Header Ads

BEM SI Yogyakarta Gelar Aksi Solidaritas di Titik Nol, Bersama Lawan Republik Otoriter

Ratusan massa aksi serempak menyuarakan keresahan mereka melalui poster slogan dan toa orasi. (Sumber: Romadhon)


​Yogyakarta, Sikap - Ratusan massa dari kalangan mahasiswa dan masyarakat sipil menggelar aksi solidaritas di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta, Sabtu (18/4/2026), menuntut keadilan bagi tiga aktivis BEM SI yang menjalani sidang serta mengecam kekerasan terhadap pembela HAM. 

Aksi ini dipicu oleh penangkapan aktivis dalam demonstrasi Agustus 2025 serta kasus penyiraman air keras terhadap aktivis KontraS yang dinilai sebagai bentuk ancaman serius terhadap kebebasan sipil.

​Massa memulai pergerakannya melalui long march dari Taman Budaya menuju Titik Nol Kilometer. Koordinator Lapangan aksi, Gita, menyebutkan bahwa pergerakan massa dari Taman Budaya diperkirakan dimulai pada pukul 15.00 WIB.

Aksi solidaritas ini diikuti oleh seluruh elemen mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Yogyakarta, di antaranya Universitas Sanata Dharma, UNY, UGM, dan UPN "Veteran" Yogyakarta, serta didampingi oleh tim medis dari UNRIYO.

​Peserta aksi sekaligus Ketua BEM KM UPN "Veteran" Yogyakarta 2025, Muhammad Risyad Hanafi, menyoroti rentetan kasus yang terjadi sebagai pembungkaman demokrasi terbesar pasca-reformasi. 

“Berdasarkan hasil temuan komisi pencari fakta yang tergabung dengan beberapa aliansi koalisi masyarakat sipil menemukan bahwasannya pembungkaman ini sengaja untuk menggembosi serta mereduksi gerakan mahasiswa,” ujarnya.

​Risyad juga memaparkan represi terhadap aktivis telah merambat ke berbagai daerah yang menargetkan sejumlah aktivis, termasuk Enrille (Ketua BEM Untidar Magelang 2023), Azhar (Menko Pergerakan BEM Untidar 2024), dan Yogi (Kabiro Medinfo BEM Untidar 2024) dari Magelang.

​"Maka dari itu kita sama-sama bersolidaritas dengan teman-teman kita yang ditangkap secara sewenang-wenang dengan pasal yang karet UU ITE yang pertama terkait dengan penghasutan dan provokasi di media sosial," tegas Risyad. 

Solidaritas massa juga ditujukan kepada aktivis KontraS, Andrie Yunus, yang diserang menggunakan air keras usai mengkritik RUU TNI.

​Di lokasi aksi, suara tuntutan banyak dipimpin oleh orator dari mahasiswa UPN. Salah satu orator, Han, mahasiswa Hubungan Internasional UPN "Veteran" Yogyakarta, membawakan orasi yang menitikberatkan pada isu kekerasan struktural. 

“Kekerasan struktural di mana misalnya hukum, itu diatur sedemikian rupa supaya itu malah menyerang rakyat dan nggak ada kritik kepada pemerintah, itu kalau poin utama dari orasi ku hari ini,” terang Han.

Aspek keamanan dan ketertiban juga tetap diperhatikan, Gita memastikan bahwa aksi berjalan kondusif dan massa telah melakukan koordinasi perizinan dengan pihak kepolisian setempat. 

“Harusnya tetap kondusif, karena kalau misalkan mereka juga membuang kita, berarti kan mereka juga melambang apa yang sudah kita orasikan,” ucap Gita ketika ditanya tentang keamanan aksi solidaritas ini.

Ia juga berharap aksi ini dapat menjadi pemantik bagi mahasiswa di berbagai daerah lain, khususnya Jakarta, untuk terus mengawal kasus-kasus represifitas, termasuk kasus yang menimpa rekan-rekan di Magelang.

​Massa menyatakan komitmen teguh untuk terus mengawal proses hukum ini hingga rekan-rekan mereka dibebaskan. 

Harapan utama dari aksi ini adalah terwujudnya keadilan bagi para aktivis, khususnya pembebasan Enrille, Azhar, dan Yogi, agar tidak ada lagi masyarakat yang menjadi korban represifitas rezim yang brutal. (Romadhon)

Editor: Pelangi Aulia Ramadhani Augusta

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.