Sensasi Dopamin yang Menggerogoti Mahasiswa dalam Aktivitas Judi Online
Ilustrasi permainan judi online di handphone (Sumber: pexels.com/christf)
Yogyakarta, Sikap – Perkembangan teknologi digital menghadirkan paradoks dalam kehidupan mahasiswa. Di satu sisi, internet membuka akses luas terhadap pengetahuan, informasi, dan peluang akademik. Namun, di sisi lain, kemudahan akses tersebut juga dapat menjadi pintu masuk berbagai perilaku negatif, salah satunya praktik judi online.
Keterlibatan mahasiswa dalam praktik judi online pun kian menjadi fenomena yang mengkhawatirkan. Fenomena meningkatnya keterlibatan mahasiswa dalam aktivitas judi online ini tidak dapat dipandang sebagai persoalan moral atau lemahnya karakter individu, melainkan sebagai hasil interaksi kompleks antara faktor psikologis, sosial, budaya, dan struktural.
Saat ini, judi online semakin mudah diakses oleh siapa saja, termasuk mahasiswa. Hanya dengan ponsel dan koneksi internet, mahasiswa sudah bisa mencoba berbagai permainan yang menjanjikan keuntungan cepat.
Dilansir dari situs web GoodStats, survei yang berjudul Understanding the Impact of Online Gambling Ads Exposure pada tahun 2024, terdapat 84% pengguna internet di Indonesia terpapar iklan judi online. Promosi yang masif di media sosial, tampilan aplikasi yang menarik, serta iming-iming kemenangan instan membuat praktik ini semakin menggoda bagi kalangan muda.
Namun, di balik kemudahan tersebut, terdapat kondisi psikologis yang membuat seseorang sulit berhenti ketika sudah terlibat. Tentunya hal ini tidak hanya dipengaruhi oleh faktor ekonomi, tetapi juga oleh cara kerja otak ketika menerima rangsangan yang menyenangkan.
Dalam kajian cyberpsychology, perilaku ini berkaitan dengan konsep online disinhibition effect yang dikemukakan oleh John Suler. Konsep tersebut menjelaskan kondisi ketika seseorang kehilangan hambatan perilaku saat berada di ruang digital. Ketika berada di dunia maya, individu sering merasa lebih bebas karena tidak berhadapan langsung dengan orang lain serta minim kontrol sosial. Hal ini membuat keputusan yang diambil pun terkadang menjadi impulsif, termasuk dalam hal berjudi akan lebih mudah terjadi.
Annisa Reginasari, dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Yogyakarta, menjelaskan bahwa konten yang bersifat adiktif mampu memicu respons biologis di dalam otak.
“Konten yang bersifat adiksi membuat otak kita senang, misalnya ada hormon dopamin, hormon bahagia yang dipicu oleh konten-konten yang menyenangkan. Itu yang membuat kenapa orang bisa mengulangi lagi perilakunya,” ungkap Annisa.
Dopamin merupakan zat kimia di otak yang berkaitan dengan rasa senang dan kepuasan. Ketika seseorang menang atau hampir menang dalam perjudian, otak akan melepaskan dopamin sehingga memunculkan sensasi bahagia. Sensasi inilah yang kemudian mendorong individu untuk mengulangi perilaku tersebut.
Ketika seseorang pernah merasakan kemenangan dalam judi online, otak akan berusaha mencari kembali sensasi yang sama. Dalam kondisi tertentu, pengalaman tersebut dapat berubah menjadi kebiasaan yang sulit dihentikan.
Masalah muncul ketika sensasi tersebut tidak lagi terasa cukup. Seiring waktu, otak mulai beradaptasi sehingga seseorang membutuhkan taruhan yang lebih besar untuk merasakan kesenangan yang sama.
“Kalau selalu dipakai dengan jumlah yang sama, dia bisa menjadi resisten. Jadi harus ditambah karena keuntungan segitu tidak menyenangkan lagi,” jelas Annisa. Kondisi ini membuat sebagian orang terus meningkatkan taruhan, bahkan ketika sudah mengalami kerugian. Dalam banyak kasus, pemain justru kembali berjudi untuk menutup kekalahan sebelumnya. Siklus ini sering kali menjadi awal dari perilaku adiktif yang semakin sulit dikendalikan.
Selain faktor biologis, Annisa juga menyoroti adanya faktor sosial dan budaya yang memengaruhi perilaku tersebut. Tekanan ekonomi, gaya hidup, serta standar sosial mengenai kesuksesan dapat mendorong seseorang mencari cara cepat untuk mendapatkan uang.
“Dalam budaya kolektif seperti di Indonesia, harga diri seseorang seringkali berada pada apa yang dia punya,” tutur Annisa.
Pandangan tersebut membuat sebagian orang merasa perlu menunjukkan keberhasilan secara materi. Ketika kemampuan finansial terbatas, judi online seringkali terlihat sebagai jalan pintas untuk mendapatkan uang secara instan.
Judi online di kalangan mahasiswa bukan sekadar persoalan hiburan digital. Ada kombinasi faktor psikologis, ekonomi, dan sosial yang saling memperkuat, sehingga seseorang dapat terjebak dalam siklus perilaku adiktif.
Jika tidak disadari sejak awal, dampaknya dapat meluas mulai dari kerugian finansial, gangguan kesehatan mental, sampai konflik dalam hubungan sosial. Tidak sedikit kasus di mana individu yang mengalami kerugian berusaha mencari pinjaman dari teman atau keluarga demi menutup kekalahan mereka.
Oleh karena itu, peningkatan literasi digital menjadi langkah penting agar mahasiswa mampu memahami risiko dari berbagai konten yang bersifat adiktif di ruang digital. Selain itu, kemampuan mengendalikan diri serta dukungan dari lingkungan sosial juga menjadi faktor penting dalam mencegah keterlibatan lebih jauh dalam praktik judi online.
Pada akhirnya, teknologi digital tidak selalu membawa dampak positif. Internet tetap menjadi sarana penting bagi mahasiswa untuk belajar, berkembang, dan memperluas wawasan. Namun, tanpa kesadaran dan kontrol diri yang kuat, kemudahan teknologi juga dapat berubah menjadi jebakan yang diam-diam menggerogoti kehidupan generasi muda. (Maharani Ardelia Shopiyan)
Editor: Dania Putri Saskia
Tulis Komentarmu