Header Ads

Film Di Balik 98, Merawat Ingatan tentang Sejarah Bangsa yang Kelam

"Pergerakan rakyat timbul bukan karena pemimpin bersuara, tetapi pemimpin bersuara karena ada pergerakan." - Mohammad Hatta
Adegan ketika mahasiswa menduduki gedung pemerintah (Sumber: Google)
      Di Balik 98, Sebuah film karya Lukman Sardi yang menceritakan tragedi Indonesia pada tahun 1998. Film ini menceritakan sebuah keluarga yang memiliki kepentingan yang berbeda di mana Diana (Chelsea Islan), seorang mahasiswi Trisakti yang idealistis dan kritis terhadap pemerintahan Soeharto yang memiliki seorang kakak yang bekerja di Istana, Salma (Ririn Ekawati) dan ipar dari seorang prajuit TNI bernama Bagus (Donny Alamsyah). Dalam film ini juga terdapat tokoh yang berperan sebagai kekasih dari Diana yaitu Daniel (Boy Wiliam) yang keturunan Tionghoa dan selalu menemani Diana dalam setiap aksi demonya.

       Dimulai dari sebuah pergerakan mahasiswa Universitas Trisakti yang melakukan demo di dalam kampus. Mereka berpendapat bahwa pemerintahan rezim Soeharto sudah bobrok dengan bukti kurs rupiah kala itu yang semakin tinggi (dari Rp 2,500 – 16,000) membuat rakyat Indonesia kesusahan. Semakin lama aspirasi mahasiswa Trisakti tidak didengar. Maka dari itu mereka dengan tegas akan turun ke jalan, tak terkecuali Diana dan Daniel yang berada di garis depan.

      Saat turun ke jalan, rombongan mahasiswa Trisakti sudah dihadang oleh pasukan aparat penegak hukum. Dari kedua belah pihak mencoba bernegosiasi untuk menunggu jawaban, akan tetapi dalam gerombolan mahasiswa terdapat penyusup yang menimbulkan kerusuhan yang amat parah. Bahkan menyebabkan 4 mahasiswa dinyatakan meninggal. Insiden tersebut membuat perekonomian Indonesia hancur dan chaos di mana-mana. Hal ini membuat Presiden Soeharto akhirnya terpaksa pulang lebih awal ke Tanah Air dari Kairo.

       Tak hanya di kampus, konflik juga terjadi antara Diana dan keluarganya. Diana harus berhadapan dengan kakaknya yang bekerja di lingkungan pemerintah dan kakak iparnya yang bekerja sebagai tentara. Mahasiswi tersebut memilih untuk tetap memperjuangkan idealisme mahasiswanya.

       Pemerintahan Soeharto dihadapkan oleh pilihan yang sulit, hingga membuat Soeharto merasa perlu membentuk komite dan kabinet reformasi untuk menyelesaikan permasalahan ini. Di lain pihak, tokoh masyarakat dan beberapa pihak ormas yang ada Indonesia sudah menyatakan langsung dan meminta Soeharto untuk mundur akan tetapi Soeharto tetap kukuh untuk membentuk kabinet reformasi tersebut.
Adegan ketika demo di depan aparat (Sumber: Google)

       Pada tanggal 13 Mei 1998, aksi berbuntut pada penjarahan massal di kota Jakarta. Kerusuhan ini ditambahi dengan aksi perburuan serta penindasan terhadap keturunan Tionghoa, termasuk keluarga Daniel. Daniel lebih memilih mencari keluarganya yang hilang dan tidak melanjutkan gerakan reformasi. Berbeda dengan Diana yang terus memperjuangkan ideologinya. Namun ketika ia kehilangan kakaknya, Salma, ia merasa ragu dan konflik yang terjadi antara ia dan kakak iparnya pun berangsur reda karena mereka memiliki rasa kekhawatiran yang sama.

       Di akhir film sekaligus akhir dari rezim Soeharto diceritakan bahwa kabinet reformasi yang dibentuk oleh Soeharto tidak mendapat tanggapan positif. Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat kala itu, Harmoko, meminta Presiden untuk mengundurkan diri. Terhitung 14 menteri menolak untuk bergabung dengan Kabinet Reformasi yang membuat Presiden Soeharto kapok untuk menjabat presiden kembali. Tepat pada tanggal 21 Mei 1998, Soeharto resmi mengundurkan diri dengan diikuti gemuruh rasa syukur masyarakat Indonesia.

       Film ini memiliki visual yang dikemas cukup apik sehingga membuat penonton semakin penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi di tahun itu. Akan tetapi setting beberapa lagu maupun musik yang dipilih, terdengar tidak begitu sesuai dengan adegan yang sedang berlangsung. Ada pula iringan yang terdengar terlalu menggebu sehingga menutupi dialog dari para pemain. Singkatnya, pembangunan emosi penonton akhirnya terganggu.

       Pelajaran yang dapat dipetik di film ini adalah contoh kebhinnekaan di mana masyarakat Tionghoa atau Cina mendapat bantuan dari masjid yang terdekat yang membuat mereka dapat terselamatkan. Dalam film ini juga terdapat tokoh yang tidak terlalu ditonjolkan yaitu seorang pemulung dan anaknya yang merupakan cerminan bangsa Indonesia bahwa masih banyak masyarakat Indonesia yang kesusahan dalam rantai kemiskinan dan mereka hanya diperbudak oleh iming-imingan harta. (Andri Widayanto)

(Editor: Mufqi Rafif)
Diberdayakan oleh Blogger.