Header Ads

Bukan Sekedar Tren, Menimbang Kimpul sebagai Masa Depan Pangan Lokal

Bentuk mentah dari kimpul yang belum diolah. (Sumber: Perpustakaan UGM)

Yogyakarta, Sikap - Pangan sebagai salah satu kebutuhan pokok manusia, selain memberikan variasi dalam pola konsumsi, juga mencerminkan budaya dan tradisi masyarakat setempat. Kimpul, salah satu jenis pangan lokal yang saat ini tengah eksis di berbagai media sosial, merupakan tanaman umbi dari keluarga talas-talasan. Viralnya kimpul berawal dari seorang konten kreator TikTok dengan username @black.sheep8208 yang hadir membawakan berbagai olahan pangan modern berbahan dasar kimpul.


Saat istilah kimpul mencuat, masyarakat masih merasa asing dengan kata tersebut. Namun, setelah beredar konten serupa di media sosial, masyarakat mulai tertarik untuk mencari tahu dan mencoba mengolah kimpul. Tapi, benarkah kimpul layak dipertimbangkan sebagai pangan lokal yang akan sering dikonsumsi di masa depan?


Meskipun masih bersaudara dengan talas, kimpul punya keunggulan tersendiri. Intan Dewiyanti, seorang Ahli Gizi menyebutkan komponen utamanya adalah karbohidrat kompleks atau gula kompleks. “Keunggulan dari karbohidrat kompleks adalah dia tidak menaikkan gula darah di tubuh secara cepat,” imbuhnya.


Menurutnya dari segi kandungan gizi, seporsi nasi dengan berat 100 gram mengandung energi sebesar 175 kkal. Sementara dengan porsi yang sama, kimpul justru cenderung lebih sedikit yakni sejumlah 145 kkal. “Untuk menjadikan kimpul sebagai sumber karbohidrat pengganti nasi, perlu adanya tambahan sumber protein hewani, nabati, serta sayur dalam piring makan kita supaya bisa mencapai gizi seimbang,” tambahnya. Kimpul hanya bisa menggantikan teman-temannya sesama karbohidrat. 


Kemudian, kelebihan dari sisi keberlangsungan, kimpul termasuk tanaman baja. Maksudnya adalah kimpul bisa tahan terhadap perubahan iklim yang cenderung ekstrem di Indonesia. Makanya, keberadaan dari kimpul sendiri bukanlah sesuatu yang langka. Terutama di kawasan Daerah Istimewa Yogyakarta. “Kimpul di pasar tradisional ada, di pasar Niten, di Bantul. Di kios-kios dan warung sayur sekitar juga ada”, ujar Suratini yang berdomisili di Bantul.


Di samping kelebihannya, kimpul juga memiliki beberapa kandungan yang perlu diperhatikan. Salah satunya ialah kalsium oksalat, berpengaruh terhadap dosis atau porsi kimpul dalam konsumsi sehari-hari. Konsumsi kimpul dalam porsi cukup tinggi dan diikuti dengan frekuensi makan yang sangat sering, menyebabkan efek samping berupa gejala-gejala seperti rasa gatal, sensasi menusuk atau terbakar, serta iritasi pada mulut dan tenggorokan. Namun, kondisi ini juga bisa dipengaruhi oleh karakteristik sensitivitas tubuh dari masing-masing individu.


Proses pengolahannya pun cenderung mudah, selayaknya bahan pangan lain yakni mengupas, memotong, merendam, dan kemudian dilanjut dengan merebus sampai matang. Proses ini berperan dalam menjaga keamanan pangan dari bakteri dan juga memastikan bahwa kandungan zat gizinya tetap terjaga. Intan Dewiyanti juga menyebutkan perebusan selama 80 menit dapat mengurangi kandungan kalsium oksalat sekitar 75%. Namun, angka ini bukanlah resep pasti, melainkan hanya hasil dari sebuah eksperimen.


Olahan makanan yang berasal dari kimpul. (Sumber: Romadhon/LPM Sikap)

Di sisi lain, tren kimpul ini juga perlu adanya perhatian dalam pengolahan kedepannya. Kebebasan dalam mengikuti tren dapat mendorong munculnya berbagai inovasi makanan berbahan dasar kimpul, tidak terlepas dari peluang pengolahan produk dalam bentuk Ultra Process Food (UPF). UPF memang terkesan praktis dan potensial, tetapi ini juga berdampak negatif terhadap kandungan gizi dari olahan pangan tersebut. Semakin berubah bentuk asli dari suatu makanan, zat gizinya juga sudah banyak yang hilang.


Hadirnya produk UPF, menggeser pola konsumsi masyarakat yang semula kimpul cukup ada di piring makan saja secara sederhana, justru kimpul ini dibuat mengikuti kebutuhan industri yang ditambahkan pewarna serta pengawet. Sehingga perlu adanya etika dan kebijaksanaan dalam memanfaatkan peluang, agar hal tersebut tidak berlebihan. Secara umum, inovasi memang perlu diapresiasi tetapi harus tetap mempertimbangkan sisi humanis.


Terlepas dari segala kelebihan dan kekurangannya, kimpul masih layak untuk dipertimbangkan menjadi bagian dari pola konsumsi utama pangan lokal. Kimpul ini bisa menjadi potensi dalam hal pelestarian pangan lokal serta peluang munculnya diversifikasi pangan yang baru. Hadirnya seorang konten kreator dengan sapaan Ibu Kimpul, membantu mengenalkan keberadaan kimpul di sekitar kita. Kemudian, hal ini juga didukung dengan kolaborasi bersama mahasiswa Teknologi Pangan untuk mewujudkan diversifikasi pangan secara berkelanjutan. Keberlanjutan ini perlu adanya dukungan dari para stakeholder maupun policy maker, serta peran dari semua generasi. (Rahma Aulia, Yaffa Cantika Putri)


Editor: Nayla Enzethiana Wiandaputri Santoso


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.