Titik Nol Kilometer dan bergabung dengan kelompok lain, termasuk UMY Bergerak dan Jogja Memanggil. “Lokasi Titik Nol Kilometer dipilih sebagai pusat aksi karena dinilai strategis untuk menyampaikan tuntutan kepada masyarakat luas, termasuk wisatawan,” jelas Dion.
Dion mengatakan, pihaknya akan tetap mengedepankan konsolidasi dan kesepakatan bersama untuk menghindari konflik, sembari mempertimbangkan langkah lanjutan apabila tuntutan mereka belum mendapat respons. “Kami tidak bertujuan untuk berkonflik ketika melakukan aksi, tapi bagaimana menyebarluaskan tuntutan-tuntutan kami,” katanya.
Ajakan untuk terlibat dalam gerakan rakyat juga disuarakan oleh Guru Besar UGM, Prof. Zaenal Arifin Mochtar atau yang akrab disapa Uceng. Ia turut menjadi bagian dari massa aksi #INDONESIASADAR sebagai bentuk keresahannya terhadap kondisi negara.
Sebagai dosen hukum tata negara, Uceng mengaku merasa malu ketika materi yang diajarkannya tidak sejalan dengan praktik penyelenggaraan negara. “Saya mengajar soal checks and balances, tapi negara yang membunuh checks and balances. Saya malu mengajar soal teori penyusunan perundang-undangan, tapi kan gak pernah dipakai.” ujarnya ketika ditanyakan tujuan untuk ikut aksi sore itu.
Menurut Uceng, keterlibatan pemuda dalam aksi menjadi penting. Ia bahkan meliburkan perkuliahannya dan memindahkan kegiatan belajar ke jalanan. “Mahasiswa ini adalah gerakan yang paling punya integritas sebenarnya. Makanya penting bagi mereka untuk masuk ke sini, penting bagi mereka menyuarakan. Karena ini bicara soal nasib mereka juga,” katanya.
Uceng berharap aksi dan teriakan di jalanan harus terus digaungkan agar keresahan tersebut tidak dilupakan. “Jangan pernah berhenti. Suarakan, karena penting,” tegasnya.
Aksi #INDONESIASADAR menjadi ruang bagi para peserta untuk menyampaikan keresahan sekaligus mendorong perhatian terhadap persoalan sosial-ekonomi, pendidikan, ketenagakerjaan, dan kebijakan pemerintah. Aspirasi berlanjut hingga malam hari di 0 KM Yogyakarta. (Septia Virginia Marpaung, Dinan Alfa Suryo Bawono)
Editor: Romadhon

Tulis Komentarmu