Header Ads

'Konspirasi Alam Semesta' : Juang dan Ana, Disatukan dan Dipisahkan Semesta

Cover buku (Sumber: Instagram @duniafrans)

Judul : Konspirasi Alam Semesta

Penulis : Fiersa Besari

Cetakan, tahun : 1, 2017

Jumlah halaman : vi + 238 halaman

Kota, Penerbit : Jakarta, Mediakita

      “Karena aku tahu kau yang pantas untuk hatiku.”

       Petikan di atas ialah penggalan lirik lagu 'Kau' karya Fiersa Besari yang ada dalam album musik 'Konspirasi Alam Semesta'. Album itu dirilis pada tahun 2015, yang kemudian ia serasikan dengan sebuah buku berjudul sama yang rilis pada tahun 2017. Kombinasi ini kemudian disebut sebagai albuk (album + buku).

      Menariknya, saat membaca buku novel tersebut, pembaca juga dapat mendengarkan lagu dengan judul yang sama dengan bab yang sedang dibaca. Lagu-lagunya dapat diunduh dengan cara me-scan barcode yang terdapat pada akhir setiap bab. Secara otomatis, lagu tersebut akan terunduh dan dapat langsung didengarkan.

       Novel yang dikemas dengan cover berwarna coklat ini memiliki bonus sebuah album 'Konspirasi Alam Semesta' berupa CD yang hanya bisa didapatkan secara terbatas. CD ini dapat menjadi alternatif untuk mendengarkan lagu-lagu dalam album tersebut. Selain itu, buku karya pria kelahiran Bandung, 3 Maret ini memiliki pembatas berbentuk polaroid dengan gambar bianglala.

       Karya Fiersa yang satu ini menceritakan kisah cinta antara Juang Astrajingga dan Ana Tidae yang dipertemukan oleh semesta. Seperti karya Bung - sapaan akrab Fiersa -, selain menorehkan bumbu cinta, ia juga ingin memberikan pesan sosial dan kemanusiaan. Seperti dikutip dari CNN, melalui karyanya ini ia ingin menyampaikan bahwa cinta tidak hanya dirasakan antara pria dengan wanita, tapi juga terhadap Tuhan, lingkungan, dan sesama manusia.

       'Konspirasi Alam Semesta' ditulis dengan bahasa yang khas anak muda dan mudah mudah dipahami. Perjalanan kisah Juang dan Ana dimulai dari pertemuan tidak sengaja mereka di lorong Palasari. Juang yang sedang memutar badan kemudian menabrak seorang gadis cantik dan menjatuhkan buku yang dibawanya. Sang pria pun terpana akan keanggunan sang gadis.

       Juang yang berprofesi sebagai jurnalis diminta untuk meliput sinden berbakat, Shinta Aksara. Ia mendapat mandat untuk mewawancarai anak almarhumah. Mereka kemudian bertemu di sebuah kafe di Braga. Tak disangka bahwa ia bertemu dengan Ana Tidae yang ternyata putri Shinta.

       Hari pun berlalu, gadis secantik Ana rupanya sudah ada yang memiliki. Siapa yang tak kenal Juang Astrajingga? Seorang jurnalis yang suka memberontak dan telah dilatih oleh ayahnya agar tidak menjadi cengeng ini tidak putus asa. Ia akan menunggu. “Supaya sadar kalau saya bisa lebih membuatmu bahagia,” katanya di atas bianglala sembari melihat senja.

       Hubungan keduanya semakin dekat. Juang semakin terang-terangan dan Ana tidak sanggup menyembunyikan perasaannya sendiri. Tetapi ia tidak mau lebih jahat lagi. Minggu berselang, setelah sang gadis menghilang, ia muncul di depan indekos Juang. Ia membawa sebuah keputusan yang berpihak kepada sang pria. Akhirnya mereka meresmikan hubungan di puncak Gunung Slamet.

      Melewati berbagai rintangan berat, mereka sama-sama berjuang dan bertahan. Juang yang harus melepas seseorang yang disayang sementara Ana harus bertarung dengan hal yang dibencinya. Di hari ulang tahun Ana, Juang menyiapkan hadiah spesial di tanah Lembang. Sebuah rumah kayu bercat putih.

      Sad ending dipilih oleh Fiersa. Salah satunya ialah ketika tokoh harus kembali ke pangkuan Tuhan. Ia pergi meninggalkan kenangan, pasangan dan calon buah hatinya.

      “Belajarlah berjalan lagi walau langkahmu rapuh. Belajarlah percaya lagi, kau tak pernah sendiri,” tulis sang penulis yang juga pemusik ini salam epilog. (Ida Nur Apriani)

(Editor: Mufqi Rafif)
Diberdayakan oleh Blogger.