Header Ads

Jambore Kependudukan : Remaja Istimewa Membangun Indonesia

Editor : Fariha Sulmaihati
Kelompok 3 mempresentasikan hasil diskusi pada Focus Grup Disscussion (FGD). Di Youth Center DIY (10/05/2017). (Rahayu Sekar)




Yogyakarta, Sikap – Kependudukan menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan. Menurut proyeksi yang dilakukan oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), dengan menilik populasi absolut Indonesia di masa depan, maka negeri ini akan memiliki penduduk lebih dari 270 juta jiwa pada tahun 2025, lebih dari 285 juta jiwa pada tahun 2035 dan 290 juta jiwa pada tahun 2045.

Berdasarkan hasil studi terakhir yang dirilis pada tahun 2010, Indonesia memiliki jumlah penduduk 237.6 juta orang. Tingkat pertumbuhan populasi Indonesia antara tahun 2000 dan 2010 adalah sekitar 1.49 persen per tahun. Lembaga statistik pemerintah, Badan Pusat Statistik (BPS) hanya melakukan penelitian menyeluruh pada struktur populasi Indonesia sekali setiap dekade.

Hal tersebut mengakibatkan Indonesia akan menghadapi bonus demografi. Bonus demografi adalah kondisi dimana penduduk usia produktif lebih banyak dari pada usia non-produktif. Artinya remaja akan mendominasi populasi penduduk. Rasio jumlah penduduk yang muncul adalah 1:4 yang berarti 1 orang usia produktif dapat menanggung 4 orang usia non-produktif. Prediksi akan fenomena ini akan terjadi dari tahun 2025 hingga 2035.

Semua peserta membaur saat pentas seni dalam gala dinner. Di Youth Center DIY (10/05/2017). (Rahayu Sekar)
Kondisi tersebut akan menjadi berkah jika Indonesia bersiap-siap menyediakan Sumber Daya Manusia (SDM) yang cerdas, terampil, dan handal. Berkaitan dengan hal ini, khususnya Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), mengadakan acara Jambore Kependudukan di Youth Center Yogyakarta (10/05/2017). Ada 12 orang panitia inti dan 20 orang 20 orang  volunteer dari Duta Mahasiswa (Dumas) DIY. Jambore Kependudukan DIY tahun ini dihadiri sebanyak 145 peserta dari berbagai kalangan. Baik dari gologan pelajar SMA, mahasiswa, hingga masyarakat umum.

“Jambore kependudukan ini sangat bermanfaat sekali untuk saya, calon pekerja sosial profesional di bawah Kementrian Sosial Republik Indonesia yang ilmunya bukan hanya berkaitan dengan kependudukan saja, tetapi tentang masalah-masalah kesejahteraan sosial.” Ucap Jaka Ramdani (21), peserta ditambah dengan mahasiswa dari Sekolah Tinggi Kesejahteraan Sosial Bandung (STKS Bandung).

Jaka juga menuturkan bahwa sebenarnya sekarang kita sudah masuk di dalam bonus demografi. Mengenai peran dari remaja, optimalisasi bonus demografi ini adalah cenderung lebih mengarah pada peran remaja sebagai inisiator dan inovator. Dengan menerapkan hal itu, gagasan-gagasan yang belum ada di masyarakat dapat diaplikasikan secara nyata.

Pendapat lain dituturkan Angga Ragil Jiwandhana (20), Anggota Forum Generasi Muda Peduli Kependudukan (FORSADA) sekaligus panitia acara. “Kalau kita tidak menyiapkan sedini mungkin, bonus demografi nanti akan menjadi bencana. Apalagi dengan masalah kependudukan. Sekarang sudah sangat padat, jika remajanya mau menikah dini, dan punya anak, pasti akan menambah penduduk di Indonesia.”

Salah satu tujuan dari jambore yaitu untuk memberikan informasi mengenai kondisi penduduk di Indonesia saat ini, serta agar kita mengerti cara mengatasinya. Pada malam harinya, semua peserta berpenampilan apik dalam gala dinner. Sangat terasa kehangatan dalam kegiatan ini karena pakaian yang dikenakan merupakan pakaian adat dari masing-masing daerah peserta. Pada akhir kegiatan, panitia mengumumkan juara dalam lomba yel-yel, x-banner, Lomba Cerdas Cermat (LCC), best dress code, dan kelompok terbaik.

“Menurut saya, sekarang anak muda lebih kreatif dan inovatif dengan adanya internet dan media sosial. Tapi sisi negatifnya, anak muda sekarang kurang moralnya. Dasar yang paling penting adalah pendidikan. Karena lewat pendidikan kita mendapat perbekalan. Pemerintah sebaiknya memperbaiki sistem pendidikan dan penerapan program Keluarga Berencana (KB) juga sangat penting disosialisasikan untuk mengatur jumlah moralitas.” Ungakp Yulia Nurhayati (20), peserta dari Pusat Informasi dan Konseling Mahasiswa (PIK-M). (Rahayu Sekar Jati)
Diberdayakan oleh Blogger.