Header Ads

Kaum Marjinal dalam Bingkai Foto


Editor : Kristi Utami


Gilang Rifanda berfoto dengan hasil karyanya di Pameran Kota dan Kenangan, Jogja Galery, Yogyakarta (4/4). (JaluRD)
Pameran foto bertajuk Kota dan Kenangan, hasil kolaborasi antara Fotografi Komunikasi (FOTKOM 401) dengan Jurnalistik Fotografi Club (JUFOC) telah usai, pada Selasa malam (4/4) lalu. Banyak karya yang telah disuguhkan. Semuanya memiliki nilai serta keunikan tersendiri. Namun, dari sekian banyak foto yang terpajang di setiap sudut Gedung Jogja Galery, Yogyakarta, ada dua karya yang memiliki makna serta pesan yang kuat.

Foto-foto tersebut adalah buah karya dua fotografer berbakat, Gilang Rifanda dan Andre Wijaya. Secara garis besar, kedua mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi, UPN Veteran Yogyakarta ini menggambarkan tentang  potret kaum-kaum marjinal di Yogyakarta.


Gilang sapaan akrabnya, berfokus pada gambaran masyarakat penyandang disabilitas yang ada di Kecamatan Lendah, Kulonprogo, Yogyakarta. Laki-laki berkacamata ini mengungkapkan, alasannya memilih penyandang disabilitas sebagai obyek foto karena ia ingin menunjukan kepada masyarakat luas bahwa mereka (penyandang disabilitas) juga sama dengan orang normal  pada umumnya.


Selain itu, dia juga ingin membuktikan bahwa dengan keterbatasan fisik, seseorang tetap mampu untuk berjuang dan bertahan hidup. “Kekurangan itu bukan akhir dari kehidupan, justru malah sebagai motivasi untuk terus berjuang,” ungkapnya.


Berbeda dengan Gilang, Andre Wijaya atau biasa dipanggil Andre, memutuskan untuk memotret tentang keseharian waria dalam panggung kabaret yang ada di salah satu rumah makan terkenal di daerah Malioboro. Alasan laki-laki ini memotret obyek tersebut adalah karena ada sisi positif dari kaum waria yang perlu diperhatikan.“Mereka bisa menampilkan hiburan yang menarik dengan sebuah pentas kabaret, jadi jangan hanya berpikiran negatif tentang mereka,” jelas Andre.

Andre Wijaya berfoto dengan hasil karyanya di Pameran Kota dan Kenangan, Jogja Galery, Yogyakarta (4/4). (Jalu RD)
Keunikan pentas kabaret waria di Jogja juga menjadi alasan lain Andre untuk memotret. “Di Indonesia pentas kabaret rutin yang dibawakan oleh waria sepertinya hanya ada di Jogja. Sebenarnya di Bali juga ada tapi itu hanya pentas per event, tidak serutin di Jogja. Jadi menurut saya itu menjadi sisi menariknya,” tutur Andre.



Kendala Memotret


Untuk mendapatkan karya yang bagus, seorang fotografer tentu harus melewati berbagai rintangan yang tidak mudah. Hal tersebut juga dialami oleh Gilang dan Andre. Sebelum akhirnya bias memotret penyandang disabilitas dan para waria, ke dua laki-laki ini mendapatkan beberapa kendala yang pada akhirnya mampu mereka lewati.


Gilang menjelaskan, kendala utama saat memotret penyandang disabilitas di Kulonprogo adalah bahasa.“Karena aku asli Batam dan kurang memahami bahasa Jawa jadi agak susah untuk berkomunikasi dengan mereka yang notabene tidak  terbiasa berbahasa nasional,” jelasnya.


Beruntung, Gilang memiliki seorang teman yang bias berbahasa Jawa. Sehingga dalam setiap sesi memotret, temanya inilah yang menjadi media penghantar komunikasi.


Andre juga mendapat kendala untuk memotret para kabaret waria. “Awalnya sempat terjadi masalah di perizinan, aku sempat tidak bawa surat ijin memotret, jadi  hanya bisa jadi penonton biasa,”jelasnya.


Namun, setelah menghubungi manajer dari para waria ini, akhirnya Andre dapat memotret secara langsung dan lebih dekat.


Membuka Pemahaman Baru


Beberapa hari berinteraksi langsung dengan kaum-kaum yang terpinggirkan, membuka pemahaman baru bagi Gilang dan Andre  untuk lebih menghargai sesama.


Gilang berujar, bahwa makna yang dapat diaambil tatkala  mengenal orang-orang yang terkadang tidak dianggap dalam masyarakat ini begitu banyak. Namun, satu yang pasti dia menjadi lebih menghargai sesama dan lebih bersyukur dengan apa yang dia dapatkan sekarang.


Hal senada juga diungkapkan oleh Andre. Laki-laki yang kini tengah menyusun skripsi ini menjadi lebih menghormati dan memahami kondisi kaum marjinal. “Jangan anggap sebelah mata lagi mereka (waria). Mereka juga bisa berkarya dan harusnya bisa diterima masyarakat,” pungkasnya. (JaluRD)
Diberdayakan oleh Blogger.