Header Ads

Ketika Jogja Terasa Berbeda, Cerita Pengalaman Culture Shock Mahasiswa Rantau di Kota Istimewa

 

Merantau ke Jogja Menjadi Pengalaman Baru Bagi Mahasiswa dari Berbagai Daerah (Sumber: Rifannisa Tiara Nuraini & Pelangi Aulia)

Yogyakarta, Sikap - Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar karena setiap tahun menjadi tujuan ribuan mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia untuk menuntut ilmu. Mereka datang dengan latar belakang budaya, bahasa, dan kebiasaan yang berbeda-beda. Pertemuan berbagai identitas tersebut membuat Yogyakarta menjadi ruang perjumpaan budaya yang unik. Namun bagi banyak mahasiswa yang baru pertama kali merantau, perbedaan ini kerap memunculkan pengalaman yang mengejutkan.

Situasi inilah yang disebut sebagai gegar budaya atau kerap dikenal sebagai culture shock yakni perasaan kaget, disorientasi, bingung, dan lain sebagainya yang menggambarkan keterkejutan seseorang ketika berada di lingkungan sosial baru dengan budaya yang berbeda dari tempat asalnya. 

Salah satu pengalaman itu dirasakan oleh Aulia, mahasiswi UPN Veteran Yogyakarta asal Jakarta yang telah hampir dua tahun tinggal di kota ini. Ia mengaku perbedaan lalu lintas menjadi hal pertama yang membuatnya heran. Menurutnya, lampu merah di Yogyakarta terasa jauh lebih lama dibandingkan di Jakarta. “Lampu merah di sini lama banget, tapi lampu hijaunya sebentar. Di Jakarta biasanya nggak selama itu,” ujarnya. 

Selain itu, ia juga memperhatikan masyarakat jarang menggunakan klakson saat berkendara, sangat berbanding terbalik dengan tempat asalnya. Perbedaan ritme kehidupan juga dirasakan Aulia. Ia menilai kehidupan di Yogyakarta berjalan lebih santai dibandingkan kota asalnya. Meskipun sempat merasa aneh di awal, ia memilih mengikuti kebiasaan tersebut sebagai bentuk penyesuaian diri. 

Masih berkaitan perihal jalan, Yoga, mahasiswa asal Bengkulu. Ia merasa waktu dan jarak tempuh di Yogyakarta terasa berbeda. Menurutnya, perjalanan 45 hingga 60 menit di jalan masih dianggap dekat oleh sebagian orang di Yogyakarta. “Di tempatku, 15 menit di jalan sudah terasa lama,” Ujarnya. 

Alya yang berasal dari Kalimantan Tengah juga merasakan hal yang sama. Menurutnya, di daerah asalnya perjalanan 30–45 menit sudah terasa seperti berpindah kota.

Cerita lain datang dari Riana asal Cilacap. Ia mengaku sempat terkejut karena harga makanan di Yogyakarta tidak selalu semurah yang sering ditampilkan di media sosial. Banyak tempat makan murah yang viral ternyata berada cukup jauh dari tempat tinggalnya. “Biasanya yang viral itu di Bantul atau Kaliurang, jadi sayang banget karena jauh padahal pengen coba,” ujarnya. Kondisi tersebut membuatnya harus lebih mempertimbangkan pengeluaran sehari-hari. 

Sementara itu, Naya asal Jambi mengalami culture shock terkait cita rasa makanan. Ia merasa sebagian besar makanan di Yogyakarta cenderung manis. “Bahkan rumah makan Padang pun menurutku masih manis,” tuturnya. 

Selain soal makanan, ia juga sempat kesulitan menyesuaikan diri dengan gaya komunikasi sebagian orang yang menurutnya lebih tidak langsung atau menyindir secara halus. Hal itu berbeda dengan kebiasaan di daerah asalnya yang lebih terbuka dan langsung dalam berbicara. Situasi tersebut sempat membuatnya merasa tertekan hingga ingin pulang. Namun,  seiring waktu ia mulai memahami cara komunikasi tersebut. 

Pengalaman berbeda dialami Yohana, mahasiswa asal Timika, Papua. Ia mengaku kesulitan ketika orang memberikan petunjuk arah menggunakan mata angin. “Kalau tanya jalan sering dijawab ke timur  atau tenggara, jujur aku nggak paham sama sekali,” ujarnya. Ia juga memperhatikan masyarakat Yogyakarta sangat menjunjung sopan santun dalam berkomunikasi, termasuk gesture tangan saat berbicara. Untuk mengatasinya, Yohana lebih sering menggunakan peta digital atau meminta patokan lokasi saat bertanya arah. 

Perbedaan gaya komunikasi juga dirasakan oleh Gusmiar, mahasiswa asal Jepara. Ia menilai bahasa Jawa yang digunakan masyarakat Yogyakarta terdengar lebih halus dibandingkan bahasa Jawa yang biasa digunakan. “Orang Jogja ramah-ramah, tapi aku nggak terbiasa basa-basi. Bahasa Jawa di Jogja juga lebih halus,” Tuturnya. Meski awalnya terasa canggung, ia perlahan mulai terbiasa dengan pola komunikasi tersebut. 

Berbeda dengan beberapa mahasiswa lain yang sempat kesulitan beradaptasi, Marvil mahasiswa asal Kepulauan Tanimbar, Maluku, yang sudah hampir 3 tahun menginjakkan kaki di kota ini justru melihat banyak perbedaan di Yogyakarta sebagai pengalaman yang menyenangkan dan menarik. Di samping dari masyarakat yang sangat memperhatikan unggah-ungguh Ia mengaku sangat terbantu dengan harga makanan di Yogyakarta yang relatif lebih terjangkau dibandingkan di daerah asalnya. 

Menurutnya, nuansa budaya kota Yogyakarta masih sangat kental, terlihat dari ciri khas bangunan di kota ini hingga adat kebiasaannya, membuat Yogyakarta memiliki kesan tersendiri baginya. “Sebagai pendatang kita memang harus menyesuaikan diri. Seperti pepatah, di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung,” ujarnya. Culture shock yang ia rasakan justru menjadi pelajaran berharga sekaligus membantunya memahami keberagaman budaya serta memperkaya cara pandangnya dalam berkomunikasi dengan orang dari latar belakang yang berbeda.

Pada akhirnya, pengalaman culture shock yang dirasakan para mahasiswa rantau menjadi bagian dari proses belajar memahami keberagaman budaya. Yogyakarta tidak hanya menjadi tempat menempuh pendidikan, tetapi juga ruang untuk beradaptasi dan tumbuh bersama perbedaan. Kedepannya, diharapkan kota ini dan seisinya selalu dapat menjaga nilai keramahan dan budayanya sehingga tetap menjadi rumah yang nyaman bagi semua orang dari berbagai daerah. (Rifannisa Tiara Nuraini)

Editor: Faiz Hasyfi Fahimsyah

Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.