Header Ads

Refleksi Setahun Kekerasan Negara, Rakyat Gelar Aksi "Agustus Gelap" di Bundaran UGM

Potret aksi “Agustus Gelap” (sumber Anggun Ayu Olivia)

Yogyakarta, Sikap - Terjadi aksi “Agustus Gelap” di Bundaran UGM sebagai momentum refleksi atas berbagai kekerasan dan tindakan represif yang terjadi selama setahun terakhir pada Jumat (28/8/2026). Aksi ini dilaksanakan sebagai ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan aspirasi serta harapan terhadap kondisi Indonesia pada saat ini dengan rangkaian orasi yang disampaikan serta dilanjutkan dengan prosesi penyalaan lilin dan obor secara simbolis.

Berdasarkan pernyataan Ri sebagai ketua dari komunitas Wakanda (Wadah Komunikasi Antar Driver Aktif), aksi tersebut dilatarbelakangi oleh keinginan untuk melakukan refleksi dari berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini. Ri menyebut bahwa pada periode satu tahun terakhir terdapat banyak korban akibat tindakan otoriter dari pemimpin negeri serta berbagai tindakan represif aparat. 

“Latar belakang utama kita ingin refleksi satu tahun yang lalu, karena di bulan Agustus itu merupakan banyak banget korban-korban dari otoriternya pemimpin negeri, sama represifnya,” ujarnya.

Kegiatan diawali dengan orasi dari warga sipil, kemudian dilanjutkan dengan penyampaian oleh aliansi yang terdiri dari berbagai komunitas. Masing-masing membawa isu yang dirasakan. Salah satunya komunitas Wakanda yang membawa isu terkait kebutuhan akan undang-undang transportasi online. 

Salah seorang peserta aksi berinisial G mengatakan aksi tersebut menjadi upaya untuk mengingat kembali berbagai kekerasan negara yang terjadi selama setahun terakhir. Menurutnya aksi aksi ini juga terjadi untuk memperingati tepat satu tahun tragedi kekerasan kepada Affan Kurniawan selaku teman ojol.  

“Saya melihat aksi ini sebagai upaya untuk mengingat kekerasan negara yang terjadi selama setahun ke belakang, baik kekerasan negara terhadap warga sipil maupun terhadap lingkungan. Selain itu, aksi ini juga untuk menanggapi beberapa isu lainnya yang baru-baru ini terjadi, seperti kebakaran hutan dan ketidakbecusan pemerintah dalam menangani bencana di NTT,” ujarnya.

Berbagai keresahan tersebut kemudian disampaikan melalui rangkaian aksi yang dikemas dalam bentuk doa sebagai simbol harapan bagi Indonesia. Lilin dan obor digunakan dalam kegiatan tersebut.

Potret aksi simbolis penyalaan lilin dan obor (Sumber Romadhon)

Aksi “Agustus Gelap” kemudian ditutup dengan penyampaian enam tuntutan yang tergabung dalam maklumat “Rakyat Memanggil”. Keenam tuntutan tersebut meliputi jaminan kebebasan sipil dan demokrasi, penghentian militerisme dan impunitas, perwujudan kesejahteraan, perlindungan kedaulatan rakyat atas ruang hidup dan sipil, penuntasan penanganan krisis bencana dan pasca bencana, serta penerbitan regulasi bagi pengemudi transportasi online dan kurir. (Aisyah Fitri Amalia, Yaumiedka Vitra Naviry)

Editor: Audrina Rustari


Tidak ada komentar

Diberdayakan oleh Blogger.