Header Ads

Bernard Batubara Adaptasi Film ‘Mobil Bekas dan Kisah – Kisah dalam Putaran’ Menjadi Novel

Bernard Batubara setelah pemutaran film di Empire XXI Yogyakarta dalam agenda JAFF. (Dwi A.N.)


      Spesial Gala film ‘Mobil Bekas dan Kisah–Kisah dalam Putaran’ pada 7 & 8 Desember 2017 di Empire XXI dan Taman Budaya Yogyakarta lalu menjadi kali pertama pemutaran film tersebut di Indonesia dalam acara 12 tahun Jogja-NETPAC Asian Film Festival. Sebelumnya, film ini hanya tayang dalam program A Window on Asian Cinema di Busan International Film Festival, Korea Selatan pada Oktober lalu. Film ini kemudian diadaptasi ke dalam buku oleh novelis Bernard Batubara yang kemudian dirilis pada bulan November lalu.

      Pertemuan awal Bara, sapaan akrabnya, dan sang sutradara Ismail Basbeth bermula ketika diperkenalkan oleh Putri, editor dari Bentang Pustaka yang menawarkan kerjasama antara Bara dengan production house milik Ismail.

      “Karena sudah tahu tentang Mas Ismail dari film ‘Mencari Hilal’, aku minta buat dikirimi film ‘Mobil Bekas dan Kisah – Kisah dalam Putaran’ untuk aku lihat dulu. Akhirnya ketemuan sama Mas Ismail buat ngobrolin soal filmnya, sekitar 5 jam kita ngobrolin tentang gagasan filmnya itu,” tutur Bara kepada awak Sikap setelah pemutaran film di Empire XXI Yogyakarta.

      Umumnya, sebuah novel laris kemudian diadaptasi ke dalam bentuk film, namun kali ini berbeda. Film ‘Mobil Bekas dan Kisah – Kisah dalam Putaran’ yang justru diadaptasi menjadi bentuk novel, dengan menerjemahkan audio-visual ke dalam bentuk narasi. Bagi Bara, menulis novel ini memang memiliki kesulitan tersendiri. Film ini cukup berbeda dari bentuk dan pola-pola film Indonesia pada umumnya. Ia mengaku film ini penuh akan simbol dalam tiap adegannya, yang kemudian ia terjemakan ke dalam narasi teks yang tidak menyesatkan dan tidak terlalu mendikte orang untuk mengerti apa yang disampaikan.

      “Jadi lebih mencari jalan tengah antara mempertahankan gagasan utama filmnya, tapi juga mencoba memberikan latar belakang ceritanya sehingga orang yang membaca novel dan menonton filmnya bisa lebih paham kenapa tokoh-tokoh dalam film melakukan adegan-adegan itu. Lebih mencari bentuk novel yang pas untuk format film yang kayak begini,” cerita Bara dengan antusias.

Buku 'Mobil Bekas & Kisah-Kisah dalam Putaran'. (Sumber: Google)


      Sebagai seorang penulis yang sudah menerbitkan belasan karya dalam bentuk buku, ia mempunyai teknik sendiri dalam penulisan. Bara bercerita bahwa untuk menulis buku ini ia melakukannya secara tertib dan menggunakan sistemnya sendiri. Ia menyesuaikan dengan urutan adegan pada film lalu ditulis ke dalam bentuk bab-bab yang kemudian dibaca ulang dan melakukan perbaikan pada bagian yang kurang sinkron antara tiap adegan satu dan lainnya. Di sini ia mencoba menjahit semua aspek sehingga pembaca novelnya akan merasa bahwa novel tersebut bukan kumpulan cerita pendek yang tidak keluar dari gagasan besarnya.

      Novelis yang aktif menulis pada blog bisikanbusuk.com miliknya itu memandang cerita-cerita di film ‘Mobil Bekas dan Kisah – Kisah dalam Putaran’ ini dari kacamata kisah percintaan. Beberapa kisah percintaan yang termuat antara lain kisah cinta tentang seorang warga negara yang dikecewakan oleh pemerintahnya; laki-laki yang memberi makan ke mobilnya, tetapi mobilnya diam saja; perempuan yang membunuh suaminya; cinta yang tak terbalas; cinta yang terlarang; hingga cinta yang dipaksakan. Hanya saja adegan-adegan yang lebih diutamakan dalam film ini yaitu tema dan masalah yang berfokus ke-Indonesia-an, sehingga plot percintaannya tidak menjadi hal yang utama, tetapi sebagai wadah untuk membuat orang bisa masuk ke dalam cerita yang lebih utama.

      Perkembangan Jogja-NETPAC Asian Film Festival (JAFF) sudah diikuti oleh Bernard Batubara 3 tahun terakhir ini. Hingga pada kesempatan di JAFF 2017 ini ia turut andil dalam film yang ditayangkan pada acara tersebut. Bara menuturkan bahwa ia sangat senang karena banyak film bagus dalam bentuk film pendek, dokumenter, indie, maupun layar lebar yang diputar di JAFF, karena beberapa film dianggapnya susah untuk ditonton karena tidak ada akses untuk diputar di bioskop nasional. Dengan adanya acara JAFF ini semua pecinta film punya kesempatan yang besar untuk menyaksikan film-film unik dari movie maker Indonesia maupun luar negeri yang jarang kita dengar namanya. Terlebih, karena harga tiket yang terjangkau menurutnya ini perlu untuk diteruskan dan perlu untuk dinikmati oleh banyak orang lagi, baik itu yang suka film maupun yang baru suka film.

      Dalam kesempatan terakhir saat sesi wawancara bersama awak Sikap, Bara berharap lebih banyak lagi film yang diputar, tersedianya venue, promosi yang gencar, dan tentu saja penonton yang lebih banyak untuk tahun ke depannya. “Untuk film-film kita yang secara umum aku cukup happy karena di pertengahan tahun ini ada banyak film bagus, baik itu yang di JAFF maupun di luar acara ini. Seperti film Posesif dan Marlina. Aku sangat optimis tahun-tahun ke depan kita bakal menonton film yang bagus lagi dari movie maker Indonesia,” tutupnya sembari tersenyum. (Dwi Atika Nurjanah)

Editor: Lajeng Padmaratri
Diberdayakan oleh Blogger.