Header Ads

JAFF Tayangkan 'Mobil Bekas' Pertama Kali di Indonesia

Ismail Basbeth dan para kru film 'Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran' melakukan sesi tanya jawab. (Foto: Dwi A N)

      'Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran' (The Carousel Never Stops Turning), film yang digarap oleh sutradara Ismail Basbeth ini merupakan sekumpulan kisah-kisah yang terjadi dalam ranah kehidupan sehari-hari. Film ini berfokus pada 6 kisah yang memiliki satu-kesatuan di dalam ceritanya dan sebuah mobil bekas yang menjadi saksi akan seluruh kisah-kisah mereka.

      Pada Spesial Gala, Kamis (7/12) di Empire XXI Yogyakarta lalu menjadi kesempatan pertama  film tersebut tayang di Indonesia, yang sebelumnya hanya tayang saat masuk dalam program A Window on Asian Cinama di Busan International Film Festival di Korea Selatan. Film ini termasuk dalam salah satu yang diputar dalam agenda Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) 2017.

      “Film yang berawal dari proyek piknik sinema bersama peserta dan rekan JAFF 2016 ini mulanya hanya film pendek, tapi setelah 12 jam berbincang dengan mas Suryo kemudian berubah menjadi film panjang,” tutur Ismail Basbeth, sutradara dari 'Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran' dalam sesi tanya-jawab di Empire XXI, Yogyakarta, Kamis (07/12).

      JAFF adalah festival film Asia utama di Indonesia yang berfokus pada pengembangan bioskop Asia. Festival ini tidak hanya berkontribusi mengenalkan bioskop Asia ke masyarakat luas di Indonesia, namun juga menyediakan ruang bagi persimpangan banyak sektor seperti seni, budaya, dan pariwisata. JAFF yang ke-12 memilih “Fluidity” sebagai tema festival, dimaknai sebagai fleksiblitas (kelenturan) sinema dalam berhadapan dengan beragam cabang seni. Film yang masuk ke dalam jajaran pemutaran event ini kebanyakan merupakan hasil dari keresahan dan pengalaman yang terjadi pada kehidupan di sekitar kita.
Cover Film Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran (sumber: Google.com)

    'Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran' mengambil latar cerita tak jauh dari kehidupan di sekitar penonton, di mana konflik yang terjadi begitu dekat dengan penikmatnya, hingga kemudian dituangkan ke dalam bentuk audio-visual. Satu hal unik dari penggarapan film ini adalah produksinya didanai secara crowdfunding alias patungan oleh para donatur. Bahkan, publik dipersilakan untuk ikut serta berpartisipasi dalam pendanaan film ini. Tak hanya itu film ini semuanya dilakukan tanpa skrip-naskah, hanya sesuai improvisasi pemain.

      Film ini awal mulanya hanyalah proyek iseng sang sutradara yang ingin membuat film pasca berakhirnya JAFF 2016 dengan mengajak rekan-rekannya untuk bergabung dalam proyeknya. Tak dikira, antusiasme setiap elemen rupanya membuat film ini diminati banyak pihak. “Ini merupakan proyek piknik sinema. Aku ke Jogja cuma mau piknik sama mobil bekas, sumpah,” ucap Dhea Ananda yang merupakan salah satu aktris dalam film ini.

      Penayangan film 'Mobil Bekas dan Kisah-Kisah dalam Putaran' menjadi euforia tersendiri bagi penikmat film dalam negeri. Bagaimana tidak, momen ini merupakan kali pertama karya ini tayang di bioskop Indonesia. Euforia ini pun disambut baik oleh Ayesha Alma Almera yang sudah mengikuti perkembangan JAFF selama 2 tahun, bahkan pernah menjadi volunteer dalam JAFF. “Kesannya sih keren karena sebelumnya pernah tau soal isu adanya film ini, juga udah lama muncul di media sosial. Jadi pas tau kalau masuk JAFF langsung interest untuk nonton. Selain itu karena film ini berbasis crowdfunding,” tutur Ayesha.

      Respon positif hadir setelah film ini diputar, mulai dari jalan cerita yang sangat lekat akan realita kehidupan. Sebuah film sederhana, namun kaya akan makna yang tertuang secara simbol, pemikiran sang sutradara tentang membuat film yang berbeda dari film lainnya. Film yang kemudian diadaptasi ke dalam novel oleh penulis Bernard Batubara ini mendapat respon yang antusias dari pembaca. Inilah hal yang menambah uniknya film 'Mobil Bekas dan Kisah-Kisah Dalam Putaran'. (Dwi Atika Nurjanah)


(Editor: Mufqi Rafif)
Diberdayakan oleh Blogger.