Header Ads

Darurat Fasilitas K3 serta Tingkat Literasi Mitigasi Bencana di Lingkungan FISIP UPN “Veteran” Yogyakarta

 

Salah satu rambu jalur evakuasi di Gedung Agus Salim. (Sumber: Gisella Putri Hapsari)

Yogyakarta, Sikap - UPN “Veteran” Yogyakarta kampus Babarsari menjadi rumah bagi dua fakultas, salah satunya Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Di lingkungan kampus ini, mahasiswa FISIP menjalani kegiatan perkuliahan. Padatnya aktivitas sehari-hari seharusnya didukung dengan Fasilitas Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) yang memadai, sebab bencana alam dan kecelakaan dapat terjadi sewaktu-waktu. Fakta di lapangan menunjukkan rambu-rambu assembly point masih kurang layak, serta tidak adanya Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di titik-titik krusial. Selain itu, sistem penyeberangan juga masih belum tersedia, juga minimnya pemahaman mitigasi bencana para sivitas akademika.


Nabila Nisrina Ramadhani, Jovanka Amalia, dan Aulia Salwa, selaku mahasiswa jurusan Hubungan Internasional mengeluhkan jarang ditemukannya rambu-rambu peringatan dan alat mitigasi yang dapat diakses dalam keadaan genting.


“Kurang rambu-rambu, ya. Mungkin kalau jalur evakuasi masih ada, tapi kebanyakan orang nganggep sekadar rambu-rambu aja. Terus kemarin sempat ada kebakaran, kan, kalau misalkan ngga ada alat mitigasi takutnya bakal menjalar ke mana-mana dan bikin kampus rugi besar,” ucap mereka.


Menanggapi keluhan mengenai minimnya ketersediaan APAR di lingkungan FISIP, pihak fakultas mengakui bahwa memang terjadi kendala dalam pengadaan alat pemadam kebakaran tersebut. Wakil Dekan II, Indro Hery Mulyanto, membeberkan bahwa tabung APAR dari pihak universitas sangat terbatas, sehingga mereka tidak bisa menyalurkan dalam jumlah cukup. Bahkan, mereka menolak dengan dalih tabung tidak ada isinya.


“Iya, memang APAR itu dari universitas banyak keterbatasan, ya. Makanya hanya ditempatkan di Gedung Agus Salim dan Gedung Ahmad Yani saja. Itupun kami yang minta baru sebulan ini, kalau ngga minta, ngga akan ada APAR. Selain itu pernah beralasan isi tabungnya kosong, kalau misalnya memang ngga bisa, ya sudah kami saja yang isi,” ungkap Indro.


Instruksi Penggunaan APAR di Gedung Agus Salim. (Sumber: Gisella Putri Hapsari)

Selain fasilitas mitigasi kebakaran, sistem keamanan lain seperti penyeberangan sehari-hari bagi mahasiswa juga menjadi perhatian sebab belum ada fasilitas penunjang. Aan Bayu Satria, salah satu satpam bertugas, menegaskan bahwa 12 orang personel satpam yang disebar di beberapa pos sudah cukup untuk membantu mahasiswa menyeberang. Namun, ia prihatin karena insiden kecelakaan justru disebabkan oleh mahasiswa yang tidak sabar dan tidak mengindahkan arahan dari satpam.


“Tantangannya cuma satu, mahasiswa itu ngeyel. Contohnya yang bandel ngga mau nurut. Kalau jadi satu omongan, satu arahan, mesti enak. Kalau untuk fasilitas pendukung ditambahkan ya ngga apa-apa, asal ada anggaran, tapi kalau nyebrangin manual aja juga ngga apa-apa, udah cukup,” tuturnya.


Ketiga mahasiswa Hubungan Internasional tadi berpendapat bahwa ketersediaan fasilitas K3 akan menjadi sia-sia jika pihak universitas tidak mengadakan simulasi bencana. Mereka seharusnya bertanggung jawab melindungi sivitas akademika dari risiko bencana dan kecelakaan yang terjadi di lingkungan kampus. (Gisella Putri Hapsari)


Editor: Pelangi Aulia Ramadhani Augusta




Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.