Header Ads

Pendidikan Sebagai Lahan Bisnis

Ilustrasi Pendidikan dan Bisnis. Sumber : http://feb.unlam.ac.id/
Yogyakarta, SIKAP – (13/4) Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Yogyakarta kembali mengadakan diskusi dengan tema Pendidikan Sebagai Lahan Bisnis.
Dalam diskusi interaktif ini juga dihadiri Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan beberapa anggotanya, serta Ketua Forum Mahasiswa Yogyakarta dari Universitas Negeri Yogyakarta, Wahyu Achbar, dan beberapa mahasiswa Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga.

Dewa selaku ketua BEM FISIP UPN”V”YK menyampaikan bahwa kegiatan diskusi ini merupakan kegiatan yang rutin dilakukan dua minggu sekali. Diskusi ini dibuka oleh Alfan yang sekaligus menjadi pemantik isu dalam diskusi ini, Alfan merupakan perwakilan dari KOMIK FISIP UPN”V”YK.

Tema pendidikan yang kali ini diangkat bertujuan agar peserta diskusi bisa melihat bagaimana keadaan pendidikan di Indonesia saat ini.“Karena kita sebagai mahasiswa yang berkecimpung pada dunia pendidikan, kita juga harus kritis dengan keadaan pendidikan saat ini”, ungkap Dewa.

Pendidikan Indonesia saat ini masih sangat jauh dari apa yang diharpakan oleh masyarakat khususnya masyarakat kelas menengah kebawah. Janji pemerintah untuk membebaskan biaya dan wajib sekolah Sembilan tahun dirasa masih kurang optimal, pasalnya masih banyak masyarakat yang tinggal di pelosok ngeri ini masih sulit untuk mendapatkan hak pendidikkannya. “Pendidikkan sekarang udah berubah fungsi menjadi layanan jasa, sehingga mau tidak mau harus bayar”, jelas Dewa. Pada dasarnya, pendidikan merupakan hak dasar warga negara yang harus dipenuhi oleh pemerintah sehingga hak dasar ini seharunya menjadi perhatian penting bagi pemerintah.

Dalam rancangan APBN sendiri, dunia pendidikan hanya mendapat 20% dari semua total anggaran tersebut. Hal ini tentunya membuat pemerintah kewalahan untuk memberi perhatian lebih pada dunia pendidikan. “Posisi pemerintah yang seperti ini akhirnya dimanfaatkan oleh investor-investor untuk memenuhi kebutuhan pendidikan masyarakat Indonesia”, ungkap Wahyu disela-sela diskusi.

Tingginya kebutuhan pendidikan di masyarakat membuat pemerintah semakin tertekan sehingga kehadiran investor-investor ini menjadi peluang bagi pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan pendidikan ini. “Yang sekolah saat ini hanya orang-orang yang berkecukupan, orang miskin bisa apa?”, tambah Wahyu.

Dalam kesempatan diskusi ini Wahyu mengharapkan agar peserta yang mengikuti diskusi ini minimal bisa memahami tentang isu pendidikan yang saat ini sedang terjadi. “Pendidikan itu memang dasar yang kompleks, kebutuhan seluruh masyarakat dan gak jauh dari realita, perlu ada perubahan”, ungkapnya.

Terlepas dari itu semua, Dewa berharap dengan adanya diskusi ini kita sebagai mahasiswa harus peka dan kritis dengan suatu masalah, sehingga tidak perlu menunggu sesuatu untuk memunculkan rasa peka tersebut. “Diskusi sendiri merupakan tahapan kedua dalam membicarakan permasalahan, dari diskusi kita bisa melihat seberapa jauh permasalahan yang sedang terjadi”. (Muhammad Akbar Samudra)
Diberdayakan oleh Blogger.