Header Ads

Renovasi Atap Gedung Agus Salim Berjalan di Tengah Kuliah Aktif, Mahasiswa Keluhkan Bising dan Akses Terbatas

Renovasi atap Gedung Agus Salim di Kampus 2 UPNVY (Sumber: Dania Putri Saskia/LPM Sikap)

Yogyakarta, SIKAP - Renovasi atap Gedung Agus Salim di Kampus 2 Universitas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta (UPNVY) Babarsari sudah berjalan kurang lebih dua minggu di tengah masa perkuliahan aktif. Pihak fakultas menyebut pelaksanaan di masa kuliah tidak bisa dihindari karena proses birokrasi dan batas waktu anggaran. Di sisi lain, mahasiswa merasa terganggu oleh kebisingan, debu, serta terbatasnya akses dan lahan parkir.

Gedung Agus Salim adalah salah satu pusat kegiatan akademik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) di Kampus 2 UPNVY. Selama renovasi, mahasiswa, dosen, tendik, dan karyawan tetap beraktivitas seperti biasa di sekitar area proyek. Situasi ini memunculkan pertanyaan tentang kenyamanan warga kampus, serta alasan pembangunan tetap dilakukan pada masa pembelajaran.

Proyek yang berbarengan dengan perkuliahan dan pelaksanaan Ujian Tengah Semester (UTS) membuat suasana belajar tidak kondusif akibat suara reruntuhan material gedung dan penutupan akses jalan utama. Mahasiswa menyayangkan tidak adanya sosialisasi awal dari kampus dan menilai waktu pelaksanaannya kurang tepat. Di sisi lain, pihak birokrasi harus melewati prosedur verifikasi Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan alur lelang perguruan tinggi negeri yang memakan waktu, sehingga pengerjaan baru bisa dimulai setelah semester berjalan. 

Wakil Dekan Bidang Umum dan Keuangan FISIP, Indro Herry Mulyanto, menjelaskan bahwa kondisi atap Gedung Agus Salim sudah memprihatinkan dan berisiko jatuh menimpa warga kampus.

"Gedung Agus Salim ini sudah sejak 2000 itu berdiri, jadi sudah sekitar 25 tahun. Itu memang berkait dengan kelayakan atap itu sendiri sudah kurang layak. Terbukti di saat hujan itu sudah pada bocor, bahkan pernah terjadi plafonnya itu jatuh. Kami khawatir pada saat musim hujan itu nanti masih bocor, plafonnya menggenang air, berat, terus akhirnya jatuh. Itu malah bisa menimbulkan korban," jelas Indro.

Menurut Indro, fakultas sebenarnya sudah merancang agar perbaikan dikerjakan saat libur semester. Namun rencana itu terhalang alur administrasi pemerintah.

"Tahun lalu sudah mengajukan ke universitas agar dilaksanakan renovasi atap Gedung Agus Salim. Kami merancang pelaksanaan diadakan pada saat musim liburan semester. Ternyata dengan posisi UPN sebagai perguruan tinggi negeri, tidak mudah untuk melaksanakan pembangunan yang cepat," ujarnya.

Rancangan tersebut sudah ada sejak Maret. Namun prosesnya melibatkan pihak eksternal, yaitu DPU. "DPU itu baru bulan Agustus kemarin meninjau ke sini, baru menyetujui, kemudian proses pelaksanaan lelang secara terbuka. Setelah lelang ada pemenangnya, pihak DPU harus hadir lagi untuk mengecek, baru proses ini bisa dilaksanakan. Sehingga pelaksanaan itu baru terlaksana pada saat perkuliahan," tambahnya.

Indro menegaskan bahwa pembangunan tidak bisa ditunda ke periode lain karena terikat masa anggaran.

"Kalau namanya pembangunan, mau enggak mau harus dilaksanakan. Kenapa kok harus dilaksanakan? Kalau tidak, dananya itu hilang, karena anggaran itu bisa digunakan sesuai dengan periode waktunya," ungkapnya.

Ia mengakui kondisi ini menyulitkan, termasuk bagi dirinya sebagai dosen. "Saya pribadi selaku dosen juga kesulitan. Tapi di saat saya menjadi pengurus fakultas, kami juga memikirkan bagaimana renovasi ini tetap berjalan, namun semuanya juga bisa berjalan dengan baik," 

Sebagai jalan tengah, fakultas bersama Wakil Dekan Bidang Akademik menyiapkan fleksibilitas metode kuliah. Indro mengatakan, perkuliahan tidak bisa sepenuhnya tatap muka dalam kondisi seperti ini.

"Kami merancang nanti setelah UTS, kami serahkan sepenuhnya kepada dosen masing-masing, bisa secara online, bisa juga secara offline," kata Indro.

Kebijakan ini berlaku di seluruh ruang kuliah yang dipakai FISIP, tidak hanya di Agus Salim. Fakultas juga berencana akan menyiapkan akun Zoom di setiap ruang kelas, dengan dosen sebagai host. Indro mengakui kuliah daring kurang efektif, tetapi menyebutnya sebagai pengorbanan sementara demi hasil yang lebih baik.

Renovasi atap Gedung Agus Salim yang berlangsung di tengah masa perkuliahan aktif menimbulkan sejumlah kendala bagi mahasiswa. Ghina Putri Khairunnisa,  salah satu mahasiswa Ilmu Komunikasi, menceritakan bahwa suara material bangunan yang dirobohkan terdengar jelas hingga ke ruang kelas, bahkan ketika mahasiswa sedang berdiskusi dan mempresentasikan hasil kerja kelompok. “Rasanya tuh nggak nyaman aja. Kita lagi diskusi, terus kita menyampaikan pendapat, kita memaparkan hasil diskusi, itu tuh terganggu sama bunyi runtuhan gedung yang cukup kencang karena jatuhnya tepat di samping ruangan kami,” ujar Ghina.

Selain kebisingan, penutupan sejumlah akses di sekitar gedung turut menghambat mobilitas mahasiswa. Ghina menilai bahwa terbatasnya ruang publik di Kampus 2 membuat penutupan akses tersebut semakin berdampak pada aktivitas mahasiswa, mulai dari perjalanan menuju kelas hingga mencari tempat untuk mengerjakan tugas di sela-sela perkuliahan. Ia juga menyoroti kurangnya informasi awal mengenai proyek renovasi yang membuat mahasiswa mengetahui pembangunan tersebut secara tiba-tiba.

Keluhan serupa disampaikan Aida Nahiza Helmi, mahasiswa Administrasi Bisnis, mahasiswa yang juga merasakan perubahan akses dan kondisi perkuliahan selama renovasi berlangsung. Ia mengaku tidak memperoleh pemberitahuan sebelumnya dari dosen mengenai adanya pembangunan di Gedung Agus Salim. Menurutnya, informasi mengenai renovasi justru baru diketahui ketika akses yang biasa dilewati mahasiswa mulai ditutup.

Aida turut menyoroti kebisingan yang berpotensi mengganggu konsentrasi selama pembelajaran. Suara pekerjaan konstruksi dapat mengganggu penyampaian materi oleh dosen maupun kegiatan mahasiswa di dalam kelas. Meski demikian, ia mengatakan bahwa dampak terhadap performa akademiknya belum terlalu terasa secara langsung. Kendala yang lebih nyata baginya adalah kemungkinan terlambat masuk kelas karena harus mencari lokasi ruang kuliah atau menyesuaikan diri dengan perubahan akses.

Perubahan area parkir juga menjadi salah satu persoalan yang dirasakan Aida dan Ghina. Pengalihan lokasi parkir membuat kawasan tertentu menjadi lebih ramai dan menyulitkan kendaraan untuk keluar-masuk, terutama ketika akses di sekitar gedung turut mengalami pembatasan. Ia berharap pihak kampus dapat memberikan informasi yang lebih jelas kepada mahasiswa sebelum pembangunan serupa dilaksanakan. “Menurut aku, kalau misalnya kedepannya bakal ada kayak gini lagi, sebaiknya pihak kampusnya ngasih berita atau pemberitahuan,” ungkap Aida.

Meski mengakui bahwa renovasi turut menyulitkan kegiatan perkuliahan, Indro menegaskan bahwa pihak fakultas tetap berupaya mengurangi dampaknya. Salah satu langkah yang dilakukan adalah meminta kontraktor memasang jaring pengaman dan terpal untuk mengantisipasi risiko jatuhnya material serta mengurangi debu yang masuk ke area perkuliahan. Fakultas juga berkoordinasi dengan pihak kontraktor mengenai aktivitas pekerjaan yang berpotensi mengganggu kegiatan akademik. (Nayla Enzethiana Wiandaputri Santoso, Siti Zahra Supriyadi)

Editor: Dania Putri Saskia 

 


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.