Header Ads

Dari Becak Kecil hingga Becak Pustaka, Perjuangan Pak Sutopo Menghidupkan Literasi di Tengah Kota Yogyakarta

 

Pak Sutopo dengan becak pustakanya yang telah mengayuh lebih dari 10 tahun (Sumber: Muhammad Fatikhul Irfan)


Yogyakarta, Sikap - Di tengah hiruk-pikuk Kota Yogyakarta yang kian dipadati kendaraan bermotor, sebuah becak tampil berbeda. Alih-alih hanya menawarkan jok kosong bagi penumpang, becak milik F.X. Sutopo (79) ini justru penuh dengan buku yang tertata rapi. Di usia senjanya, Pak Sutopo tidak hanya menarik tuas gas becak listriknya untuk mencari nafkah, tetapi juga membawa misi yang besar, yaitu melawan dominasi layar gawai dengan buku-buku.

Lahir di Yogyakarta pada tahun 1947, Pak Sutopo bukanlah orang baru di dunia pelayanan publik. Ia merupakan seorang pensiunan Pegawai Negeri Sipil (PNS) TNI AD di Kodim 0734/Yogyakarta yang purna tugas pada tahun 2003. Namun, alih-alih berdiam diri di rumah, setahun setelah pensiun ia memutuskan untuk mulai mengayuh becak. "Keputusan yang benar adalah saya tidak akan pensiun. Saya akan tetap bekerja," ujar Pak Sutopo. 

Baginya, menarik becak adalah cara untuk tetap produktif, mencari penghasilan, sekaligus berolahraga. Bakat seninya sebagai mantan mahasiswa Akademi Seni Rupa Indonesia (ASRI) pun ia tuangkan dalam menghias becaknya hingga tampil unik dan menarik perhatian.

Ide membawa buku di dalam becak tidak muncul begitu saja. Dimulai secara konsisten sejak tahun 2010, Pak Sutopo merasa prihatin melihat masyarakat, terutama mahasiswa dan anak-anak, yang kini lebih sering menunduk menatap ponsel pintar daripada membaca buku. Ia sering membandingkan pemandangan tersebut dengan turis asing yang berkunjung ke Yogyakarta, yang justru kerap terlihat membawa dan membaca buku di tempat umum. 

Kecintaannya pada literasi sendiri sudah tumbuh sejak ia masih duduk di bangku SD. Bahkan pada tahun 1962, ia tercatat sebagai anggota Jefferson Library, perpustakaan milik Amerika di Yogyakarta.

Saat mangkal di daerah Pasar Kranggan, becak Pak Sutopo kerap menjadi pusat perhatian. Tak hanya penumpang, rekan sesama tukang becak hingga pedagang pasar sering datang menghampiri untuk sekadar membolak-balik halaman buku.

Koleksinya beragam, mulai dari majalah, novel, hingga buku resep masakan. Pak Sutopo sangat memperhatikan kepuasan pembacanya. "Ada seorang ibu tanya, 'Pak, ada buku tentang masakan?' Ya, saya layani," tuturnya. Jika ada yang mencari buku tertentu yang belum tersedia, ia tidak segan untuk mencarikannya di luar.

​Interaksi yang paling membekas di hati Pak Sutopo adalah saat ia menjemput seorang siswi kelas 5 SD di Tarakanita. Anak tersebut menolak pulang bersama neneknya demi bisa naik "Becak Pustaka". "Sepanjang perjalanan pulang, dia terus membaca. Sampai di rumah pun tidak mau turun karena belum selesai membaca," kenang Pak Sutopo sambil terkekeh. Melihat antusiasme itu, ia akhirnya memberikan buku tersebut secara gratis. ​

Kebaikan Pak Sutopo pun sering kali berbalas secara tak terduga. Ia menceritakan momen mengharukan saat seorang ibu memberikan amplop berisi uang satu juta rupiah untuk membeli buku baru. "Suaminya sukses bisnis, lalu menyisakan satu juta untuk saya beli buku. Saya menjawabnya dengan air mata," tuturnya.

Meskipun fisiknya tak lagi muda, semangat Pak Sutopo tetap menyala. Jika dulu ia harus mengayuh hingga jarak jauh seperti Prambanan dan Bokoharjo, kini ia terbantu dengan bantuan becak listrik dari Pemerintah DIY.  Dukungan ini ia dapatkan karena kegigihannya dalam mengampanyekan gerakan membaca nasional secara mandiri di jalanan.

Bagi Pak Sutopo, setiap putaran roda becaknya adalah langkah kecil untuk mencerdaskan bangsa. Melalui perpustakaan gratis di atas becaknya, ia berharap masyarakat, terutama generasi muda, dapat kembali menemukan "harta karun" pendidikan yang tersimpan di dalam setiap lembar buku. (Muhammad Fatikhul Irfan)

Editor: Faiz Hasyfi Fahimsyah



Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.